Pengantar Buku Teori Pengetahuan Karya Petrus Tan, SVD
Pater Petrus Tan, SVD, seorang pengajar di Fakultas Filsafat Unwira Kupang, kembali meluncurkan bukunya yang berjudul Teori Pengetahuan: Dasar-Dasar Epistemologi. Sebelumnya, ia juga telah merilis buku Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi, yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius. Buku ini ditujukan terutama kepada mahasiswa Filsafat sebagai bahan ajar, namun tetap dapat dinikmati oleh mahasiswa umum serta siapa pun yang tertarik memperluas wawasan tentang pengetahuan.
Buku ini menawarkan panduan sistematis bagi setiap individu dalam mencari dan memahami pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya sekadar pengertian sederhana, melainkan proses kompleks dan filosofis yang menjadi bagian dari epistemologi, salah satu cabang ilmu filsafat. Dalam konteks ini, kita juga mengenal istilah ontologi dan aksiologi. Bagi banyak orang, buku ini menjadi pedoman dasar agar tidak merasa sudah tahu atau seolah-olah tahu tanpa pemahaman yang utuh, seperti yang sering kita temui dalam interaksi sosial yang menjadikan seseorang disebut “sok tahu”.
Sebagai pembaca awam, saya mencoba merefleksikan pemahaman saya terhadap isi buku Pater Petrus. Namun, saya sadar bahwa pemahaman saya ini mungkin perlu dikoreksi. Jangan-jangan saya merasa sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh Pater Petrus dalam mengenalkan epistemologi sebagai pengetahuan sistematis tentang pengetahuan.
Aspek Utama Epistemologi
Petrus Tan menjelaskan aspek-aspek utama dan mendasar dari epistemologi. Pertama-tama, ia membahas tiga unsur pengetahuan, yaitu: tindakan mengetahui (the act of knowing), sesuatu yang diketahui (the objects of knowing), dan kesadaran yang terlibat (the consciousness subject). Selain itu, ia juga menjelaskan sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari enam area utama:
- Persepsi (perception)
- Intuisi (intuition)
- Kesaksian (testimony)
- Revelasi (revelation) atau perwahyuan
- Ingatan (memory)
Setiap kategori memiliki penjelasan dan tingkat kebenaran yang berbeda, serta tantangan inheren. Para epistemologi kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan konformatif untuk mengungkap masalah-masalah yang melekat pada sumber-sumber tersebut.
Buku ini juga menjelaskan bagaimana cara kerja epistemologi dalam tujuan mengungkap apakah sesuatu yang kita ketahui dapat disebut sebagai pengetahuan. Menurut teori pengetahuan, sesuatu disebut pengetahuan jika memenuhi tiga syarat mutlak: keyakinan (belief condition), kebenaran (truth), dan justifikasi (justification), yang biasanya didasarkan pada penalaran dan pembuktian. Karena setiap pengetahuan melibatkan tiga elemen dasar, yaitu kesadaran, objek pengetahuan, dan tindakan mengetahui.
Pengetahuan dan Artificial Intelligence (AI)
Buku ini semakin menarik dengan menghubungkan pengetahuan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Keberadaan AI telah memicu debat praksis dan filosofis. Untuk memahami AI secara proporsional, Petrus Tan mengajak kita memahami konsep kesadaran intrasubjektif dengan merujuk pada pendapat Thomas Nagel dalam artikel What It Is Like to Be a Bat. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi sejauh mana manusia dapat memahami pengalaman subyektif dan obyektif dari entitas lain.
Contoh yang diberikan adalah bahwa hanya kelalawar yang tahu rasanya menjadi kelalawar. Artinya, manusia hanya tahu tentang kelalawar, tetapi tidak tahu rasanya menjadi kelalawar. Hal ini kemudian dibandingkan dengan AI, dengan pertanyaan: apakah AI tahu rasanya menjadi manusia, atau apakah AI bisa menggantikan kesadaran manusia?
Dalam bukunya, Petrus Tan menyatakan bahwa mustahil bagi AI untuk menggantikan, meniru, atau menduplikasi kesadaran intrinsik manusia. Satu-satunya cara AI memiliki kesadaran intrinsik adalah dengan menjadi manusia. Oleh karena itu, AI tidak akan pernah menjadi manusia dengan rasa dan rasio. Pernyataan bahwa AI hanyalah alat bantu harus diterima agar dalam praktiknya, AI tidak lalu “membunuh” manusia dan kemanusiaannya.



















