Tokoh Kunci Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, Tewas dalam Serangan Udara Misterius
Iran tengah berduka atas gugurnya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur keamanan nasionalnya, Ali Larijani (67). Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran ini dilaporkan tewas bersama putranya, Morteza, dalam sebuah serangan udara yang diduga kuat melibatkan Israel dan Amerika Serikat. Insiden tragis ini terjadi pada Selasa, 17 Maret 2026, dini hari, dan telah mengguncang lanskap politik serta keamanan Iran.
Laporan awal mengenai kematian Larijani mulai beredar dari berbagai sumber terpercaya di dalam negeri. Kantor Berita Fars mengonfirmasi pada Rabu, 18 Maret 2026, bahwa serangan tersebut tidak hanya merenggut nyawa Larijani dan putranya, tetapi juga seorang ajudan serta beberapa pengikutnya yang berada di lokasi kejadian.
Serangan udara tersebut dilaporkan menargetkan sebuah rumah yang dimiliki oleh putri Larijani di kawasan Pardis, sebuah wilayah yang terletak di timur laut Teheran. Pada saat kejadian, Larijani diketahui tengah mengunjungi putrinya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi yang dirilis mengenai kondisi putri Larijani pasca-serangan.
Kawasan Pardis dilaporkan dihantam sekitar pukul 03.00 waktu setempat. Serangan ini merupakan bagian dari serangkaian serangan udara yang dilancarkan terhadap ibu kota Iran dan beberapa wilayah lainnya. Beberapa jam setelah ledakan dahsyat terdengar, spekulasi mengenai kehadiran sejumlah tokoh penting di lokasi kejadian, termasuk Larijani dan komandan pasukan keamanan internal Iran, mulai menyebar di kalangan warga dan sumber-sumber lokal.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kemudian memberikan konfirmasi yang mengejutkan, menyatakan bahwa Ali Larijani memang tewas dalam serangan tersebut. Pernyataan ini menambah bobot pada dugaan keterlibatan Israel dalam insiden tersebut.
Larijani: Figur Pragmatis dengan Pengaruh Luas
Kematian Ali Larijani merupakan pukulan telak bagi Iran, baik dari perspektif politik maupun keamanan nasional. Kehilangan sosok yang dianggap sebagai penghubung kunci dan penyeimbang di antara berbagai institusi penting Iran ini dikhawatirkan akan mengganggu koordinasi antara lembaga militer, keamanan, dan politik di negara tersebut.
Sebelum gugur dalam serangan tersebut, Larijani sempat menunjukkan kehadirannya di ruang publik. Ia terlihat mengikuti aksi unjuk rasa “Hari Quds” di Teheran. Melalui akun media sosial X, Larijani sempat menyampaikan pesan bahwa para pemimpin Iran tidak akan gentar menghadapi tekanan. Pesan ini seolah menjadi bantahan terhadap pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang menyebut para pemimpin Iran bersembunyi.
Ali Larijani berasal dari keluarga terkemuka di Iran, dengan akar yang kuat dalam tradisi ulama. Keluarganya memiliki pengaruh yang signifikan sejak Revolusi Iran tahun 1979. Sejumlah anggota keluarganya juga memegang posisi strategis dalam pemerintahan, menempatkan Larijani sebagai sosok pragmatis dengan pengaruh besar dalam perumusan kebijakan keamanan Iran.
Selain kiprahnya di dunia politik, Larijani juga dikenal memiliki latar belakang akademis yang mumpuni. Ia mendalami filsafat Barat dan pernah menulis tesis tentang pemikiran filsuf ternama, Immanuel Kant. Larijani juga merupakan figur penting dalam diplomasi Iran, termasuk perannya dalam mendukung kesepakatan nuklir dengan negara-negara Barat pada tahun 2015.
Jejak Karier Politik dan Keamanan Larijani
Perjalanan karier Ali Larijani di pemerintahan Iran terbilang panjang dan beragam. Ia pernah mengabdikan diri dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah organisasi militer yang memegang peran sentral dalam pertahanan dan keamanan Iran.
Pengalamannya tidak berhenti di situ. Larijani juga pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, sebuah posisi yang menunjukkan cakupan kiprahnya yang luas dalam pemerintahan. Puncaknya, ia memimpin lembaga penyiaran negara, IRIB, sebuah peran yang memberikannya pengaruh besar dalam penyampaian informasi dan narasi nasional.
Puncak karier politiknya yang paling menonjol adalah saat ia menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran. Larijani berhasil menduduki posisi prestisius ini selama tiga periode berturut-turut, dari tahun 2008 hingga 2020. Masa kepemimpinannya di parlemen menandai periode penting dalam dinamika legislatif Iran.
Pada tahun 2025, Larijani kembali menduduki posisi strategis yang sangat krusial, yaitu sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Dalam peran ini, ia menjadi salah satu arsitek utama dalam merancang dan mengimplementasikan strategi keamanan Iran. Fokus utamanya adalah menghadapi meningkatnya tekanan militer yang datang dari Amerika Serikat dan Israel. Ia juga memainkan peran vital dalam mengoordinasikan respons militer negara, termasuk dalam hal peluncuran rudal balasan, serta menjaga stabilitas domestik di tengah ketegangan regional.
Kehilangan Ali Larijani tidak hanya meninggalkan kekosongan dalam struktur kepemimpinan keamanan Iran, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan stabilitas dan arah kebijakan keamanan negara tersebut. Bagaimana Iran akan mengisi kekosongan ini dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan internasional, masih menjadi pertanyaan yang patut dicermati.

















