Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Operasi Militer AS: Kemitraan Palantir dan Anthropic
Militer Amerika Serikat, melalui Pentagon, telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) canggih dalam operasi mereka, terutama dalam analisis intelijen dan penentuan target. Kemitraan strategis antara perusahaan teknologi pertahanan Palantir dan pengembang AI Anthropic menjadi kunci dalam evolusi ini. Model AI Claude dari Anthropic kini menjadi bagian integral dari sistem yang dikembangkan Palantir bersama Pentagon, yang bertujuan untuk mempercepat proses identifikasi target hingga persetujuan hukum dan peluncuran serangan, yang secara efektif memperpendek “rantai pembunuhan”.
Palantir Technologies, yang didirikan pada tahun 2003, dikenal karena menyediakan perangkat lunak analitik big data yang dirancang untuk organisasi kompleks, badan intelijen pemerintah, dan sektor komersial. Sementara itu, Anthropic, yang didirikan pada tahun 2021, menawarkan model bahasa besar (LLM) bernama Claude. Prinsip-prinsip “Constitutional AI” Anthropic berfokus pada keamanan AI, membimbing Claude untuk memberikan respons yang bermanfaat sambil menghindari perilaku berbahaya seperti bias.
Inisiatif Pentagon dalam mengadopsi AI dimulai pada tahun 2017 dengan “Project Maven” atau Algorithmic Warfare Cross Functional Team (AWCFT). Proyek ini dirancang untuk mempercepat adopsi machine learning dan integrasi data dalam alur kerja intelijen militer AS. Kekhawatiran mengenai kemajuan AI di bidang pertahanan oleh negara lain, seperti Tiongkok, mendorong inisiatif ini. AWCFT mengintegrasikan data dari berbagai sumber, termasuk drone, satelit, dan sensor lainnya, untuk mengidentifikasi dan melacak objek atau individu yang menjadi perhatian dari citra diam atau video.
Beberapa kontraktor ternama turut mendukung Project Maven, termasuk Google, Palantir, Anduril, Amazon Web Services, dan Anthropic. Namun, Google menarik diri pada tahun 2018 setelah ribuan karyawannya memprotes penggunaan teknologi AI dalam “bisnis perang”. Untuk mengelola dan mempercepat adopsi AI secara terkoordinasi, Pentagon mendirikan Joint Artificial Intelligence Center (JAIC) pada tahun 2018, yang berfungsi sebagai pusat pengembangan, regulasi, dan implementasi AI di seluruh matra militer.
Evolusi Proyek Maven dan Kemitraan Strategis
Proyek Maven terus berkembang. Pada tahun 2022, terjadi transisi besar dengan peningkatan batas kontrak untuk Maven Smart System (MSS) dari Palantir Technologies menjadi hampir US$1,3 miliar hingga tahun 2029. Lebih lanjut, pada Juli 2025, Angkatan Darat AS menandatangani kontrak senilai hingga US$10 miliar dengan Palantir untuk jangka waktu 10 tahun. Kontrak ini menyatukan puluhan kontrak sebelumnya menjadi satu kesepakatan terpadu, mempercepat pengiriman perangkat lunak komersial siap pakai, dan memberikan akses cepat bagi personel militer ke solusi integrasi data, analitik, dan alat AI canggih. Palantir juga telah menjalin kesepakatan dengan NATO untuk penggunaan MSS.
Kemitraan formal antara Anthropic dan Palantir, bersama Amazon Web Services (AWS), diumumkan pada 7 November 2024. Kolaborasi ini mengintegrasikan LLM Claude, termasuk versi terbaru Claude 4, ke dalam Palantir Artificial Intelligence Platform (AIP). Kemitraan ini memberikan akses AI kepada badan intelijen dan pertahanan Amerika Serikat untuk mendukung operasi militer dan keamanan nasional. Layanan ini beroperasi dalam lingkungan terakreditasi Impact Level 6 (IL6), yang memungkinkan Claude memproses data rahasia yang sangat sensitif. Claude digunakan untuk analisis data kompleks, pengenalan pola yang cepat, dan membantu pengambilan keputusan dalam situasi kritis.
Namun, kemitraan ini tidak lepas dari kontroversi. Pada Januari 2026, Anthropic menyatakan keberatan atas penggunaan Claude oleh militer AS dalam operasi yang bertujuan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Perusahaan menegaskan bahwa ketentuan penggunaannya jelas melarang Claude digunakan untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan.
