Xiaomi Auto Kembali Jadi Sorotan Setelah Kalah di Pengadilan
Xiaomi Auto kembali menjadi perbincangan setelah pengadilan menengah di Suzhou, Tiongkok, menolak banding perusahaan terkait kasus iklan menyesatkan mobil listrik SU7 Ultra. Keputusan ini menunjukkan bahwa transparansi dan kejujuran dalam pemasaran tetap menjadi aspek penting, bahkan bagi perusahaan besar seperti Xiaomi yang kini aktif di pasar mobil listrik.
Masalah bermula dari klaim promosi yang dianggap menyesatkan oleh konsumen. Dalam iklan, Xiaomi menyebut bahwa SU7 Ultra memiliki fitur desain aerodinamis “dual-duct prototype” yang diklaim mampu mengalirkan udara langsung ke hub roda untuk membantu pendinginan. Namun, setelah mobil diterima, pembeli menemukan bahwa klaim tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, sehingga mereka menggugat Xiaomi atas dugaan iklan palsu.
Pengadilan Tegaskan Xiaomi Bersalah
Menurut laporan CarNewsChina, Pengadilan Menengah Suzhou menguatkan putusan pengadilan sebelumnya yang menyatakan Xiaomi Auto bersalah dalam kasus iklan menyesatkan. Dengan keputusan ini, Xiaomi diwajibkan mengembalikan uang jaminan konsumen sebesar 20.000 yuan (sekitar Rp46,6 juta), membayar kompensasi tiga kali lipat dari harga aksesori senilai total 126.000 yuan (sekitar Rp293,6 juta), dan menanggung biaya hukum sebesar 10.000 yuan (sekitar Rp23,3 juta). Putusan ini menegaskan bahwa produsen otomotif harus bertanggung jawab atas klaim yang mereka buat dalam materi pemasaran.
Klaim Fitur Tidak Sesuai Kenyataan

Permasalahan berawal dari pembeli yang merasa dirugikan setelah menemukan bahwa kap mesin serat karbon pada SU7 Ultra seharga 42.000 yuan (sekitar Rp97,8 juta) tidak memiliki saluran udara atau fungsi pendinginan seperti yang dijanjikan. Setelah dilakukan pembongkaran, diketahui bahwa struktur bagian dalam kap mesin tersebut nyaris sama dengan versi aluminium standar, hanya berbeda bobot sekitar 1,3 kilogram. Hal ini memicu dugaan bahwa Xiaomi telah membuat pernyataan berlebihan dalam iklannya untuk meningkatkan daya tarik produk.
Upaya Damai Gagal Berujung Banding

Xiaomi sempat mencoba menyelesaikan masalah secara damai. Pada Mei lalu, perusahaan menawarkan dua opsi: pembeli yang belum menerima kendaraan dapat mengganti kap serat karbon dengan versi aluminium, sedangkan mereka yang sudah menerima kendaraan akan mendapat kompensasi berupa 20.000 poin loyalitas senilai 2.000 yuan (sekitar Rp4,6 juta). Namun, tawaran tersebut ditolak oleh konsumen yang merasa nilai kompensasi terlalu kecil dibandingkan kerugian yang dialami. Kasus pun berlanjut ke pengadilan hingga akhirnya Xiaomi kalah dalam dua tingkat peradilan.
Putusan ini menjadi peringatan bagi industri otomotif, terutama bagi perusahaan baru di sektor kendaraan listrik, untuk lebih berhati-hati dalam membuat klaim promosi. Konsumen kini semakin cerdas dan kritis, sementara regulasi iklan di Tiongkok juga makin ketat untuk melindungi hak-hak pembeli. Bagi Xiaomi, kekalahan ini bukan hanya soal kompensasi finansial, tetapi juga reputasi di tengah persaingan ketat pasar mobil listrik global.
Xiaomi SU7 Ultra Debut di Jepang!



















