No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Opini

Opini: Menghukum Alam, Menyembah Tuhan Palsu

Wafaul by Wafaul
17 Mei 2026 - 20:37
in Opini
0

Kehadiran Batu di Bandara dan Kritik terhadap Hukum yang Tidak Berpihak

Di sebuah bandara kecil di Sumba Timur, sebuah tas dibuka di depan mesin pemeriksaan. Di dalamnya ada beberapa bongkahan batu yang dibungkus seadanya. Tidak besar. Tidak tampak seperti ancaman negara. Tetapi beberapa menit kemudian suasana berubah tegang. Petugas mendekat. Nama dicatat. Pertanyaan diarahkan cepat. Dan batu itu perlahan berubah status: dari serpihan tanah menjadi ancaman hukum.

Di sudut lain bandara, seorang ibu duduk memeluk tas kecil berisi pakaian anaknya. Suaminya sudah dua tahun merantau ke Kalimantan karena jagung di kampung tidak lagi cukup menghidupi keluarga. Di luar bandara, matahari Sumba membakar tanah yang mulai retak oleh musim panjang. Dan di tengah semua itu, negara tampak sangat sigap terhadap bongkahan batu di tangan rakyat kecil.

Saya terus memikirkan satu hal: mengapa negara begitu cepat curiga pada batu di tangan rakyat kecil, tetapi jauh lebih lambat curiga pada kerusakan tanah yang berlangsung bertahun-tahun atas nama pembangunan?

Kasus ini memang nyata. Pada Maret 2026, aparat di Bandara Umbu Mehang Kunda menemukan batu yang diduga mengandung emas di tas seorang penumpang tujuan Lombok. Polisi menduga material tersebut berasal dari aktivitas tambang ilegal di Kecamatan Matawai La Pawu dan Kambata Mapambuhang, Sumba Timur. Kasus diproses menggunakan ketentuan dalam UU Minerba terbaru, terutama Pasal 158 dan Pasal 161 mengenai aktivitas pertambangan dan distribusi mineral tanpa izin.

Secara hukum, negara memang memiliki dasar bertindak. Tetapi jika kita jujur, persoalan ini tidak sesederhana prosedur legal dan ilegal. Masalahnya bukan pada batu itu semata, tetapi pada cara hukum membaca manusia dan tanahnya sendiri.

Saya melihat ada sesuatu yang ironis dalam cara kita membangun rasa aman hari ini. Mesin X-Ray di bandara mampu mendeteksi bongkahan batu dalam hitungan detik. Tetapi negara sering membutuhkan waktu sangat lama untuk membaca mengapa masyarakat di wilayah kaya sumber daya tetap hidup dalam kemiskinan.

Menurut data Badan Pusat Statistik NTT, angka kemiskinan di NTT pada tahun 2025 masih berada pada kisaran 17,50 persen atau sekitar satu juta penduduk miskin. Di banyak wilayah pedesaan Sumba Timur, sebagian masyarakat masih bergantung pada pertanian subsisten dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika musim gagal panen datang, pilihan hidup menjadi semakin sempit.

Anak muda pergi merantau. Orang tua bertahan dengan kebun yang semakin sulit diprediksi. Dan sebagian warga mulai melihat tanah bukan lagi sebagai warisan kehidupan, tetapi sebagai satu satunya kemungkinan untuk bertahan beberapa bulan ke depan.

Baca Juga  6 Keajaiban Doa Istri: Kekuatan Batin Suami

Yang sering kita lewatkan adalah: rakyat kecil tidak selalu masuk ke tambang karena ingin kaya. Banyak yang masuk karena takut tidak bisa bertahan hidup. Dan negara sering datang lebih cepat sebagai aparat hukum daripada sebagai keadilan sosial.

Saya tidak sedang membela tambang ilegal. Tetapi saya juga tidak bisa menutup mata bahwa hukum sering lebih cepat melihat “potensi kerugian negara” dalam tas seorang warga kecil daripada melihat kerugian sosial yang berlangsung lama di sekitar sumber daya alam itu sendiri.

