Seorang ambulans yang mengangkut pasien kritis sempat tertahan saat pengaturan lalu lintas diberlakukan di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, menjelang Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti pada Kamis, 1 Oktober 2026. Peristiwa itu terekam video dan kemudian ramai beredar di media sosial setelah memperlihatkan ketegangan di tengah iring-iringan kendaraan pejabat yang melintas.
Dalam rekaman yang viral, tampak seorang pria mengenakan baju abu-abu dan topi hitam mengendarai sepeda motor sambil berteriak ke arah rombongan kendaraan. Ia juga terlihat memukul salah satu mobil putih yang ikut dalam barisan tersebut. Dari keterangan yang muncul dalam video, pria itu diduga sedang mendampingi ambulans yang membawa ayahnya dalam kondisi sangat kritis.
Pria tersebut menyuarakan kekesalannya karena ambulans sempat tidak bisa langsung melaju akibat jalan ditutup sementara untuk memberi ruang bagi rombongan menuju lokasi upacara. Dalam video itu, ia terdengar meminta agar kendaraan darurat diberi kesempatan lewat karena menyangkut kondisi pasien yang disebut sudah genting.
Polsek Cipayung membenarkan adanya kejadian tersebut. Kapolsek Cipayung AKP Elka Rudlof menjelaskan, penutupan jalan dilakukan secara situasional dan hanya sesaat sebagai bagian dari pengamanan arus kendaraan tamu negara demi kelancaran agenda nasional. Menurut dia, pengaturan itu dilakukan agar rangkaian acara bisa berjalan tertib di sekitar lokasi upacara.
Meski demikian, Elka menegaskan bahwa ambulans tetap mendapat prioritas begitu petugas di lapangan mengetahui ada pasien kritis di dalamnya. Ia menyebut akses segera dibuka agar kendaraan medis itu dapat melintas tanpa hambatan lebih lanjut. “Begitu petugas di lapangan mengetahui ada ambulans membawa pasien kritis langsung dibuka akses prioritas dan ambulans bisa melintas dan dapat melanjutkan perjalanan dengan aman,” kata Elka, dikutip dari Wartakota.
Kepolisian juga menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi di lokasi. Elka menambahkan, insiden tersebut akan dijadikan bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang saat pengamanan kegiatan berskala besar di kemudian hari. “Masukan ini menjadi evaluasi kami,” ujarnya.
Kasus ini memicu sorotan publik karena mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama penting: pengamanan acara kenegaraan dan hak kendaraan darurat untuk memperoleh jalan prioritas. Dalam praktik lalu lintas, ambulans memang semestinya mendapat ruang utama ketika membawa pasien dalam kondisi darurat, sementara pengamanan kegiatan resmi membutuhkan rekayasa arus kendaraan yang ketat.
Sumber: www.gridoto.com




