Taktik “Kapal Zombie” Muncul di Selat Hormuz, Mengelabui Sistem Pelacakan

Sebuah insiden maritim yang membingungkan baru-baru ini terjadi di perairan strategis Selat Hormuz. Sebuah kapal yang diduga menggunakan identitas palsu terdeteksi keluar dari selat tersebut pada Jumat pagi, 19 Maret waktu setempat. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kapal tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang sah. Namun, kejanggalan muncul ketika pelaku pasar dan laporan dari agen pelabuhan mengungkapkan bahwa kapal yang sama sebelumnya dilaporkan telah ‘terdampar’ di sebuah galangan pembongkaran di India pada Oktober tahun lalu, dengan tujuan akhir untuk dibongkar.
Fenomena ini mengarah pada dugaan penggunaan taktik “kapal zombie”, yaitu kapal yang beroperasi dengan menggunakan identitas kapal lain yang sudah tidak aktif atau pensiun. Kejadian ini menandai pertama kalinya taktik semacam itu diketahui digunakan untuk melintasi Selat Hormuz sejak konflik terbaru dimulai. Lalu lintas di selat yang vital ini saat ini sangat terbatas akibat serangan dan ancaman yang terus meningkat dari Iran, menjadikannya zona berisiko tinggi bagi pelayaran internasional.
Meskipun demikian, pihak terkait belum dapat memastikan secara definitif identitas kapal “zombie” yang melintasi selat tersebut. Masih ada ketidakpastian apakah kapal tersebut benar-benar kapal pengangkut LNG atau jenis kapal lain yang menggunakan identitas palsu.
Perjalanan Misterius Kapal “Kembaran” Jamal
Kapal yang diduga sebagai “kembaran” dari kapal bernama Jamal ini baru mulai memancarkan identitas barunya pada pekan lalu. Sebelumnya, keberadaannya tidak diketahui oleh sistem pelacakan. Saat pertama kali terdeteksi pada 13 Maret, kapal tersebut dilaporkan sedang menuju Sohar di Oman dan berada di Teluk Oman.

Setelah sempat berhenti mengirimkan sinyal lokasinya, kapal tersebut kembali muncul pada 20 Maret di Teluk Persia, dekat Sharjah, Uni Emirat Arab. Kali ini, kapal tersebut tidak mencantumkan tujuan yang jelas. Sinyal lokasi terakhir yang dikirimkan berasal dari perairan lepas pantai tenggara Iran pada Jumat malam.
Penggunaan kapal “zombie” sebenarnya bukanlah hal baru dalam perdagangan minyak yang terkena sanksi. Namun, penerapannya untuk melintasi Selat Hormuz menunjukkan adanya metode baru yang dikembangkan oleh kapal-kapal yang berusaha keluar dari wilayah yang bergejolak ini. Yang cukup tidak biasa adalah keterlibatan kapal LNG dalam praktik semacam ini. Mengingat kapal LNG adalah jenis kapal yang sangat spesifik dan jumlahnya terbatas, keterlibatannya dalam perdagangan gelap seperti ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. Perdagangan LNG gelap sejauh ini sebagian besar dikaitkan dengan penjualan gas Rusia ke China.
Upaya Keluar dari Zona Risiko Tinggi
Selain kapal-kapal yang diduga terkait dengan Iran, hanya segelintir kapal yang diizinkan melintas keluar dari Selat Hormuz. Diduga kuat, kapal-kapal ini telah memperoleh persetujuan khusus dari Teheran. Negara-negara seperti Turki dan India telah mengumumkan bahwa mereka telah melakukan negosiasi dengan Iran untuk memungkinkan sebagian kapal mereka keluar dari kawasan tersebut. Kantor berita Kyodo dari Jepang juga melaporkan bahwa Iran bersedia memberikan izin kepada kapal-kapal yang terkait dengan Jepang untuk melintas.

Beberapa kapal yang berhasil keluar dari selat juga dilaporkan mematikan sinyal transmisi mereka sebagai langkah keamanan di tengah meningkatnya ketegangan. Selain itu, gangguan elektronik yang signifikan di kawasan tersebut turut memperumit sistem pelacakan kapal, yang berpotensi memalsukan posisi sebenarnya dari kapal-kapal yang beroperasi di sana.
Berdasarkan data dari basis data internasional Equasis, pengelola kapal yang diduga terlibat dalam insiden ini, yaitu kapal Jamal, adalah Resurgence Ship Management Pvt. yang berlokasi di Mumbai. Hingga berita ini ditulis, perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirimkan melalui email di luar jam kerja. Pemilik kapal, Liner Shipping Inc., tidak memiliki detail kontak yang tersedia, namun menggunakan alamat terdaftar yang sama dengan Resurgence Ship Management, menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai struktur kepemilikan dan operasional kapal tersebut.



















