DPR RI Menilai Kondisi Keuangan Pertamina Masih Stabil
DPR RI menilai bahwa PT Pertamina (Persero) masih memiliki kapasitas yang kuat untuk menanggung selisih harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Meskipun demikian, pengawasan terhadap kebijakan tersebut diminta untuk terus diperketat guna mengantisipasi risiko ke depan.
Christiany Eugenia Paruntu, anggota Komisi VI DPR RI, menyebut kondisi keuangan Pertamina saat ini masih relatif stabil sehingga mampu menjalankan penugasan pemerintah dalam menjaga harga BBM tetap terkendali. Ia menjelaskan bahwa hal ini didukung oleh skema kompensasi dari pemerintah yang terus berjalan serta likuiditas perusahaan yang dinilai memadai.
“Selama dukungan pemerintah melalui kompensasi berjalan baik dan kondisi keuangan perusahaan tetap kuat, Pertamina masih mampu menjalankan penugasan ini,” ujar Christiany kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Pemerintah secara rutin membayarkan kompensasi kepada Pertamina dengan porsi sekitar 70 persen setiap bulan. Menurutnya, mekanisme tersebut krusial dalam menjaga arus kas perusahaan tetap sehat, sehingga beban selisih harga tidak secara langsung mengganggu operasional maupun kinerja keuangan.
“Selain itu, kondisi fundamental Pertamina yang kuat, baik dari sisi aset maupun pendapatan, turut menjadi penopang dalam menghadapi fluktuasi harga energi global,” tambahnya.
Dalam jangka pendek, kata Christiany, peran Pertamina sebagai penyangga (shock absorber) dinilai masih efektif untuk menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri tanpa menimbulkan tekanan berlebih. Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut bersifat situasional dan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia serta konsistensi pemerintah dalam membayar kompensasi.
Christiany menegaskan bahwa pengawasan harus tetap diperketat agar stabilitas ini bisa terus terjaga. Ia menilai bahwa meski saat ini Pertamina mampu menjalankan tugasnya, langkah-langkah preventif dan evaluasi berkala sangat penting untuk memastikan keberlanjutan operasional perusahaan.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan dana kompensasi yang diberikan pemerintah. Dengan adanya transparansi, maka dapat dipastikan bahwa dana tersebut digunakan secara efisien dan tepat sasaran, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan atau ketidakseimbangan dalam sistem keuangan perusahaan.
Selain itu, Christiany menyarankan agar Pertamina terus melakukan diversifikasi bisnis dan investasi dalam sektor energi terbarukan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan finansial perusahaan dalam menghadapi fluktuasi harga minyak global.
Kemajuan teknologi dan inovasi juga menjadi fokus utama dalam strategi jangka panjang Pertamina. Dengan memperkuat kapasitas teknologi, perusahaan dapat lebih cepat merespons perubahan pasar dan meningkatkan efisiensi operasional.
Dalam kesimpulannya, Christiany menekankan bahwa meskipun saat ini Pertamina dalam kondisi yang cukup baik, namun tantangan di masa depan tetap akan datang. Oleh karena itu, perlunya kolaborasi antara pemerintah dan Pertamina dalam menciptakan kebijakan yang saling mendukung dan berkelanjutan.
Dengan kombinasi pengawasan yang ketat, kebijakan yang proaktif, serta inovasi yang berkelanjutan, Pertamina dapat tetap menjalankan perannya sebagai pelaku utama dalam menjaga stabilitas harga BBM di Indonesia.




