• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Liputan Khusus Human Interest

Islam di Amsterdam: Benih Kita Mekar di Tanah Asing

Hidayat by Hidayat
29 Maret 2026 - 07:43
in Human Interest
0

Di Tepi Kanal Amsterdam: Menemukan Esensi Islam di Negeri Kincir Angin


Berdiri di tepi kanal Amsterdam, pemandangan barisan sepeda yang tertata rapi tanpa gembok yang berlebihan langsung menyambut. Setiap langkah menyusuri jalanan sempit yang diapit bangunan klasik nan kokoh dengan dominasi bata merah, menyajikan ketenangan yang berbeda. Di sini, keheningan yang terasa bukanlah kekosongan, melainkan jeda dari kebisingan yang sering kali kita jumpai di tanah air. Suara azan tidak bersahutan dari pengeras suara, dan simbol-simbol religius yang mencolok jarang terlihat di setiap sudut. Anehnya, justru dalam kesepian atribut inilah, kehadiran ‘Islam’ terasa begitu lekat, terpancar melalui keteraturan dan rasa saling percaya yang mendalam, sebuah kerinduan yang sering kali terucap saat berada di kampung halaman.

Paradoks Kejujuran dan Keadilan Sosial

Sebuah paradoks yang menyesakkan dada muncul ketika merenungi kenyataan ini. Di negeri yang memisahkan urusan Tuhan dari urusan negara, nilai-nilai kejujuran, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap alam justru mendarah daging. Berbeda dengan tanah asal, di mana agama diagungkan dalam setiap pidato dan tercantum di setiap kartu identitas, nilai-nilai fundamental tersebut sering kali tersisihkan oleh formalitas yang kosong. Muncul pertanyaan reflektif: benarkah kita selama ini terlalu sibuk merawat ‘kulit’ agama, sementara negeri kincir angin ini diam-diam telah memungut dan menghidupkan ‘isinya’?

Kejujuran: Lebih dari Sekadar Ketiadaan Dosa

Ketika berbicara tentang kejujuran di Belanda, penting untuk dipahami bahwa ini bukanlah sebuah utopia tanpa dosa. Jangan terkejut jika suatu pagi Anda mendapati sepeda kesayangan raib di pinggiran kanal Amsterdam. Pencurian sepeda, meskipun menjadi fenomena yang lazim, justru menjadi titik tolak perenungan yang lebih dalam.

Baca Juga  Pelecehan Lansia di KRL: Kilas Balik


Mengapa di negeri dengan tingkat pencurian sepeda yang tergolong tinggi ini, indeks persepsi korupsinya justru menduduki peringkat teratas dunia? Jawabannya terletak pada pemisahan yang jelas antara kriminalitas jalanan yang bersifat individual dengan integritas sistemik yang dibangun oleh negara. Di Belanda, Anda mungkin perlu ekstra waspada saat mengunci sepeda, namun Anda tidak perlu khawatir harus menyuap atau ‘menyelipkan amplop’ hanya untuk mengurus izin usaha. Hak-hak dasar tidak akan tergerus oleh birokrasi yang korup, dan keadilan hukum tidak hanya berpihak pada mereka yang berkantong tebal.

Kontras ini sungguh mengusik nurani. Di banyak negara mayoritas Muslim, kita mungkin sangat mengutuk pencuri sandal di masjid, namun di saat yang sama, praktik gratifikasi dan nepotisme yang daya rusaknya jauh lebih masif daripada sekadar kehilangan sebuah sepeda, sering kali kita diamkan. Islam mengajarkan bahwa kejujuran adalah fondasi iman. Di Belanda, kejujuran itu terwujud dalam bentuk social trust yang tinggi. Toko-toko kecil kerap membiarkan dagangannya di luar tanpa pengawasan ketat, karena mereka percaya pada sistem. Sebaliknya, di tanah air, kita sering kali membangun pagar tinggi dan memasang ribuan CCTV, namun tetap merasa tidak aman karena fondasi kejujuran di hati telah lama keropos oleh sistem yang korup.

