Kritik Pedas Anggota DPR RI Terhadap Laporan Menteri ESDM Soal Listrik Aceh
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Gerindra, TA Khalid, melayangkan kritik keras terhadap laporan yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terkait kondisi kelistrikan di Aceh pasca-bencana banjir dan longsor. Khalid menilai laporan tersebut tidak akurat dan bahkan menuding Bahlil telah memberikan informasi yang tidak benar kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ketidaksesuaian Data dan Dampaknya
Menurut Khalid, laporan yang disampaikan Bahlil tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Saat laporan tersebut disampaikan, sebagian besar wilayah di 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor masih mengalami pemadaman listrik. Khalid mengungkapkan bahwa berdasarkan data yang ia peroleh, listrik baru menyala sekitar 60 persen di wilayah-wilayah tersebut.
“Saat ini baru 60 persen listrik menyala di 18 kabupaten/kota yang terdampak banjir dan longsor di Aceh. Saya minta seluruh menteri untuk melaporkan data yang benar kepada Presiden, jangan bohongi Presiden, sehingga beliau bisa mengambil kebijakan yang tepat dan benar untuk rakyat,” tegas Khalid.
Khalid menekankan bahwa ketidakakuratan data dapat berdampak serius pada penanganan bencana di Aceh. Informasi yang tidak benar dapat memperlambat proses pemulihan dan merugikan masyarakat yang terdampak.
“Laporkan data sesungguhnya, jangan asal bapak senang. Seluruh menteri saya minta untuk tidak bohongi Presiden soal banjir di Aceh,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Khalid memperingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, masyarakat Aceh akan dirugikan. Ia khawatir bahwa ketidakakuratan data juga akan memengaruhi proses pembangunan hunian sementara bagi korban bencana.
“Bisa jadi saat hunian sementara dibangun, data sesungguhnya juga akan dikurangi. Ini akan mengadu pemimpin lokal di Aceh dengan rakyatnya,” tambahnya.
Khalid menegaskan bahwa semua pihak, terutama para pejabat pemerintah, harus bekerja untuk kepentingan rakyat. Ia mengingatkan agar rakyat tidak menjadi korban atas laporan palsu yang disampaikan kepada Presiden.
Klaim Menteri ESDM dan Respon Presiden
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kondisi kelistrikan di Aceh telah pulih sekitar 97 persen. Laporan ini disampaikan saat Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Aceh.
“Malam ini nyala semua, Pak. Seluruh Aceh, 97 persen sudah menyala malam ini,” kata Bahlil kepada Presiden.
Presiden Prabowo mengapresiasi upaya percepatan pemulihan tersebut. “Terima kasih, alhamdulillah,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Presiden juga menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai komandan satuan tugas (satgas) percepatan perbaikan jembatan yang terdampak bencana.
Kekecewaan Masyarakat dan Klarifikasi Pemerintah Aceh
Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang mengklaim kondisi kelistrikan Aceh sudah pulih 97 persen menuai kekecewaan di kalangan masyarakat. Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, angkat bicara terkait klaim tersebut.
Menurut MTA, pihaknya perlu melakukan klarifikasi untuk menjaga kondusivitas di tengah masyarakat. Ia mengakui bahwa banyak masyarakat yang merasa kecewa dan berpotensi resisten terhadap petugas PLN di lapangan.
“Kami memandang perlu klarifikasi untuk kondusivitas masyarakat. Banyak masyarakat merasa kecewa dan berpotensi resisten bagi tenaga PLN di lapangan,” kata MTA.
MTA menjelaskan bahwa berdasarkan pertemuan terakhir dengan pihak PLN, potensi suplai listrik seluruh Aceh terhadap jaringan menengah baru mencapai 60-70 persen. Untuk Kota Banda Aceh sendiri, kondisi kelistrikan saat ini masih pada posisi 35-40 persen menyala.
Namun, MTA menambahkan bahwa apabila suplai tegangan tinggi dari pembangkit listrik di Arun selesai, maka berpotensi besar 100 persen menyala karena nyaris tidak ada masalah pada jaringan tegangan rendah di masyarakat.
Mengenai daerah yang paling parah rusaknya jaringan arus menengah, seperti Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Aceh Timur, persentasenya masih di bawah 40 persen. Kota Lhokseumawe sekitar 75 persen, sedangkan untuk wilayah Barat Selatan secara keseluruhan 70-80 persen.
MTA berharap agar kekeliruan yang disampaikan oleh Menteri ESDM tidak mengakibatkan kekecewaan masyarakat terhadap petugas PLN di lapangan, apalagi sampai terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap mereka. Ia juga menyampaikan bahwa terdapat hampir 1.000 petugas PLN yang didatangkan dalam upaya pemulihan listrik untuk masyarakat Aceh.
“Kami berharap semua pihak harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait kebijakan publik apalagi di tengah bencana yang berpengaruh besar terhadap psikologi masyarakat korban dan terhadap pemerintahan. Cintailah Aceh,” pungkasnya.
Kondisi Listrik di Aceh Masih Padam
Pada Senin malam, beberapa wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman listrik. Wilayah-wilayah tersebut antara lain sebagian Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues. Kondisi ini jelas bertentangan dengan klaim Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyatakan bahwa 97 persen wilayah Aceh telah menyala pada Minggu malam.
Beberapa warga di wilayah Aceh yang dihubungi secara terpisah menyatakan bahwa listrik di tempat tinggal mereka masih padam.
Ombudsman RI Turut Angkat Bicara
Ombudsman RI juga meminta seluruh instansi terkait, termasuk Kementerian ESDM dan PLN, untuk menyampaikan informasi yang akurat, faktual, dan sesuai kondisi lapangan mengenai pemulihan listrik pascabencana banjir di Aceh.
Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro, menegaskan bahwa penyampaian informasi yang tidak sesuai fakta justru dapat menghambat pemulihan layanan publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
“Dalam kondisi bencana, masyarakat tidak membutuhkan laporan yang dibuat untuk menyenangkan pimpinan,” ujar Johanes. “Sampaikan kondisi apa adanya, apa yang sudah dikerjakan, apa kendalanya, dan area mana yang masih padam.”
Johanes menambahkan bahwa pemantauan Ombudsman RI menemukan ketidaksinkronan antara laporan yang disampaikan kepada Presiden dengan kondisi di lapangan.



