Arsitektur Teknologi AI Palantir
Palantir mengembangkan empat platform utama yang bekerja secara terpadu sebagai “AI Mesh”:
- Gotham: Platform untuk intelijen.
- Foundry: Platform untuk operasi data.
- Apollo: Platform untuk manajemen perangkat lunak.
- AIP (Artificial Intelligence Platform): Platform untuk analisis dan otomasi berbasis AI.
Proses kerja teknologi Palantir dapat digambarkan sebagai berikut: data mentah diproses dan dipahami, AI kemudian memberikan wawasan (insight), dan hasil analisis dapat langsung digunakan dalam aplikasi atau sistem lain.
Palantir tidak hanya menyimpan data mentah, tetapi juga membangun “Ontology”. Ontology ini berfungsi sebagai peta informasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai entitas dalam data, seperti objek, kejadian, lokasi, dan aturan bisnis. Foundry Ontology membantu AI memahami konteks nyata dari berbagai sumber data, mulai dari tabel, sensor, teks tidak terstruktur, hingga foto dan video, sehingga analisis menjadi lebih bermakna. Analogi sederhananya, jika data adalah tumpukan buku acak, Ontology adalah katalog yang menandai isi setiap buku, memungkinkan AI menemukan jawaban tanpa harus membuka satu per satu.
AIP bertindak sebagai “otak” analisis dan otomasi. AIP menghubungkan model AI, termasuk LLM Claude, untuk mengotomatisasi berbagai proses seperti analisis data, pembuatan ringkasan, klasifikasi informasi, dan prediksi tren.
Apollo menjadi lapisan dasar dari AI Mesh, bertanggung jawab untuk mendistribusikan perangkat lunak ke berbagai lingkungan, baik itu cloud, server internal, maupun sistem edge otomatis. Dengan Apollo, aplikasi AI dapat dijalankan secara otomatis tanpa campur tangan manual, memastikan kecepatan dan konsistensi. Palantir dapat mengelola versi, pembaruan, dan pemantauan aplikasi untuk menjaga keamanan dan optimalisasi.
Teknologi Palantir telah diterapkan secara luas di Pentagon untuk intelijen dan operasi. Melalui Maven dan kontrak serupa, Palantir digunakan untuk analisis video drone, menggabungkan berbagai sumber intelijen, dan mendukung pengambilan keputusan taktis. Arsitektur cloud-agnostic yang fleksibel memungkinkan pengembangan di lingkungan sensitif sambil memastikan kelangsungan operasi kritis.
Kemampuan Model AI Claude Terbaru
Model LLM Claude terbaru dari Anthropic hadir dalam beberapa versi dengan kemampuan yang bervariasi, termasuk Claude Opus 4.5, Claude Sonnet 4, Claude Sonnet 3.7, Claude Sonnet 3.5, dan Claude Haiku 4.5. Semua model ini mendukung pemrosesan konteks hingga 200 ribu token, mempermudah pemahaman dokumen yang panjang atau kompleks. Varian Opus dan Sonnet bahkan mampu menganalisis gambar, seperti citra satelit atau foto medan.
Varian “Extended thinking” pada Sonnet memungkinkan model AI untuk memahami dokumen intelijen, laporan sensor, komunikasi musuh, atau lapisan data lainnya dalam satu proses yang berkelanjutan. Anthropic juga memperkenalkan kemampuan “Agent Skills”, yang memungkinkan Claude memuat instruksi, skrip, dan sumber daya tertentu secara dinamis untuk melakukan tugas-tugas khusus, seperti integrasi dengan aplikasi Office, Excel, atau file PDF.
Inisiatif Pentagon Lainnya: GenAI.mil dan Google Gemini
Menjelang akhir tahun 2025, Pentagon meluncurkan GenAI.mil, sebuah platform AI komprehensif yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan AI di seluruh angkatan bersenjata AS. Platform ini menempatkan model AI Google Gemini langsung ke tangan setiap prajurit Amerika. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa model AI di GenAI dapat digunakan untuk melakukan penelitian mendalam, memformat dokumen, dan menganalisis video atau gambar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penegasan ini mengindikasikan komitmen AS untuk terus mengerahkan teknologi terbaik demi meningkatkan kekuatan tempur.


















