Sabtu sore, 28 Maret 2026, suasana di Kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta berubah drastis. Area yang biasanya menjadi oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk ibu kota, mendadak disesaki lautan manusia. Aroma semerbak hidangan kuliner khas Nusantara seperti bakso, rendang, dan pempek menguar di udara, berpadu dengan riuh rendah tawa anak-anak yang berlarian di antara deretan stan pedagang. Di atas panggung, alunan musik dari grup Wali seolah menjadi soundtrack yang akrab di telinga seluruh pengunjung yang hadir.
Di tengah keramaian itu, sorot mata seorang petugas kebersihan berseragam oranye tampak berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat kunci sebuah motor listrik, hadiah yang baru saja ia menangkan dari undian doorprize. Momen tersebut menjadi gambaran nyata dari Bazar Rakyat Monas, sebuah inisiatif yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam satu hari, bazar ini tidak hanya menjadi ajang transaksi ekonomi semata, tetapi juga berhasil menciptakan kehangatan dan kebahagiaan yang lebih luas.
Salah satu penerima manfaat adalah Gunawan Ipang, yang datang dari Cilandak Timur, Jakarta Selatan. Ia tiba di Monas sejak pukul 13.00. Kehadirannya bukan karena mengharapkan hadiah, melainkan karena mencari tempat yang menarik untuk menghabiskan waktu di hari tersebut. Sebagai anggota PPSU, atau yang kerap disapa “pasukan oranye”, yang setiap pagi bertugas membersihkan jalanan Jakarta jauh sebelum kota terbangun, kemewahan bukanlah sesuatu yang akrab dalam kehidupannya.
Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang motor listrik, kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah ungkapan sederhana namun penuh ketulusan. “Terima kasih, Presiden, bisa nyapu nggak capek-capek. Seneng, seneng banget,” ujarnya. Hari itu, Gunawan pulang tidak hanya dengan motor listrik, tetapi juga membawa paket sembako dan sehelai baju muslim.
Kisah Kebahagiaan dari Undian
Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh Diana, seorang warga Jakarta Selatan, yang juga berhasil membawa pulang motor listrik dari undian. “Rasanya bahagia banget. Gak mimpi dapat motor. Alhamdulillah, hebat Pak Prabowo,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.
Pada hari itu, sebanyak 100 unit motor listrik dan 1.000 unit sepeda berpindah tangan melalui mekanisme undian. Angka yang tidak sedikit ini menyimpan cerita-cerita kecil di balik setiap kunci yang diserahkan. Ini adalah kisah tentang warga biasa yang pulang membawa pulang sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya saat berangkat di pagi hari.
Lebih dari Sekadar Hadiah: Pemberdayaan UMKM
Namun, Bazar Rakyat Monas bukan hanya tentang mereka yang beruntung memenangkan undian. Acara ini juga menjadi panggung bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang telah bersiap sejak dini hari. Mereka mengaduk adonan, mengiris daging, dan menata dagangan dengan harapan hari itu akan memberikan keuntungan yang lebih baik dari kemarin.
Fauzi, seorang pedagang bakso dari Jakarta Barat, mendapat pesanan istimewa: lebih dari 500 porsi bakso untuk dibagikan secara gratis kepada pengunjung. Bagi Fauzi, jumlah pesanan ini bukan hanya tentang perputaran modal, tetapi juga sebuah pengalaman berharga yang jarang ia temui dalam hidupnya sebagai pelaku UMKM. “Bagaimana ya, luar biasa. Jarang-jarang ada seperti ini. Membantu sangat UMKM, sangat membantu,” tuturnya.
Yang membuat Fauzi semakin lega adalah stabilitas harga bahan baku selama periode Lebaran tahun ini. “Untuk bahan-bahan masih stabil. Belum ada kenaikan harga di Lebaran ini. Belum ada perubahan harga dari pasar,” katanya. Kabar baik ini memberikan dampak signifikan bagi para pedagang yang menggantungkan hidup mereka pada selisih tipis antara harga beli dan harga jual.
