Mohamed Salah Umumkan Akan Tinggalkan Liverpool di Akhir Musim 2025-2026
Penyerang bintang Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, secara resmi mengumumkan keputusannya untuk meninggalkan klub berjuluk The Reds tersebut pada akhir musim 2025-2026. Pengumuman yang mengejutkan ini disampaikan melalui sebuah pesan video emosional yang diunggah di akun media sosialnya, mengakhiri spekulasi yang telah beredar mengenai masa depannya di Anfield.
Pemain berusia 33 tahun ini, yang bergabung dengan Liverpool dari AS Roma pada Juni 2017, menyatakan bahwa keputusannya ini merupakan bagian pertama dari sebuah perpisahan. “Sayangnya, hari itu telah tiba. Ini adalah bagian pertama dari perpisahan saya,” ungkap Salah dalam video tersebut. “Saya akan meninggalkan Liverpool pada akhir musim.”
Keputusan ini muncul meski Salah baru saja menandatangani kontrak baru berdurasi dua tahun dengan Liverpool pada April 2025. Namun, ia akan hengkang dengan status bebas transfer. Klub telah menyatakan bahwa kesepakatan mengenai masa depan pemain andalannya ini telah tercapai.
Perjalanan Emosional di Merseyside
Salah tidak menyembunyikan kedalaman perasaannya terhadap klub dan kota Liverpool. Ia mengungkapkan bahwa waktunya di Merseyside telah meninggalkan jejak yang sangat signifikan dalam hidupnya, melewati berbagai momen penting, termasuk pandemi Covid-19 dan yang terbaru, kehilangan rekan setimnya, Diogo Jota.
“Saya tidak pernah membayangkan betapa dalamnya klub ini, kota ini, orang-orang ini akan menjadi bagian dari hidup saya,” ujar Salah. “Liverpool bukan hanya klub sepakbola. Ini adalah gairah. Ini adalah sejarah. Ini adalah semangat.”
Ia menambahkan, “Saya tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata kepada siapa pun yang bukan bagian dari klub ini. Kami merayakan kemenangan. Kami memenangkan trofi terpenting dan kami berjuang bersama melewati masa-masa tersulit dalam hidup kami.”
Salah juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang terlibat selama masa baktinya di klub. “Saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang menjadi bagian dari klub ini selama saya berada di sini, terutama rekan-rekan setim, baik yang dulu maupun sekarang,” katanya.
Statistik Gemilang dan Warisan di Anfield
Selama sembilan tahun membela Liverpool, Mohamed Salah telah menjadi pilar utama dalam kebangkitan kejayaan klub di kancah domestik maupun Eropa. Ia berperan krusial dalam membawa The Reds meraih:
- Dua gelar Premier League
- Satu gelar Liga Champions
- Satu gelar Piala Dunia Antarklub FIFA
- Satu gelar Piala Super UEFA
- Satu gelar Piala FA
- Dua gelar Piala EFL
- Satu gelar Community Shield
Dengan torehan 255 gol dalam 435 penampilan untuk Liverpool, Salah menempatkan dirinya di posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub. Ia hanya kalah dari dua legenda, Ian Rush (346 gol) dan Roger Hunt (285 gol).
Prestasi individu Salah juga tak kalah mengagumkan. Ia berhasil meraih Sepatu Emas Liga Premier sebanyak empat kali dan dianugerahi Pemain Terbaik Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 2018, 2022, dan 2025.
Dukungan yang tak henti-hentinya dari para penggemar Liverpool menjadi salah satu hal yang paling berharga bagi Salah. Ia mengakui bahwa para penggemar telah menunjukkan kepadanya “masa-masa terbaik dalam kariernya” dan juga “mendukungnya di masa-masa tersulit”.
“Ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan dan sesuatu yang akan selalu saya bawa. Meninggalkan klub tidak pernah mudah,” ucap Salah. “Kalian memberi saya masa-masa terbaik dalam hidup saya, saya akan selalu menjadi bagian dari kalian. Klub ini akan selalu menjadi rumah saya, bagi saya dan keluarga saya. Terima kasih untuk semuanya. Karena kalian semua, saya tidak akan pernah berjalan sendirian.”
Tanggapan Klub dan Analisis Masa Depan
Liverpool merilis pernyataan resmi yang mengakui bahwa masa sembilan tahun Mohamed Salah di Anfield merupakan sebuah babak yang luar biasa. Klub berjanji akan menunjukkan apresiasi mereka secara penuh di kemudian hari.
“Dengan masih banyak yang harus diperjuangkan musim ini, Salah fokus untuk mencoba mencapai hasil terbaik bagi Liverpool,” tambah klub. “Oleh karena itu, waktu untuk sepenuhnya merayakan warisan dan prestasinya akan menyusul di akhir tahun ketika ia mengucapkan selamat tinggal kepada Anfield.”
Saat ini, Liverpool masih bersaing di papan atas klasemen Liga Premier dan akan menghadapi beberapa pertandingan penting di berbagai kompetisi. Keputusan Salah ini diharapkan tidak mengurangi fokus tim dalam mengakhiri musim dengan gemilang.
Beberapa pandangan dari mantan pemain dan pengamat sepak bola turut mewarnai pemberitaan ini. Bek Liverpool terdahulu, Stephen Warnock, menyamakan situasi ini dengan pengumuman mengejutkan dari mantan pelatih Jurgen Klopp yang akan meninggalkan klub pada Januari 2024.
“Hal itu hampir di luar kendali klub karena cara mereka menanganinya,” kata Warnock. “Ketika Klopp mengumumkan kepergiannya, setiap pertandingan menjadi meriah, semua orang ingin datang ke pertandingan dan menonton. Mereka tidak mengakhiri musim seperti yang mereka inginkan dengan akhir yang seperti dongeng. Jika Salah mampu melakukan itu dan mencapai final Liga Champions serta memenangkan final tersebut, akan sangat menarik untuk dilihat.”
Warnock juga menyinggung potensi kerugian finansial yang mungkin dihadapi Liverpool jika tidak menjual Salah, dibandingkan dengan penghematan gaji yang signifikan, yang dilaporkan sekitar £400.000 per minggu.
Sementara itu, John Gibbons dari podcast The Anfield Wrap berpendapat bahwa meskipun ada kejutan dan kesedihan di kalangan penggemar, keputusan ini mungkin merupakan yang terbaik untuk semua pihak. “Jika Anda berpikir dengan kepala daripada hati, mungkin ini adalah hal terbaik untuk semua orang,” ujarnya. “Dia adalah pemain dengan bayaran tertinggi kami, dan dia menerima gaji yang sangat besar, tetapi dia tidak memberikan hasil yang diharapkan, dan itu akan menyakitinya.”
Gibbons menambahkan bahwa penggemar Liverpool sangat mencintai Salah, dan diskusi mengenai dirinya setelah kepergiannya akan selalu berfokus pada kebahagiaan yang telah ia bawa. Ia merasakan bahwa setiap kali Salah melangkah ke lapangan, ia merasakan cinta, kekaguman, dan dukungan dari para pendukung.