Ketika batu kecil lebih mudah dicurigai daripada ketimpangan yang terorganisir, itu tanda bahwa ada sesuatu yang mulai kehilangan arah dalam cara kita memahami keadilan.

Bandara perlahan berubah menjadi altar baru keamanan negara. Batu menjadi tersangka. Sementara tanah yang selama bertahun tahun kehilangan daya dukung ekologisnya justru sering tidak pernah benar benar masuk ke ruang kegelisahan publik. Yang disebut ancaman adalah bongkahan batu di tangan rakyat kecil. Tapi yang disebut pembangunan adalah eksploitasi besar yang kadang meninggalkan sungai keruh, hutan rusak dan masyarakat yang tetap miskin di atas tanah kaya.

Teologi Tanah vs Berhala Birokrasi

Saya melihat persoalan terbesar kita hari ini bukan sekadar lemahnya pengawasan tambang. Persoalan yang lebih dalam adalah cara berpikir hukum yang semakin administratif tetapi semakin jauh dari pengalaman hidup manusia. Hukum bekerja sangat cepat pada dokumen. Tetapi ia sering lambat membaca luka sosial.

Ketika emas dianggap sepenuhnya milik negara, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: di mana negara ketika rakyat tetap miskin di atas tanah yang kaya? Di sinilah kritik terhadap hukum modern menjadi penting. Roberto Unger dalam pendekatan Critical Legal Studies mengingatkan bahwa hukum sering kali tidak benar benar netral, sebab ia bekerja di dalam struktur kuasa tertentu.

Karena itu, hukum dapat tampil sangat keras terhadap mereka yang tidak memiliki kekuatan ekonomi dan politik, tetapi jauh lebih hati hati terhadap kepentingan besar yang dibungkus legalitas administratif.

Jika kita jujur, hukum di banyak tempat sering lebih mudah menjangkau rakyat kecil dibanding menjangkau struktur besar yang menghasilkan ketimpangan itu sendiri. Yang disebut ilegal adalah rakyat kecil yang menggali batu tanpa izin. Tapi yang disebut pembangunan adalah eksploitasi besar yang kadang meninggalkan kerusakan ekologis dan ketimpangan sosial bertahun tahun.

Baca Juga  Doa Pagi: Rezeki Lancar, Hati Tentram

Ketika ketimpangan seperti itu mulai dianggap biasa, itu tanda bahwa prosedur perlahan lebih dihormati daripada kehidupan manusia itu sendiri.

Padahal di banyak wilayah NTT, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah rahim kehidupan. Di sanalah jagung ditanam. Di sanalah orang tua dimakamkan. Di sanalah identitas keluarga dan suku diwariskan. Kita sering membaca tanah hanya sebagai objek produksi. Tetapi jika kita jujur, bagi banyak masyarakat NTT, tanah adalah bagian dari martabat hidup mereka.

Karena itu, ketika hasil bumi diperlakukan semata sebagai objek legalitas tanpa dialog sosial dan budaya, masyarakat kecil perlahan merasa asing di tanahnya sendiri.

Yang sering kita lewatkan adalah: sejak awal Alkitab tidak pernah memandang tanah sebagai benda mati. Dalam Kejadian 2:7, manusia dibentuk dari debu tanah dan menerima nafas hidup dari Allah. Artinya, hubungan manusia dan tanah bukan sekadar hubungan ekonomi. Ada hubungan spiritual dan eksistensial di dalamnya.

Dalam Kejadian 1:29–30, Tuhan memberikan bumi dan tumbuh tumbuhan sebagai penopang kehidupan bersama, bukan sebagai alat keserakahan segelintir pihak. Dalam Imamat 25:23, Tuhan berkata, “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu.” Kalimat ini sederhana, tetapi sangat radikal. Tanah tidak boleh sepenuhnya tunduk pada kerakusan manusia, sebab tanah pada akhirnya adalah titipan Allah bagi kehidupan bersama.

