Gubernur Jateng Usulkan Penghematan BBM dengan Perubahan Pola Transportasi
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengusulkan kepada para bupati, wali kota, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Jateng untuk melakukan penghematan energi BBM. Usulan ini mencakup penggunaan transportasi umum, bersepeda, hingga berlari saat berangkat bekerja. Langkah ini sebagai respons terhadap rencana pemerintah pusat yang ingin menerapkan penghematan energi nasional akibat dampak perang di Timur Tengah.
Luthfi menegaskan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap kalkulasi dan penjajagan. Namun, ia menekankan bahwa opsi “ngantor” tanpa kendaraan pribadi menjadi prioritas utama. Ia juga menyebutkan bahwa opsi Work From Anywhere (WFA) akan dipertimbangkan sebagai alternatif.
“Seluruh bupati, wali kota, dan ASN berangkat ke kantor naik sepeda, kendaraan umum, atau kalau perlu lari pulang-pergi. Kami masih mengkaji detailnya, termasuk opsi WFA,” ujar Luthfi usai pembekalan kepala daerah oleh KPK di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (30/3/2026).
Kepastian regulasi ini dijadwalkan rampung segera setelah Surat Edaran (SE) dari pemerintah pusat turun, yang diprediksi pada Selasa (31/3/2026). Dengan demikian, seluruh pihak diharapkan siap menjalani aturan tersebut.
Reaksi Beragam dari Para Pemimpin Daerah
Usulan gubernur memicu reaksi beragam dari para pemimpin daerah di Jawa Tengah. Plt Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, secara terbuka menyatakan keberatan untuk menerapkan langkah ekstrem tersebut di wilayahnya. Menurutnya, efisiensi BBM dengan bersepeda atau berlari tidak akan berdampak signifikan di Cilacap karena jarak tempuh antar-kantor pemerintahan relatif dekat.
“Saya saja berangkat kerja dari rumah dinas ke kantor bupati, satu lagu belum habis sudah sampai. Jadi tidak perlu sampai ekstrem naik sepeda atau lari,” cetusnya.
Sebaliknya, Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyatakan kesiapannya menjalankan instruksi gubernur. Solo bahkan telah mencuri start dengan menerapkan kebijakan WFA sebulan sekali bagi ASN back office sejak dua bulan lalu.
“Di Solo ada pemangkasan dana transfer pusat sampai Rp200 miliar, jadi kami sudah melakukan efisiensi lebih dulu. Kalau instruksinya harus naik sepeda atau jalan kaki, kami siap,” tegas Respati.
Komitmen Efisiensi Jangka Panjang
Senada dengan Solo, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Cahandra, mengaku siap mengikuti arahan gubernur. Di Pati, langkah efisiensi bahkan sudah melibatkan sektor swasta melalui penggunaan panel surya sebagai sumber energi alternatif.
“Kami menunggu instruksi resmi Gubernur. Intinya kami siap melaksanakan, termasuk jika harus naik sepeda ke kantor,” kata Risma.
Di sisi lain, Ahmad Luthfi mengklaim Pemprov Jateng sebenarnya telah memulai langkah penghematan melalui program 2.500 desa mandiri energi serta penggunaan gas alam oleh BUMD PT Jateng Agro Berdikari.
Namun, efisiensi secara personal bagi ASN tetap dianggap perlu sebagai gerakan nasional di tengah ketidakpastian kondisi global.
Inisiatif dan Alternatif Efisiensi Energi
Selain itu, beberapa daerah di Jawa Tengah mulai mempertimbangkan inisiatif lain untuk meningkatkan efisiensi energi. Contohnya, penggunaan transportasi umum yang lebih ramah lingkungan, seperti bus listrik atau mobil listrik. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada BBM.
Beberapa daerah juga mulai mengadopsi teknologi hijau, seperti instalasi panel surya di gedung-gedung pemerintah. Teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi konsumsi energi, tetapi juga memberikan sumber daya yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah juga sedang mengevaluasi kebijakan-kebijakan lain yang dapat mendukung penghematan energi. Misalnya, penggunaan sistem kerja hybrid yang memungkinkan pegawai bekerja dari rumah secara berkala, sehingga mengurangi kebutuhan transportasi harian.
Kesimpulan
Usulan Gubernur Jateng untuk menghemat BBM melalui perubahan pola transportasi dan gaya hidup ASN merupakan langkah strategis yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dengan situasi global yang tidak pasti. Meski ada perbedaan pendapat di tingkat daerah, banyak pihak tampaknya bersedia untuk beradaptasi dan berkomitmen pada efisiensi energi. Dengan kombinasi inovasi teknologi, kebijakan kerja fleksibel, dan kesadaran lingkungan, Jawa Tengah berpotensi menjadi contoh yang baik dalam menghadapi tantangan energi global.



















