Mulyadi, Sang Pemudik Pemberani: Nekat Dua Hari Tak Tidur Demi Bawa THR Rp 50 Juta ke Kampung Halaman
Perjalanan mudik selalu menyimpan cerita unik dan tak terduga. Salah satunya adalah kisah Mulyadi (63), seorang pemudik asal Jakarta yang rela menempuh perjalanan jauh ke Sumatera Barat dengan membawa bekal istimewa: Tunjangan Hari Raya (THR) senilai Rp 50 juta. Pengorbanannya tidak main-main, ia bahkan rela tidak tidur selama dua hari demi memastikan mobil yang dikendarainya tiba dengan selamat di kampung halaman.
Mulyadi, dengan semangat yang membara, memulai perjalanannya dari Kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Kendaraannya, sebuah Mitsubishi Xpander, tidak hanya mengangkut dirinya, tetapi juga lima anggota keluarganya yang lain. Rombongan ini terdiri dari istri keponakannya, tiga orang cucu, dan satu keponakannya. Total enam orang dalam satu mobil, dengan Mulyadi sebagai satu-satunya pengemudi. “Ada enam orang di mobil. Saya yang nyetir sendiri. Alhamdulillah lancar,” ungkap Mulyadi dengan rasa syukur saat ditemui di pelataran Masjid Annur Syukur.
Perjalanan Mulyadi dimulai dengan mulus. Ia tiba di Pelabuhan Merak sekitar tengah malam, tepatnya pukul 00.00 WIB. Setelah menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, ia melanjutkan perjalanan dan tiba di tujuan pada pukul 02.00 WIB dini hari. Pengalamannya merantau ke Jakarta sejak tahun 1990 dan berkarier di bidang ekspedisi pakaian membuatnya sangat menguasai berbagai jalur alternatif di Sumatera. Kemampuan ini menjadi bekal berharga untuk menghindari kemacetan yang kerap menghantui para pemudik.
Uang Tunai Rp 50 Juta: Simbol Kebahagiaan dan Berbagi Rezeki
Lebih dari sekadar fisik yang prima dan pengalaman berkendara, Mulyadi juga telah mempersiapkan “bekal” lain yang tak kalah penting: uang tunai senilai Rp 50 juta. Dana ini bukan untuk keperluan pribadinya, melainkan untuk dibagikan kepada keluarga besar di kampung halaman. Mulyadi memiliki tradisi rutin untuk membawa sejumlah uang tunai yang cukup besar setiap kali pulang kampung menjelang hari raya.
“Kalau pulang kampung pas Lebaran, paling sedikit Rp 50 juta saya bawa. Buat THR cucu, ponakan, bantu saudara, sampai traktir kawan di lapau,” jelas Mulyadi. Baginya, berbagi rezeki di kampung halaman memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia meyakini bahwa kebiasaan berbagi ini tidak akan membuatnya merugi, justru akan mendatangkan doa-doa baik dari orang-orang di kampung halaman yang akan terus mengalir untuknya. “Alhamdulillah, berbagi itu tidak rugi. Doa dari orang kampung itu yang mengalir ke kita,” tambahnya.

Mulyadi, yang berasal dari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, memiliki harapan besar untuk tiba di kampung halaman tepat waktu. Ia ingin merasakan kemeriahan malam takbiran bersama keluarga. Tradisi menyantap ketupat dan bersilaturahmi adalah momen-momen yang paling dirindukannya setelah setahun penuh bekerja keras di ibu kota.
Tantangan Perjalanan Mudik dan Makna di Baliknya
Perjalanan Jakarta-Sumatera bukanlah perjalanan yang singkat. Membutuhkan waktu berhari-hari dan persiapan matang. Bagi Mulyadi, keputusan untuk menyetir sendiri selama berjam-jam, bahkan tanpa tidur, menunjukkan dedikasi dan kecintaannya pada keluarga serta tradisi mudik. Kelelahan fisik yang dialaminya adalah pengorbanan demi kebahagiaan yang lebih besar: berkumpul kembali dengan orang-orang terkasih dan menyebarkan kebahagiaan melalui berbagi THR.
- Persiapan Fisik dan Mental:
- Mulyadi memastikan dirinya dalam kondisi fisik yang prima untuk mengemudi jarak jauh.
- Ia juga secara mental siap menghadapi tantangan perjalanan, termasuk kemungkinan kemacetan atau kendala lainnya.
- Logistik Perjalanan:
- Pemilihan kendaraan yang tepat, seperti Mitsubishi Xpander yang nyaman untuk keluarga.
- Perencanaan rute, termasuk memanfaatkan jalur alternatif yang sudah dikuasainya.
- Persiapan dana yang memadai untuk kebutuhan selama perjalanan dan untuk dibagikan.
- Makna Budaya dan Spiritual:
- Mudik sebagai tradisi penting dalam budaya Indonesia, khususnya untuk merayakan hari raya.
- Berbagi THR sebagai bentuk kepedulian dan mempererat tali silaturahmi.
- Keyakinan bahwa berbagi rezeki akan mendatangkan keberkahan dan doa baik.
Kisah Mulyadi menjadi pengingat bahwa di balik hiruk pikuk persiapan mudik, terdapat cerita tentang pengorbanan, cinta keluarga, dan nilai-nilai luhur yang terus dijaga. Semangatnya untuk pulang dan berbagi kebahagiaan menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bahwa perjalanan jauh pun dapat dijalani dengan penuh makna dan sukacita.


















