Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, Indonesia kembali memperkuat diplomasi nasionalnya untuk menjaga stabilitas ekonomi, fiskal, dan ketahanan pangan. Isu mengenai kemungkinan keluar dari Board of Peace (BOP) telah memicu perhatian berbagai kalangan, termasuk para tokoh politik seperti Johan Rosihan, Sekretaris Fraksi PKS MPR RI. Ia menegaskan bahwa setiap keputusan diplomatik harus dipertimbangkan secara matang, karena dampaknya bisa mencakup sektor ekonomi, sosial, hingga stabilitas nasional.
Dinamika Geopolitik Global
Indonesia berada di posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik dan menjadi titik persilangan berbagai kepentingan global. Oleh karena itu, setiap langkah yang diambil harus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang. Johan menekankan bahwa tidak semua narasi global memiliki dasar institusional yang kuat, namun tetap perlu dianalisis secara serius.
Dalam konteks ini, Indonesia harus mampu menjaga hubungan baik dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat, sambil tetap menjaga kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Risiko terbesar adalah terjebak pada pilihan yang sempit antara tunduk pada tekanan global atau mengambil langkah konfrontatif tanpa perhitungan matang.
Peran sebagai Penyeimbang
Di tengah rivalitas global yang semakin tajam, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penyeimbang. Peran ini tidak hanya penting bagi kepentingan nasional, tetapi juga bagi stabilitas kawasan, khususnya di Asia Tenggara. Melalui forum kerja sama regional, Indonesia memanfaatkan perannya dalam ASEAN untuk mendorong kolaborasi yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Namun, Johan menyebutkan bahwa peran sebagai penyeimbang tidak terbentuk secara otomatis. Indonesia perlu terus aktif membangun kepercayaan dengan berbagai pihak, baik di tingkat regional maupun global. Hal ini menuntut konsistensi kebijakan serta kemampuan menjaga komunikasi yang konstruktif dengan seluruh mitra strategis.
Kedaulatan dengan Perhitungan
Johan berpendapat bahwa Indonesia perlu menghindari pilihan ekstrem dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Pendekatan yang mengedepankan kedaulatan dengan perhitungan matang dinilai sebagai langkah paling rasional dalam menjaga kepentingan nasional. Pemerintah didorong untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap setiap kebijakan strategis, dengan menimbang manfaat dan risiko, termasuk implikasinya terhadap sektor ekonomi, fiskal, serta sektor strategis seperti ketahanan pangan.
Selain itu, opsi renegosiasi dinilai perlu tetap terbuka. Dalam situasi di mana terdapat ketidakseimbangan dalam suatu kesepakatan, Indonesia memiliki ruang untuk memperjuangkan kepentingannya melalui dialog konstruktif. Diplomasi tidak hanya berkutat pada pilihan menerima atau menolak, tetapi juga pada kemampuan untuk menyesuaikan kesepakatan agar lebih menguntungkan.
Menguatkan Daya Tahan Bangsa
Kekuatan Indonesia di tengah dinamika global tidak hanya ditentukan oleh posisi geopolitiknya, tetapi juga oleh daya tahan domestik sebagai sebuah bangsa. Dalam situasi penuh ketidakpastian, negara dengan fondasi internal yang kuat dinilai lebih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah kemandirian pangan. Ketergantungan berlebihan terhadap pasar global dinilai dapat meningkatkan kerentanan terhadap gejolak internasional. Oleh karena itu, penguatan produksi dalam negeri perlu terus didorong, seiring dengan upaya diversifikasi sumber pasokan guna menjaga stabilitas ketersediaan pangan.
Selain itu, Johan juga mengingatkan bahwa ketahanan fiskal menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional. Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dilakukan secara hati-hati agar tetap memiliki ruang untuk merespons berbagai kemungkinan yang muncul. Disiplin fiskal serta efisiensi belanja dinilai semakin krusial dalam menghadapi tekanan global.
Geostrategi Nasional: Potensi Daya Tawar
Ketidakpastian global yang ditandai oleh fragmentasi geopolitik, krisis energi, dan rivalitas antarblok kekuatan besar itu pula menuntut Indonesia untuk merumuskan strategi geostrategisnya secara menyeluruh. Strategi yang dulu bertumpu pada kekuatan militer konvensional, kini harus diperluas menjadi pendekatan multidimensi yang mencakup ekonomi, teknologi, diplomasi, budaya, hingga kekuatan siber.
Di era disrupsi teknologi, ukuran kekuatan militer tidak lagi hanya soal kuantitas, melainkan pula kualitas sistem komando, kecanggihan drone, kemampuan siber, dan integrasi intelijen. Dalam dunia yang sarat perang asimetris, Indonesia harus mampu mendeteksi dan merespons ancaman dalam waktu nyata dan terukur.
Selain aspek pertahanan, ketahanan ekonomi dan energi menjadi fondasi utama dalam membangun geostrategi nasional. Krisis global yang dipicu konflik dan perubahan iklim telah mengganggu rantai pasok pangan dan energi secara luas. Indonesia harus mampu menjamin pasokan energi nasional, mempercepat pengembangan energi terbarukan, serta memperkuat infrastruktur logistik dari pusat ke daerah terpencil.
Penulis : wafaul



