Megawati, seorang pelaku UMKM yang menjual rendang dari Jakarta Selatan, menerima pesanan 500 paket nasi rendang. Di tengah keterbatasan waktu dan tantangan ketersediaan bahan baku menjelang hari besar, ia tetap memenuhi pesanan tersebut dengan semangat. Baginya, kegiatan seperti ini membuka dua peluang sekaligus: peningkatan pendapatan dan promosi produk.
“Mudah-mudahan kita di dalam UMKM ini bisa dibantu dengan event-event seperti ini dan di event-event selanjutnya juga untuk permodalannya dibantu,” harap Megawati, bukan dengan nada mengeluh, melainkan dengan optimisme yang teguh.
Shela, pedagang pempek dari Bintaro, merangkum manfaat langsung yang dirasakannya. “Sangat membantu buat saya, buat muter-muter modal lagi,” ujarnya. Ia menambahkan sebuah pandangan yang melampaui kepentingan pribadi: “Lebih merangkul kita lah UMKM yang kecil-kecil. Jangan hanya yang besar-besar aja. Kita butuh, kita belum punya nama besar seperti restoran-restoran besar, tetapi kita di rumah ini UMKM itu yang perlu dipeluk.”
Kalimat sederhana tersebut menyimpan makna mendalam, yaitu pengakuan jujur bahwa ekonomi kerakyatan membutuhkan sentuhan dan dukungan nyata, bukan sekadar apresiasi dari kejauhan.
Konsep Bazar: Perputaran Ekonomi yang Nyata
Dukungan yang diberikan dalam Bazar Rakyat Monas ini memang disengaja. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menjelaskan bahwa konsep bazar ini lebih dari sekadar pembagian bantuan. Pemerintah telah menyiapkan 100 ribu kupon belanja senilai Rp500 ribu per kupon. Kupon ini terbagi menjadi Rp300 ribu untuk sembako dan Rp200 ribu untuk produk UMKM.
Hal ini memastikan bahwa aliran dana tidak hanya berasal dari pemerintah ke masyarakat, tetapi juga mengalir melalui tangan para pedagang kecil, menciptakan perputaran ekonomi yang nyata. “Intinya konsepnya adalah sebanyak mungkin masyarakat ingin merasakan kebahagiaan Lebaran, baik yang tidak bisa mudik maupun yang sudah kembali,” ujar Teddy.
Skala Kolosal dan Dampak Jangka Panjang
Acara ini melibatkan sekitar 800 pelaku UMKM yang berasal dari berbagai pasar di wilayah Jabodetabek, termasuk Tanah Abang dan Pasar Senen, serta pengrajin sepatu dari Bandung. Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyebut momen ini sebagai kesempatan untuk menggerakkan stok barang yang belum terjual sekaligus memberikan dorongan bagi permodalan yang sedang tersendat.
“Mereka bisa menghabiskan stok yang kemarin masih ada, dan mereka juga bisa putar lagi, beli lagi, ada dengan stok yang baru,” jelas Maman.
Selain itu, sebanyak 300 ribu porsi makanan gratis disiapkan untuk pengunjung. Panggung hiburan yang menampilkan grup musik Wali dan Bagindas turut memeriahkan acara dari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB, memastikan kegembiraan hari itu berlanjut hingga malam.
Menjelang akhir malam, saat stan-stan mulai dibereskan dan lampu panggung perlahan dipadamkan, Monas kembali ke kesunyiannya yang khas. Namun, ada sesuatu yang berubah, setidaknya untuk satu hari. Seorang petugas kebersihan pulang membawa motor listrik. Seorang pedagang bakso berhasil menghabiskan 500 porsi dagangannya untuk orang-orang yang tidak ia kenal. Seorang penjual rendang membawa pulang harapan agar modal usahanya terus berputar.
Ribuan warga Jakarta yang tidak bisa mudik merayakan Lebaran di sini, di bawah bayangan Monas, dengan semangkuk makanan gratis dan senyuman tulus. Meskipun kalender menunjukkan Lebaran telah usai, semangat berbagi dan kebersamaan terbukti masih bisa diperpanjang, asalkan ada inisiatif dan upaya untuk mewujudkannya.



















