Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi di Ambon Masih Dinilai Tidak Berdampak Signifikan
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mencapai hampir Rp10 ribu per liter belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat di Kota Ambon. Meski demikian, kekhawatiran terhadap kenaikan harga BBM subsidi masih menjadi topik utama dalam diskusi warga.
Pantauan di SPBU Pohon Pule menunjukkan bahwa antrean kendaraan tetap normal seperti hari-hari biasa. Sejak pagi, aktivitas pengisian BBM terlihat ramai, terutama karena bertepatan dengan awal pekan yang identik dengan tingginya mobilitas warga. Di jalur pengisian Pertalite, terpantau lebih dari 50 kendaraan roda dua mengantre. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, pekerja kantoran, hingga pengemudi ojek online.
Manager SPBU Pohon Pule, Eka Malaihollo (54), menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM mulai berlaku sejak Minggu dini hari (19/4/2026) sekitar pukul 02.01 WIT. Adapun rincian harga BBM yang mengalami perubahan yakni Dexlite yang naik signifikan dari Rp14.500 menjadi Rp24.150 per liter, atau meningkat sebesar Rp9.650. Sementara itu, beberapa jenis BBM lainnya tidak mengalami perubahan harga, yakni:
- Pertamax tetap di Rp12.600 per liter
- Pertalite tetap di Rp10.000 per liter
- Solar subsidi tetap di Rp6.800 per liter
Meski terjadi lonjakan tajam pada BBM non-subsidi, kondisi ini dinilai belum terlalu membebani masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Hal ini lantaran mayoritas warga masih bergantung pada BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar.
Seorang sopir truk, Rido, mengaku kenaikan harga Dexlite belum berdampak langsung terhadap dirinya. Namun, ia menyampaikan kekhawatiran jika ke depan harga BBM subsidi juga ikut naik. “Memang sekarang belum terlalu terasa, tapi bisa saja nanti naik juga. Yang non-subsidi sudah naik, mungkin tinggal menunggu waktu saja,” ujarnya kepada wartawan, Senin (20/4/2026).
Rido berharap pemerintah tetap mampu menjaga stabilitas harga BBM subsidi agar tidak memberatkan masyarakat kecil. Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan distribusi BBM agar tidak terjadi praktik penimbunan maupun penjualan ilegal. “Kalau sampai ada yang timbun, itu bisa bahaya. Kalau terjadi kelangkaan, semua masyarakat pasti susah. Ini harus jadi perhatian semua pihak,” tegasnya.
Dengan kondisi saat ini, masyarakat di Ambon masih mampu beradaptasi terhadap kebijakan kenaikan harga BBM. Meski kekhawatiran akan dampak lanjutan tetap membayangi, terutama bagi kelompok pengguna BBM subsidi.



















