Di Tepi Kanal Amsterdam: Menemukan Esensi Islam di Negeri Kincir Angin

Berdiri di tepi kanal Amsterdam, pemandangan barisan sepeda yang tertata rapi tanpa gembok yang berlebihan langsung menyambut. Setiap langkah menyusuri jalanan sempit yang diapit bangunan klasik nan kokoh dengan dominasi bata merah, menyajikan ketenangan yang berbeda. Di sini, keheningan yang terasa bukanlah kekosongan, melainkan jeda dari kebisingan yang sering kali kita jumpai di tanah air. Suara azan tidak bersahutan dari pengeras suara, dan simbol-simbol religius yang mencolok jarang terlihat di setiap sudut. Anehnya, justru dalam kesepian atribut inilah, kehadiran ‘Islam’ terasa begitu lekat, terpancar melalui keteraturan dan rasa saling percaya yang mendalam, sebuah kerinduan yang sering kali terucap saat berada di kampung halaman.
Paradoks Kejujuran dan Keadilan Sosial
Sebuah paradoks yang menyesakkan dada muncul ketika merenungi kenyataan ini. Di negeri yang memisahkan urusan Tuhan dari urusan negara, nilai-nilai kejujuran, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap alam justru mendarah daging. Berbeda dengan tanah asal, di mana agama diagungkan dalam setiap pidato dan tercantum di setiap kartu identitas, nilai-nilai fundamental tersebut sering kali tersisihkan oleh formalitas yang kosong. Muncul pertanyaan reflektif: benarkah kita selama ini terlalu sibuk merawat ‘kulit’ agama, sementara negeri kincir angin ini diam-diam telah memungut dan menghidupkan ‘isinya’?
Kejujuran: Lebih dari Sekadar Ketiadaan Dosa
Ketika berbicara tentang kejujuran di Belanda, penting untuk dipahami bahwa ini bukanlah sebuah utopia tanpa dosa. Jangan terkejut jika suatu pagi Anda mendapati sepeda kesayangan raib di pinggiran kanal Amsterdam. Pencurian sepeda, meskipun menjadi fenomena yang lazim, justru menjadi titik tolak perenungan yang lebih dalam.

Mengapa di negeri dengan tingkat pencurian sepeda yang tergolong tinggi ini, indeks persepsi korupsinya justru menduduki peringkat teratas dunia? Jawabannya terletak pada pemisahan yang jelas antara kriminalitas jalanan yang bersifat individual dengan integritas sistemik yang dibangun oleh negara. Di Belanda, Anda mungkin perlu ekstra waspada saat mengunci sepeda, namun Anda tidak perlu khawatir harus menyuap atau ‘menyelipkan amplop’ hanya untuk mengurus izin usaha. Hak-hak dasar tidak akan tergerus oleh birokrasi yang korup, dan keadilan hukum tidak hanya berpihak pada mereka yang berkantong tebal.
Kontras ini sungguh mengusik nurani. Di banyak negara mayoritas Muslim, kita mungkin sangat mengutuk pencuri sandal di masjid, namun di saat yang sama, praktik gratifikasi dan nepotisme yang daya rusaknya jauh lebih masif daripada sekadar kehilangan sebuah sepeda, sering kali kita diamkan. Islam mengajarkan bahwa kejujuran adalah fondasi iman. Di Belanda, kejujuran itu terwujud dalam bentuk social trust yang tinggi. Toko-toko kecil kerap membiarkan dagangannya di luar tanpa pengawasan ketat, karena mereka percaya pada sistem. Sebaliknya, di tanah air, kita sering kali membangun pagar tinggi dan memasang ribuan CCTV, namun tetap merasa tidak aman karena fondasi kejujuran di hati telah lama keropos oleh sistem yang korup.
Harmoni dengan Alam: Bukti Nyata Penghormatan
Dinginnya angin yang menusuk tulang tak pernah sanggup menyurutkan semangat penduduk Belanda dalam merawat kebun dan taman. Mereka menjadikan ruang hijau sebagai jantung kota, sebuah penghormatan nyata pada alam yang membuat setiap sudut negeri ini terasa teduh dan indah.

