Pengunduran diri yang mengejutkan datang dari Mohammad Safa, yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif sekaligus Perwakilan Utama di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari Pure Hands Volunteer Association (PVA). Keputusan ini diambil Safa setelah menilai adanya penyimpangan serius dalam tubuh lembaga internasional tersebut.
Dalam sebuah surat yang diunggahnya di media sosial X dengan akun @mhdksafa, Safa menyatakan, “Saya tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang sedang terjadi pada saat PBB tengah bersiap menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir.” Pernyataan ini menggarisbawahi keprihatinan mendalamnya terhadap arah yang diambil oleh PBB.
Safa, yang mewakili PVA, sebuah organisasi internasional yang terakreditasi di ECOSOC di New York dan memiliki hubungan dengan PBB di Jenewa serta Wina, secara resmi mengajukan surat pengunduran diri dan penghentian sementara tugasnya. Surat tersebut dikirimkan kepada para pejabat tinggi PBB di tiga kota besar tersebut pada tanggal 27 Maret 2026.
Latar Belakang Keputusan Mundur
Keputusan Safa untuk mundur bukanlah keputusan yang diambil secara gegabah. Ia mengungkapkan bahwa pertimbangan untuk mundur telah muncul sejak tahun 2023. Setelah melalui proses refleksi yang panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menangguhkan seluruh tugasnya sebagai Perwakilan Utama PVA di PBB.
Lebih lanjut, Safa juga menghentikan keterlibatannya dalam berbagai komite dan kelompok kerja PBB yang selama ini menjadi bagian dari perannya dalam organisasi dunia tersebut. Pengumuman resmi mengenai keputusannya ini disampaikannya melalui keterangan yang diunggah di akun media sosial X-nya pada tanggal 27 Maret lalu.
Indikasi Penyimpangan Internal
Dalam penjelasannya, Safa menyebutkan bahwa keputusannya diambil setelah mempertimbangkan secara matang situasi internal PBB. Ia menilai bahwa sebagian pejabat senior di PBB tidak lagi sepenuhnya bekerja demi kepentingan lembaga itu sendiri. Sebaliknya, mereka diduga lebih melayani kepentingan lobi-lobi tertentu yang memiliki pengaruh kuat.
“Setelah melalui banyak pertimbangan, dan setelah menjadi jelas bagi saya bahwa beberapa pejabat senior PBB melayani kepentingan lobi tertentu yang kuat, bukan kepentingan PBB, saya memutuskan untuk menangguhkan seluruh tugas saya sebagai Perwakilan Utama PVA di PBB serta dari semua komite/kelompok PBB yang saya ikuti,” tulis Safa dalam pernyataannya.
Kekhawatiran Terhadap Potensi Konflik Nuklir
Salah satu alasan utama yang mendorong Safa untuk mundur adalah kekhawatirannya terhadap situasi global yang semakin mengarah pada potensi penggunaan senjata nuklir. Ia merasa tidak dapat lagi terlibat atau sekadar menjadi saksi atas dinamika yang terjadi di PBB, terutama dalam konteks persiapan menghadapi skenario terburuk tersebut.
“Saya tidak dapat, dengan hati nurani yang bersih, menjadi bagian dari atau menyaksikan apa yang sedang terjadi pada saat PBB tengah bersiap menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir,” tegas Safa, menunjukkan betapa dalamnya rasa keberatan moral yang ia rasakan.
Pengalaman Hampir Satu Dekade di PBB
Meskipun mengundurkan diri, Safa tidak lupa menyampaikan apresiasinya atas pengalaman yang telah ia jalani selama hampir 12 tahun bekerja sama dengan PBB. Ia telah berinteraksi dengan berbagai kepemimpinan Sekretaris Jenderal dan Presiden Dewan HAM, serta memimpin delegasi PVA dalam berbagai forum internasional. Pengalaman ini tentu memberikan perspektif yang berharga baginya.
Kritik Terhadap Standar Ganda dan Penolakan Realitas
Dalam surat pengunduran dirinya, Safa secara spesifik menyoroti beberapa poin krusial yang menjadi dasar kritiknya terhadap PBB. Ia menyatakan bahwa sejumlah pejabat tinggi PBB menolak untuk menyebut situasi di Gaza sebagai genosida. Selain itu, mereka juga tidak mengakui dugaan kejahatan perang dan pembersihan etnis yang terjadi di Lebanon.
Hal ini mengindikasikan adanya standar ganda dalam penegakan hukum internasional, terutama ketika menyangkut Israel dan sekutunya. Perbedaan perlakuan ini menjadi salah satu poin yang sangat disesalkan oleh Safa.
Pengalaman Pribadi: Ancaman dan Pembungkaman
Lebih jauh lagi, Safa mengungkapkan pengalaman pribadinya yang sangat mengkhawatirkan selama bertugas. Ia mengaku telah menerima ancaman pembunuhan yang ditujukan kepadanya dan keluarganya. Tidak hanya itu, ia juga dikenai sanksi finansial dan pembatasan kebebasan berbicara oleh pejabat senior PBB. Menurutnya, tindakan-tindakan ini merupakan bentuk upaya pembungkaman terhadap perbedaan pandangan di dalam tubuh organisasi.
Dugaan Kampanye Disinformasi Global
Safa juga menyoroti dugaan adanya kampanye disinformasi global yang terorganisir. Kampanye ini, menurutnya, melibatkan pejabat senior dan diplomat berpengaruh, serta didukung oleh media dan algoritma media sosial. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menyebarkan narasi tentang ancaman nuklir Iran, yang kemudian digunakan untuk membangun dukungan bagi perang di kawasan Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa narasi tersebut adalah kebohongan yang digunakan untuk membenarkan konflik. Safa menyamakan taktik ini dengan metode yang pernah digunakan dalam konflik-konflik sebelumnya, seperti yang terjadi di Gaza dan Lebanon. Hal ini menunjukkan pola yang berulang dalam manipulasi informasi untuk tujuan geopolitik.



















