Kabar terbaru datang dari dunia hiburan tanah air, di mana aktor dan musisi Aldi Taher tengah berjuang mendampingi sang ibunda, Rosita, dalam masa pemulihan pasca mengalami serangan stroke kelima kalinya. Meskipun cobaan berat menghampiri, Aldi menunjukkan keteguhan hati dan rasa syukur atas perkembangan positif yang mulai terlihat pada kondisi kesehatan ibundanya. Ia secara konsisten hadir dan mendampingi sang ibu dalam setiap sesi terapi yang dijalani.
“Alhamdulillah perlahan-lahan sudah mulai membaik. Kita terapiin terus karena kan stroke kelima yang terakhir ya,” ungkap Aldi Taher saat ditemui di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada Sabtu (28/3/2026). Pernyataan ini mencerminkan optimisme Aldi di tengah perjuangan pemulihan ibundanya.
Sebelumnya, kondisi kesehatan Rosita sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ia bahkan mengalami kesulitan dalam mengonsumsi makanan, sehingga mengharuskan penggunaan selang makan (sonde). Namun, kabar baiknya, alat bantu tersebut kini telah berhasil dilepas, menandakan kemajuan dalam kemampuan makan ibunda Aldi.
“Itu sempat pakai sonde, selang ke mulut ya, makan lewat selang. Alhamdulillah selangnya dicopot,” ceritanya, sembari menunjukkan kelegaan atas perkembangan tersebut.
Saat ini, fokus utama perawatan untuk ibunda Aldi dilakukan di rumah. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan kenyamanan dan perhatian yang lebih intensif, dengan penekanan pada pemulihan dua aspek krusial: kemampuan gerak dan fungsi bicara.
“Sekarang lagi terapi lehernya untuk bisa gerak, terus terapi bicara,” jelas Aldi. Ia menambahkan bahwa stroke memang merupakan kondisi yang datang secara tiba-tiba namun proses pemulihannya membutuhkan waktu dan kesabaran yang panjang.
Tantangan Pasca Stroke
Serangan stroke kelima yang dialami oleh ibunda Aldi Taher tentu membawa tantangan tersendiri. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kesulitan dalam berkomunikasi. Aldi menjelaskan bahwa pada stroke terakhir, ibundanya mengalami hambatan dalam berbicara, yang memerlukan intervensi terapi intensif.
“Ngomongnya pas stroke yang terakhir itu Ibu agak sulit jadi harus diterapi… stroke itu kan datangnya cepat, perginya lama. Jadi kita rawat di rumah,” tambahnya. Pengalaman ini menekankan pentingnya perawatan berkelanjutan dan lingkungan yang mendukung bagi pasien pasca stroke.
Peran Anak dalam Pemulihan
Sebagai seorang anak, Aldi Taher tidak hanya berperan sebagai pendukung dalam perawatan medis, tetapi juga sebagai sumber kekuatan spiritual dan emosional bagi ibundanya. Ia secara rutin menjalankan ritual yang penuh makna, sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk kesembuhan sang ibu.
“Ritual, bismillah. Yang alhamdulillah selalu saya lakukan keluar rumah, bismillah cium kaki ibu,” ungkap Aldi. Tindakan sederhana namun penuh makna ini menunjukkan kedalaman kasih sayang dan baktinya kepada orang tua.
Pentingnya Terapi Pasca Stroke
Kasus yang dialami ibunda Aldi Taher kembali menegaskan pentingnya terapi pasca stroke. Pemulihan fungsi gerak dan bicara seringkali membutuhkan waktu yang panjang dan konsistensi dalam menjalani program terapi.
- Terapi Fisik: Bertujuan untuk mengembalikan kekuatan otot, koordinasi, dan keseimbangan. Latihan-latihan seperti peregangan, penguatan, dan latihan keseimbangan sangat vital.
- Terapi ini biasanya melibatkan gerakan-gerakan sederhana yang secara bertahap ditingkatkan intensitasnya.
- Fokus pada area yang terdampak, seperti leher, tangan, atau kaki, tergantung pada bagian otak yang terkena stroke.
- Terapi Wicara: Penting bagi pasien yang mengalami kesulitan berbicara (disartria) atau kesulitan memahami dan menghasilkan bahasa (afasia).
- Tujuan utama adalah untuk meningkatkan kemampuan artikulasi, kelancaran bicara, dan pemahaman.
- Melibatkan latihan pengucapan kata, kalimat, serta latihan pemahaman instruksi.
- Terapi Okupasi: Membantu pasien untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, berpakaian, dan mandi, dengan kemandirian yang lebih besar.
- Fokus pada adaptasi lingkungan dan penggunaan alat bantu jika diperlukan.
Perawatan di rumah yang didukung oleh keluarga, seperti yang dilakukan Aldi Taher, memainkan peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemulihan. Dukungan emosional dan motivasi dari orang terdekat dapat sangat berpengaruh pada kemajuan pasien.
Kisah Aldi Taher ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kesabaran, ketekunan, dan kasih sayang dalam menghadapi kondisi kesehatan yang berat, terutama bagi para lansia yang rentan terhadap penyakit seperti stroke.


