Namun, ada satu fakta yang terasa seperti tamparan halus: Bunga Tulip. Dunia mengenalnya sebagai ikon abadi Belanda, padahal sejatinya ia adalah pengembara dari Turki, dari jantung peradaban Islam. Fenomena Tulip ini seolah menjadi alegori bagi kegelisahan yang dirasakan selama di sana. Sebagaimana Tulip yang dibawa dari Timur, lalu dirawat dengan ketekunan luar biasa hingga mekar sempurna di tanah Barat, mungkinkah nilai-nilai luhur Islam—tentang kebersihan, keteraturan, dan penghormatan pada semesta—juga mengalami nasib yang sama? Nilai-nilai itu seakan ‘dipinjam’ dari akarnya di Timur, lalu disiram dengan disiplin serta dirawat dengan integritas di sini, hingga akhirnya kita lupa bahwa benihnya sebenarnya berasal dari rumah kita sendiri.
Menjaga Identitas: Pelajaran dari Jembatan Kuno
Keindahan Belanda bukan sekadar tentang apa yang baru dibangun, melainkan juga tentang apa yang mati-matian mereka pertahankan. Lihatlah jembatan-jembatan di Reguliersgracht. Di sana, tujuh jembatan yang dibangun pada abad ke-17 berdiri berjejer lurus, menciptakan perspektif yang membuat siapa pun tertegun.
Tahukah Anda? Jembatan-jembatan ikonik ini nyaris rata dengan tanah ketika pemerintah sempat berniat membongkarnya demi modernisasi. Namun, rakyatnya berdiri tegak, melakukan protes besar-besaran demi menjaga sepotong sejarah itu. Mereka memenangkan pertarungan itu. Kini, ‘Seven Bridges’ bukan hanya situs warisan dunia, melainkan juga simbol dari sebuah bangsa yang menolak menjadi ‘FOMO’ (Fear of Missing Out). Mereka tidak silau dengan tren arsitektur yang sedang booming belakangan ini hanya demi terlihat modern. Bagi mereka, identitas adalah harga mati untuk membangun sebuah peradaban yang kokoh.

Di sini, refleksi kembali mengemuka. Bukankah Islam juga mengajarkan kita untuk menjaga ‘sanad’ dan akar? Namun, mengapa di banyak negeri Muslim, kita begitu mudah merobohkan bangunan bersejarah, mengganti kearifan lokal dengan gaya hidup impor yang asing, hingga kehilangan jati diri demi mengejar label ‘modern’? Kita sering kali sibuk bersolek dengan wajah orang lain, sementara di negeri kincir ini, kita belajar bahwa peradaban yang besar tidak dibangun di atas reruntuhan identitasnya, tetapi di atas kesetiaan menjaga akarnya.
Tulisan ini tentu tidak lahir dari niat untuk mencela tanah air sendiri, tidak pula untuk merendahkan negara-negara Muslim lainnya demi memuja Barat secara buta. Jauh dari itu, catatan ini adalah sebuah cermin kecil untuk berefleksi, bukan penghakiman. Kita perlu sadar bahwa menghidupkan Islam tidak berarti sekadar memperbanyak ornamen, tetapi juga menghidupkan ruhnya dalam setiap tarikan nafas birokrasi, ketulusan berniaga, dan kebersihan ruang publik.
Pada akhirnya, perjalanan menelusuri nilai Islam di negeri kincir angin ini menyisakan sebuah tanya yang getir: Jika kejujuran telah menjadi sistem, keadilan sosial telah menjadi hak yang nyata, dan alam dirawat layaknya amanah suci, bukankah mereka sedang mempraktikkan Islam tanpa perlu menyebut namanya?
Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari keriuhan simbolis dan perdebatan label yang melelahkan. Belanda telah menunjukkan bahwa peradaban yang besar tidak dibangun dari seberapa keras kita meneriakkan identitas, tetapi dari seberapa setia kita menghidupkan nilai-nilai luhur di dalamnya.
Kita punya benihnya, kita punya kitabnya, dan kita punya sejarahnya. Namun, jika kita terus membiarkan benih itu kering di tanah sendiri sementara ia mekar sempurna di tanah orang lain, barangkali yang kita miliki selama ini hanyalah ‘bungkus’ tanpa isi.
Pertanyaannya sekarang: Maukah kita memulangkan Islam ke dalam perilaku kita, atau kita cukup puas hanya dengan bangga memegang ‘KTP’ agama, sementara ruhnya telah lama berkelana mencari rumah yang lebih menghargainya?



















