Kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani Jadi Titik Pantau Hilal Penentuan Awal Syawal
Gorontalo – Objek wisata Hiu Paus Botubarani, yang terletak di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, kini tidak hanya menjadi destinasi menarik bagi para pecinta alam, tetapi juga dipilih sebagai lokasi strategis untuk pemantauan hilal. Penetapan ini dilakukan oleh Kementerian Agama Provinsi Gorontalo untuk menentukan awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Keberadaan wisata bahari yang ikonik ini menjadi latar belakang unik bagi salah satu metode penting dalam penentuan kalender Islam.
Meskipun bulan Ramadan masih berlangsung, kawasan wisata Hiu Paus Botubarani telah dipadati oleh wisatawan dari berbagai daerah. Antusiasme pengunjung ini menunjukkan daya tarik wisata yang kuat, bahkan di tengah pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi ini dilaporkan terjadi sejak pagi hari, menunjukkan bahwa semangat berwisata masyarakat tidak surut, bahkan menjelang masa libur Idulfitri.
Anton Pakaya, salah satu pengelola kawasan wisata, mengungkapkan bahwa keramaian pengunjung sudah terlihat sejak dini hari. Ia menambahkan bahwa antusiasme wisatawan tetap tinggi meskipun masyarakat sedang menjalankan ibadah puasa. “Ini saja puasa ada yang datang, termasuk saat sudah mau libur ini,” ujarnya, menandakan bahwa aktivitas wisata terus berjalan.
Rukyatul Hilal: Metode Penentuan Awal Bulan Syawal
Kegiatan pemantauan hilal yang akan dilakukan di Botubarani dikenal sebagai rukyatul hilal. Rukyatul hilal adalah metode pengamatan langsung terhadap hilal, yaitu bulan sabit muda pertama yang terlihat di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan Hijriah berjalan. Metode ini merupakan cara tradisional dan fundamental yang digunakan untuk menentukan permulaan bulan dalam kalender Islam, seperti Ramadan, Syawal, atau Dzulhijjah.
Proses rukyatul hilal dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara tradisional, pengamatan dilakukan secara manual menggunakan mata telanjang. Namun, seiring perkembangan teknologi, metode ini juga didukung oleh penggunaan teleskop modern atau teknologi pencitraan canggih untuk meningkatkan akurasi dan kemungkinan terdeteksinya hilal, terutama jika kondisi cuaca kurang mendukung atau hilal terlihat samar.
Meskipun Anton Pakaya belum mengetahui secara pasti detail pelaksanaan rukyatul hilal, ia mengonfirmasi bahwa kawasan Botubarani memang kerap dijadikan lokasi untuk kegiatan semacam ini. “Saya kurang tau, tapi biasanya pasti mereka datang,” imbuhnya. Ia juga menjelaskan bahwa Botubarani bukanlah lokasi baru untuk kegiatan pemantauan hilal, melainkan sudah beberapa kali digunakan pada tahun-tahun sebelumnya. “Sudah sering mereka buat di sini,” jelasnya.
Hingga Kamis jelang siang, belum terlihat kehadiran petugas dari Kementerian Agama maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di lokasi. Anton menduga bahwa para petugas akan mulai berdatangan pada sore hari, menjelang waktu pengamatan yang krusial. Ia juga menambahkan bahwa pada penentuan awal Ramadan lalu, meskipun kegiatan utama pemantauan dipusatkan di IAIN Sultan Amai Gorontalo, tetap ada sebagian kecil petugas yang melakukan pemantauan di Botubarani. “Kemarin awal puasa ada hanya beberapa orang di sini pantau hilal juga,” tambahnya.
Pertimbangan Teknis Pemilihan Botubarani
Kementerian Agama Provinsi Gorontalo secara resmi telah menetapkan kawasan Wisata Hiu Paus Botubarani sebagai salah satu lokasi pemantauan hilal untuk penentuan awal Syawal tahun ini. Ketua Tim Urais Binsyar Kemenag Gorontalo, Safrianto Kaaowan, sebelumnya telah menyampaikan bahwa kegiatan rukyatul hilal akan dilaksanakan di lokasi tersebut pada Kamis (19/3/2026).
Menurut penjelasan Safrianto, pemilihan Botubarani didasarkan pada sejumlah pertimbangan teknis yang sangat mendukung keberhasilan pengamatan hilal. Salah satu faktor utama adalah kondisi geografis kawasan tersebut yang dinilai sangat kondusif. “Pelaksanaan pemantauan di wisata Hiu Paus Botubarani, Desa Botubarani,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa lokasi ini dinilai strategis dari berbagai aspek. Posisi geografisnya yang terbuka dan minimnya hambatan visual memungkinkan proses pengamatan hilal dapat dilakukan secara optimal. Selain itu, kapasitas kawasan wisata yang luas juga dinilai mampu menampung banyak orang, baik dari kalangan petugas maupun masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung. “Tempatnya strategis, sangat memungkinkan untuk pengamatan dan bisa menampung banyak orang,” jelasnya.
Pemantauan hilal awal Syawal di Wisata Hiu Paus Botubarani ini dijadwalkan akan berlangsung pada sore hari, menjelang waktu matahari terbenam. Waktu spesifik yang ditentukan untuk memulai pengamatan adalah mulai pukul 17.15 Wita.
Secara keseluruhan, Kementerian Agama telah menetapkan sebanyak 117 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia untuk menentukan awal Syawal 1447 Hijriah. Kegiatan ini merupakan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Kantor Wilayah Kementerian Agama di setiap provinsi, instansi pemerintah daerah, Pengadilan Agama, serta berbagai organisasi kemasyarakatan Islam yang memiliki peran penting dalam proses kalender hijriah.



















