Sidang Lanjutan Ammar Zoni di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Ammar Zoni kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait kasus peredaran narkotika yang menjeratnya. Saat ini, proses peradilannya sedang bergulir, dan sidang tersebut digelar dengan agenda pembacaan nota pembelaan atau pledoi.
Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum telah membacakan tuntutan terhadap Ammar Zoni, yang mengakibatkan ia dituntut dengan hukuman 9 tahun penjara serta denda sebesar Rp500 juta. Dalam sidang kali ini, Ammar Zoni tampil memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan membacakan nota pembelaannya yang cukup menyentuh.
Isi Pledoi Ammar Zoni
Dalam pledoinya, Ammar Zoni mengungkapkan rasa penyesalan atas kejadian-kejadian yang ia alami dalam hidupnya. Ia menyebutkan bahwa masa lalu penuh ujian menjadi bagian dari isi pembelaannya. Salah satu momen yang sangat menyentuh adalah saat ia menceritakan perceraian dengan mantan istrinya, Irish Bella, yang terjadi di tengah kondisi dirinya yang sedang terpuruk akibat kasus narkoba.
Ammar mengungkapkan bahwa perceraian tersebut menjadi beban emosional yang semakin memperberat kondisinya. Ia merasa ditinggalkan oleh orang yang seharusnya memberikan dukungan. “Sungguh menyakitkan bukan karena rehabnya, melainkan kabar yang saya terima datang dari mantan istri saya,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa keputusan Irish Bella untuk bercerai bertentangan dengan nilai-nilai keluarga yang ia pegang teguh. Menurut Ammar, keputusan itu tidak sesuai dengan kesetiaan almarhum ayahnya kepada ibunya hingga akhir hayat.
Perasaan Ammar Zoni Saat Menghadapi Perceraian
Ammar Zoni mencoba segala cara untuk mempertahankan rumah tangganya, mulai dari memohon, meratap, hingga menangis meminta kesempatan. Namun, keputusan Irish Bella sudah bulat, sehingga ia merasa diasingkan dan dibuang justru di saat ia paling membutuhkan dukungan.
Ia memposisikan dirinya sebagai orang yang sedang ‘sakit’ karena kecanduan, yang seharusnya dirawat, bukan ditinggalkan. “Kecanduan adalah penyakit otak kronis yang sulit disembuhkan. Lalu kenapa orang yang sedang sakit dibuang?” tanyanya.
Ammar merasa dirinya ibarat orang sakit yang butuh dirawat, namun justru ditinggalkan saat paling membutuhkan dukungan. “Di saat hanya dialah satu-satunya rumah tempat saya kembali pulang, tetapi malah diasingkan atas kekurangan saya,” ujarnya.
Kesedihan Akibat Kehilangan Ayah
Kesedihan Ammar semakin berlipat saat mengenang kepergian sang ayah, Suhendri Zoni, ketika ia masih berada di balik jeruji besi pada kasus sebelumnya. Ia menyebut ketidakmampuannya mendampingi sang ayah di saat terakhir sebagai dosa besar.
Momen paling menyayat hati adalah ketika ia diizinkan melihat jenazah ayahnya dalam kondisi tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan. Perasaan bersalah inilah yang diakuinya menjadi pemicu depresi berat hingga ia kembali jatuh ke lubang yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya.
Pesan Kepada Anak-Anak
Puncak emosi Ammar meledak saat ia menyampaikan pesan langsung kepada kedua buah hatinya, Air Rumi Akbar dan Amala Puti Sabai Akbar. Ia meratapi banyaknya waktu berharga yang terbuang sia-sia di balik jeruji besi, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk melihat mereka tumbuh besar.
“Saya minta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, maafkan Daddy ya,” ucap Ammar terbata. Ia membayangkan momen-momen sederhana sebagai ayah yang kini mustahil ia lakukan.
“Seharusnya Daddy ada melihat kalian tumbuh, mengajari kalian, membacakan cerita sebelum kalian tidur, mengantarkan kalian ke sekolah. Maafkan Daddy.”
Di hadapan Majelis Hakim, Ammar menyampaikan janjinya sebagai seorang ayah. “Daddy janji ini yang terakhir, benar-benar terakhir. Daddy janji besok lusa Daddy akan tebus semua waktu yang pernah hilang,” tegasnya.



