Harmoni dengan Alam: Bukti Nyata Penghormatan

Dinginnya angin yang menusuk tulang tak pernah sanggup menyurutkan semangat penduduk Belanda dalam merawat kebun dan taman. Mereka menjadikan ruang hijau sebagai jantung kota, sebuah penghormatan nyata pada alam yang membuat setiap sudut negeri ini terasa teduh dan indah.


Namun, ada satu fakta yang terasa seperti tamparan halus: Bunga Tulip. Dunia mengenalnya sebagai ikon abadi Belanda, padahal sejatinya ia adalah pengembara dari Turki, dari jantung peradaban Islam. Fenomena Tulip ini seolah menjadi alegori bagi kegelisahan yang dirasakan selama di sana. Sebagaimana Tulip yang dibawa dari Timur, lalu dirawat dengan ketekunan luar biasa hingga mekar sempurna di tanah Barat, mungkinkah nilai-nilai luhur Islam—tentang kebersihan, keteraturan, dan penghormatan pada semesta—juga mengalami nasib yang sama? Nilai-nilai itu seakan ‘dipinjam’ dari akarnya di Timur, lalu disiram dengan disiplin serta dirawat dengan integritas di sini, hingga akhirnya kita lupa bahwa benihnya sebenarnya berasal dari rumah kita sendiri.

Baca Juga  Jeje Terperosok Lumpur: Tinjau Longsor Bandung Barat

Menjaga Identitas: Pelajaran dari Jembatan Kuno

Keindahan Belanda bukan sekadar tentang apa yang baru dibangun, melainkan juga tentang apa yang mati-matian mereka pertahankan. Lihatlah jembatan-jembatan di Reguliersgracht. Di sana, tujuh jembatan yang dibangun pada abad ke-17 berdiri berjejer lurus, menciptakan perspektif yang membuat siapa pun tertegun.

Tahukah Anda? Jembatan-jembatan ikonik ini nyaris rata dengan tanah ketika pemerintah sempat berniat membongkarnya demi modernisasi. Namun, rakyatnya berdiri tegak, melakukan protes besar-besaran demi menjaga sepotong sejarah itu. Mereka memenangkan pertarungan itu. Kini, ‘Seven Bridges’ bukan hanya situs warisan dunia, melainkan juga simbol dari sebuah bangsa yang menolak menjadi ‘FOMO’ (Fear of Missing Out). Mereka tidak silau dengan tren arsitektur yang sedang booming belakangan ini hanya demi terlihat modern. Bagi mereka, identitas adalah harga mati untuk membangun sebuah peradaban yang kokoh.


Di sini, refleksi kembali mengemuka. Bukankah Islam juga mengajarkan kita untuk menjaga ‘sanad’ dan akar? Namun, mengapa di banyak negeri Muslim, kita begitu mudah merobohkan bangunan bersejarah, mengganti kearifan lokal dengan gaya hidup impor yang asing, hingga kehilangan jati diri demi mengejar label ‘modern’? Kita sering kali sibuk bersolek dengan wajah orang lain, sementara di negeri kincir ini, kita belajar bahwa peradaban yang besar tidak dibangun di atas reruntuhan identitasnya, tetapi di atas kesetiaan menjaga akarnya.

Tulisan ini tentu tidak lahir dari niat untuk mencela tanah air sendiri, tidak pula untuk merendahkan negara-negara Muslim lainnya demi memuja Barat secara buta. Jauh dari itu, catatan ini adalah sebuah cermin kecil untuk berefleksi, bukan penghakiman. Kita perlu sadar bahwa menghidupkan Islam tidak berarti sekadar memperbanyak ornamen, tetapi juga menghidupkan ruhnya dalam setiap tarikan nafas birokrasi, ketulusan berniaga, dan kebersihan ruang publik.

Baca Juga  Kelompok Paling Rentan Terhadap Nipah

Pada akhirnya, perjalanan menelusuri nilai Islam di negeri kincir angin ini menyisakan sebuah tanya yang getir: Jika kejujuran telah menjadi sistem, keadilan sosial telah menjadi hak yang nyata, dan alam dirawat layaknya amanah suci, bukankah mereka sedang mempraktikkan Islam tanpa perlu menyebut namanya?

