Kondisi Industri Logistik di Awal Tahun 2026
Di tengah sinyal perlambatan konsumsi non-primer, industri logistik justru melihat aktivitas distribusi dan pergudangan masih relatif kuat pada kuartal I/2026. Meski ada beberapa tekanan yang muncul, seperti situasi geopolitik global dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, sektor ini tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) M. Akbar Johan mengungkapkan bahwa kondisi industri logistik pada awal tahun ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurutnya, pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan masih didukung oleh mobilitas masyarakat, pengiriman barang, serta ekspansi jaringan distribusi e-commerce.
“Kondisi industri logistik dan forwarder pada kuartal pertama 2026 masih sangat positif dan cenderung lebih baik dibanding kuartal pertama maupun kuartal keempat 2025,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Pendorong Pertumbuhan Sektor Logistik
Pertumbuhan sektor logistik terus didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru serta Lebaran. Selain itu, pelaku industri juga mulai meningkatkan persediaan bahan baku untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global dan pembatasan operasional angkutan barang selama periode libur.
Namun, di sisi lain, tekanan biaya mulai dirasakan oleh pelaku usaha logistik. Akbar menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM solar, pelumas, ban, serta suku cadang moda angkutan mulai membebani operasional perusahaan logistik dan transportasi barang.
Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Menurut Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto, perlambatan pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan belum mencerminkan pelemahan daya beli, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai bergeser ke kanal digital.
“Activitas pergudangan justru terus berkembang seiring ekspansi e-commerce dan penguatan jaringan distribusi last mile delivery,” ujarnya.
Mahendra menjelaskan bahwa pertumbuhan pergudangan juga didorong oleh masuknya investor baru yang mulai mengalihkan investasi dari sektor properti ke logistik. Fenomena ini mulai terlihat di sejumlah wilayah seperti Semarang dan Jawa Timur.
Peluang Pertumbuhan Baru
Selain itu, pengembangan kawasan industri halal dan logistik halal turut membuka ruang pertumbuhan baru bagi industri pergudangan nasional. “Banyak investor asing melihat potensi Indonesia menjadi target market produk halal dan menjadi hub ekspor barang halal,” katanya.
Meski persaingan industri logistik makin ketat akibat masuknya pemain besar dan investor asing, Mahendra menilai permintaan pasar masih terus tumbuh, terutama dari layanan last mile delivery dan e-commerce.
Dampak Kenaikan Biaya Energi
Dampak kenaikan biaya energi paling terasa pada sektor transportasi barang dan layanan bongkar muat yang sangat bergantung pada konsumsi BBM. Pelaku usaha pun meminta pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan BBM agar daya saing biaya logistik nasional tetap terjaga di tengah tekanan geopolitik global dan ketidakpastian perdagangan internasional.
Perubahan Pola Konsumsi dan Peluang Baru
Di sisi lain, Mahendra menilai perubahan pola konsumsi masyarakat justru membuka ruang pertumbuhan baru bagi industri logistik. Menurutnya, kebijakan work from anywhere (WFA) berpotensi meningkatkan transaksi belanja daring seperti yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.
“Daya beli enggak turun, cara beli yang berbeda. Seperti waktu Covid-19, daya beli enggak turun tapi pola belanjanya berubah ke e-commerce,” ujarnya.

