Di titik ini, saya teringat gaya refleksi Eka Darmaputera yang selalu berusaha membawa iman turun dari langit abstraksi ke tanah tempat manusia bergumul. Teologi bukan pertama tama soal istilah besar, tetapi soal apakah manusia masih bisa hidup bermartabat di tengah sistem yang sering kehilangan belas kasih.

Karena itu, kritik ekologis sebenarnya bukan isu tambahan dalam iman. Ia bagian dari tanggung jawab moral terhadap kehidupan. Di sinilah Laudato Si’ menjadi sangat relevan. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama dan manusia dipanggil menjaga relasi moral dengan ciptaan, bukan mengubahnya menjadi objek keserakahan tanpa batas.

Tetapi dunia modern perlahan membangun berhala baru: birokrasi tanpa empati. Kita mulai mengukur keadilan hanya berdasarkan dokumen, izin dan prosedur, sementara penderitaan sosial dianggap urusan yang datang belakangan.

Konsep resource curse menjelaskan ironi ini dengan sangat telanjang. Sachs dan Warner menunjukkan bahwa wilayah kaya sumber daya sering justru mengalami kemiskinan, konflik sosial dan ketimpangan ekonomi yang tinggi. NTT sedang berdiri sangat dekat dengan ironi itu. Tanah kaya. Tetapi banyak rakyat tetap hidup dalam ketidakpastian. Sumber daya melimpah. Tetapi anak muda terus pergi merantau karena tidak menemukan masa depan.

Baca Juga  Ramadan Istimewa: 5 Perbedaan Mencolok

Dan ketika masyarakat kecil mencoba mengais hidup dari tanahnya sendiri, negara sering hadir pertama tama sebagai pengawas legalitas, bukan sebagai pelindung martabat mereka.

Menuju Keadilan yang Beriman

Kita sering membaca para nabi dalam Alkitab hanya sebagai tokoh agama. Tetapi jika kita jujur, para nabi adalah suara yang terus menggugat ketidakadilan sosial. Nabi Yesaya mengecam mereka yang “menambah rumah demi rumah dan ladang demi ladang” sampai tidak ada lagi ruang bagi orang lain. Nabi Mikha berbicara tentang orang yang merampas ladang dan mengambilnya dengan kekerasan. Bahkan kisah kebun anggur Nabot dalam 1 Raja Raja 21 memperlihatkan bagaimana hukum dapat dipakai untuk membenarkan pengambilan ruang hidup rakyat kecil secara resmi dan legal.

Yang sering kita lewatkan adalah: Alkitab tidak pernah memisahkan iman dari keadilan sosial. Karena itu aparat hukum hari ini tidak cukup hanya menjadi penjaga gerbang emas. Mereka juga harus menjadi penjaga keadilan kemanusiaan.

Sebab hukum tanpa empati perlahan berubah menjadi mesin administratif yang dingin. Ia sibuk menjaga prosedur, tetapi lupa menjaga manusia. Pertanyaan paling pentingnya bukan lagi sekadar: apakah batu itu ilegal? Pertanyaan yang jauh lebih mengguncang adalah: apakah hukum kita masih menjaga manusia, atau hanya menjaga prosedur?

Saya teringat Roma 8:22 yang mengatakan bahwa “seluruh makhluk sama sama mengeluh.” Ayat ini bukan sekadar metafora rohani. Ia menggambarkan dunia yang terluka oleh ketidakadilan manusia. Tanah mengeluh. Sungai mengeluh. Hutan mengeluh. Dan sering kali rakyat kecil ikut mengeluh bersama tanah yang kehilangan suaranya.

Pada akhirnya, batu emas di bandara itu mungkin hanyalah serpihan kecil dari luka yang lebih besar di NTT. Sebab yang sedang kita hadapi bukan hanya tambang ilegal, tetapi nalar hukum yang perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara menjaga prosedur dan menjaga manusia. Mungkin di situlah ironi terbesar kita hari ini: tanah yang sejak awal diciptakan Tuhan untuk menopang kehidupan bersama, perlahan berubah menjadi barang bukti, sementara manusia yang hidup darinya semakin kehilangan tempat di negerinya sendiri.