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari keriuhan simbolis dan perdebatan label yang melelahkan. Belanda telah menunjukkan bahwa peradaban yang besar tidak dibangun dari seberapa keras kita meneriakkan identitas, tetapi dari seberapa setia kita menghidupkan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Kita punya benihnya, kita punya kitabnya, dan kita punya sejarahnya. Namun, jika kita terus membiarkan benih itu kering di tanah sendiri sementara ia mekar sempurna di tanah orang lain, barangkali yang kita miliki selama ini hanyalah ‘bungkus’ tanpa isi.

Pertanyaannya sekarang: Maukah kita memulangkan Islam ke dalam perilaku kita, atau kita cukup puas hanya dengan bangga memegang ‘KTP’ agama, sementara ruhnya telah lama berkelana mencari rumah yang lebih menghargainya?

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Perkembangan Terbaru di Maluku dan Papua: Tantangan dan Peluang
Human Interest

Perkembangan Terbaru di Maluku dan Papua: Tantangan dan Peluang

29 April 2026 - 19:49
Candi Borobudur dan Candi Prambanan: Warisan Budaya Dunia di Yogyakarta yang Menakjubkan
Budaya

Candi Borobudur dan Candi Prambanan: Warisan Budaya Dunia di Yogyakarta yang Menakjubkan

22 April 2026 - 18:46
Gunung Rinjani: Keindahan Danau Segara Anak di Puncak yang Menarik Pendaki
Alam

Gunung Rinjani: Keindahan Danau Segara Anak di Puncak yang Menarik Pendaki

21 April 2026 - 14:36
Pentingnya Perlindungan Lingkungan dan Kelautan untuk Masa Depan Bumi
berita

Pentingnya Perlindungan Lingkungan dan Kelautan untuk Masa Depan Bumi

19 April 2026 - 06:11
Lembah Baliem: Pengalaman Budaya Otentik Suku Asli Papua di Tengah Pegunungan Jayawijaya
Budaya

Lembah Baliem: Pengalaman Budaya Otentik Suku Asli Papua di Tengah Pegunungan Jayawijaya

13 April 2026 - 09:23
Raja Ampat: Mengapa Disebut ‘Surga Terakhir di Bumi’ dan Keunikan Wisata Bahari yang Menakjubkan
Human Interest

Raja Ampat: Mengapa Disebut ‘Surga Terakhir di Bumi’ dan Keunikan Wisata Bahari yang Menakjubkan

12 April 2026 - 05:13
Please login to join discussion

Berita Populer

  • Cak Nur dan Hardi Selamat Hood mendatangi kantor KPU Kota Batam untuk mendaftarkan diri maju di Pilkada tahun 2024. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

    Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pilihan Redaksi

Trump’s Blue State Revenge: Ruling Blasts Political Vendetta

Trump’s Blue State Revenge: Ruling Blasts Political Vendetta

23 Juni 2026 - 14:16
Jakarta Marathon 2026: Prediksi Peserta Internasional dan Dampaknya Bagi Indonesia

Jakarta Marathon 2026 Diikuti Puluhan Ribu Peserta dari 50 Negara: Ini Penjelasannya

23 Juni 2026 - 14:07
Resmikan 1.151 KM Jalan Daerah se-Indonesia, Presiden Prabowo: Infrastruktur Jalan adalah Fondasi Ketahanan Pangan dan Energi

Resmikan 1.151 KM Jalan Daerah se-Indonesia, Presiden Prabowo: Infrastruktur Jalan adalah Fondasi Ketahanan Pangan dan Energi

23 Juni 2026 - 14:02
Presiden Prabowo Resmikan 1.151 Kilometer Jalan Daerah di 37 Provinsi, Perkuat Konektivitas hingga Pelosok Indonesia

Presiden Prabowo Resmikan 1.151 Kilometer Jalan Daerah di 37 Provinsi, Perkuat Konektivitas hingga Pelosok Indonesia

23 Juni 2026 - 14:02
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In