JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan pada perdagangan intraday hari ini, 12 Mei 2026. Rupiah berhasil menembus ambang batas Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Pada awal perdagangan, rupiah dibuka di level Rp 17.479 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,37% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.414 per dolar AS.
Selanjutnya, rupiah terus melemah dan pada pukul 09.45 WIB, mencapai level Rp 17.506 atau melemah sebesar 0,53%. Akhirnya, rupiah berada di posisi Rp 17.508 per dolar AS, yang menjadi titik terlemahnya pada pukul 09.50 WIB.
Pelemahan rupiah ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tekanan eksternal yang berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Hal ini memperparah tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia. Menurut Ferry Latuhihin, seorang ahli ekonomi, kenaikan harga energi menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah.
“Sentimen utamanya adalah harga minyak dan fiscal crack kita,” ujarnya kepada media, Senin (12/5/2026). Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak memperlebar tekanan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Selain itu, pelaku pasar masih meragukan data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah. Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61% YoY, lebih tinggi dari pertumbuhan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,39% YoY, para investor belum sepenuhnya percaya dengan angka tersebut.
Ferry juga menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut jika kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah. Dalam prediksinya, nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
-
Kenaikan Harga Minyak Dunia
Kenaikan harga minyak secara global memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Sebagai negara yang bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak memengaruhi defisit neraca perdagangan dan meningkatkan tekanan terhadap cadangan devisa. -
Kondisi Eksternal yang Tidak Stabil
Fluktuasi nilai tukar mata uang asing, terutama dolar AS, serta situasi geopolitik yang tidak pasti turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap rupiah. -
Rendahnya Kepercayaan Investor
Meskipun ada indikasi pertumbuhan ekonomi yang positif, para pelaku pasar masih skeptis terhadap data ekonomi yang dirilis pemerintah. Hal ini bisa memicu aksi jual terhadap rupiah. -
Ketahanan Eksternal yang Melemah
Kekuatan ekonomi dalam negeri seperti inflasi, cadangan devisa, dan arus modal asing juga menjadi faktor penting dalam menentukan kestabilan rupiah.
Prediksi dan Proyeksi Masa Depan
Ferry Latuhihin memprediksi bahwa jika tekanan eksternal tetap tinggi dan kondisi ekonomi domestik tidak stabil, rupiah bisa terus melemah hingga mencapai level Rp 25.000 per dolar AS pada semester kedua tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada analisis terhadap tren global dan kebijakan pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, diperlukan langkah-langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Termasuk dalam hal pengendalian inflasi, peningkatan daya saing ekonomi, serta penguatan sistem keuangan nasional.


