Tags: menghukummenyembahopini:
  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi
Opini

Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi

17 Mei 2026 - 21:13
Orang Pintar yang Datang Awal dan Pulang Tepat Waktu Memiliki 7 Kebiasaan Ini
Opini

Orang Pintar yang Datang Awal dan Pulang Tepat Waktu Memiliki 7 Kebiasaan Ini

17 Mei 2026 - 19:07
Jika Pernah Minta Maaf Karena Menangis, Kamu Mungkin Alami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa
Opini

Jika Pernah Minta Maaf Karena Menangis, Kamu Mungkin Alami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa

17 Mei 2026 - 18:13
Perasaan Lebih Tenang, 4 Zodiak Ini Dapat Petunjuk Penting dari Alam Semesta
Opini

Perasaan Lebih Tenang, 4 Zodiak Ini Dapat Petunjuk Penting dari Alam Semesta

17 Mei 2026 - 17:55
Jangan Salah Paham! 9 Weton Ini Kaya dari Kerja, Bukan Hal Lain
Opini

Jangan Salah Paham! 9 Weton Ini Kaya dari Kerja, Bukan Hal Lain

17 Mei 2026 - 17:01
Jika Anda Kembalikan Troli Tanpa Diminta, Ini 8 Ciri Kepribadian Langka Menurut Psikologi
Opini

Jika Anda Kembalikan Troli Tanpa Diminta, Ini 8 Ciri Kepribadian Langka Menurut Psikologi

17 Mei 2026 - 15:13
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

6 Desember 2025 - 03:04
Cak Nur dan Hardi Selamat Hood mendatangi kantor KPU Kota Batam untuk mendaftarkan diri maju di Pilkada tahun 2024. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

29 Agustus 2024 - 18:04
Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

10 Maret 2026 - 21:44
Sidang pembacaan tuntutan terdakwa mantan Kasat Resnarkoba Polresta Barelang, Kompol Satria Nanda di PN Batam. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

26 Mei 2025 - 16:54
35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

35 Soal Tes Excel: Dasar, Rumus, Fungsi & Jawaban

20 Desember 2025 - 16:45
Rumah Warga Sleman Jadi Daycare Ilegal, Polisi Temukan 11 Bayi dalam Perawatan

Rumah Warga Sleman Jadi Daycare Ilegal, Polisi Temukan 11 Bayi dalam Perawatan

17 Mei 2026 - 21:50
PLN UP3 Pematangsiantar Hadirkan Harapan, Pasang Listrik Gratis untuk Warga Prasejahtera

PLN UP3 Pematangsiantar Hadirkan Harapan, Pasang Listrik Gratis untuk Warga Prasejahtera

17 Mei 2026 - 21:32
Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi

Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi

17 Mei 2026 - 21:13
Panduan Lengkap Solo Traveling ke Singapura dengan Budget Minim

Panduan Lengkap Solo Traveling ke Singapura dengan Budget Minim

17 Mei 2026 - 21:03
45 Soal SAT PAI Kelas 4 SD 2026 dengan Jawaban

45 Soal SAT PAI Kelas 4 SD 2026 dengan Jawaban

17 Mei 2026 - 20:55

Pilihan Redaksi

Rumah Warga Sleman Jadi Daycare Ilegal, Polisi Temukan 11 Bayi dalam Perawatan

Rumah Warga Sleman Jadi Daycare Ilegal, Polisi Temukan 11 Bayi dalam Perawatan

17 Mei 2026 - 21:50
PLN UP3 Pematangsiantar Hadirkan Harapan, Pasang Listrik Gratis untuk Warga Prasejahtera

PLN UP3 Pematangsiantar Hadirkan Harapan, Pasang Listrik Gratis untuk Warga Prasejahtera

17 Mei 2026 - 21:32
Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi

Orang yang Menghabiskan Pasta Gigi Tunjukkan 8 Sifat Ini, Menurut Psikologi

17 Mei 2026 - 21:13
Panduan Lengkap Solo Traveling ke Singapura dengan Budget Minim

Panduan Lengkap Solo Traveling ke Singapura dengan Budget Minim

17 Mei 2026 - 21:03
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.