Hubungan antara anak dan orang tua seringkali menjadi topik diskusi yang menarik, terutama ketika membicarakan kedekatan emosional. Secara umum, banyak orang beranggapan bahwa ikatan anak dengan ibu cenderung lebih kuat dibandingkan dengan ayah. Persepsi ini muncul karena ibu seringkali dianggap sebagai figur yang paling memahami perasaan anak, paling sabar dalam mendidik, dan paling sering hadir dalam setiap momen kehidupan anak. Akibatnya, muncul pula pandangan bahwa wajar, bahkan seharusnya, anak lebih menyayangi ibunya daripada ayahnya. Namun, benarkah kedekatan emosional yang dirasakan ini secara otomatis berarti tingkat kasih sayang anak kepada ibu harus lebih besar?
Mengurai Mitos: Kasih Sayang Anak kepada Orang Tua
Menanggapi anggapan yang kerap menguat, terutama saat peringatan Hari Ibu, para pakar psikologi memberikan pandangan yang lebih mendalam. Menurut Prof. Dr. Christin Wibhowo, seorang Guru Besar Fakultas Psikologi, pandangan bahwa anak harus lebih menyayangi ibu dibandingkan ayah tidak sepenuhnya tepat. Kasih sayang kepada kedua orang tua seharusnya tidak dipertentangkan. Anak perlu menyayangi dan menghormati ayah serta ibu secara seimbang.
Perbedaan yang mungkin terjadi bukanlah pada kuantitas kasih sayang, melainkan pada cara anak mengekspresikan perasaan mereka. Prof. Christin menjelaskan bahwa ibu biasanya memiliki kekuatan lebih dalam aspek afeksi dan perasaan. Oleh karena itu, anak-anak cenderung lebih romantis atau ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang mereka kepada ibu. Sebaliknya, kepada ayah, bentuk kasih sayang anak seringkali lebih banyak ditunjukkan melalui rasa hormat. Ini menunjukkan adanya perbedaan dalam relasi emosional, bukan berarti ada yang lebih atau kurang dalam hal kasih sayang.
Bahasa Kasih: Kunci Membangun Hubungan Erat
Prof. Christin lebih lanjut menguraikan bahwa hubungan yang hangat dan erat antara anak dan orang tua dapat dibangun dan diperkuat melalui pemahaman terhadap “bahasa kasih” atau love language. Konsep ini menekankan bahwa setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam memberi dan menerima kasih sayang.
Secara umum, terdapat lima bahasa kasih utama yang diakui:
- Kata-kata Afirmasi: Ungkapan pujian, penghargaan, dan kata-kata positif yang membangun semangat.
- Waktu Berkualitas: Memberikan perhatian penuh dan hadir secara utuh, melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan.
- Pemberian Hadiah: Memberikan benda sebagai simbol perhatian, kasih sayang, dan ingatan.
- Bantuan atau Pelayanan: Melakukan tindakan nyata yang membantu meringankan beban atau memenuhi kebutuhan orang lain.
- Sentuhan Fisik: Kontak fisik yang memberikan rasa nyaman, aman, dan kedekatan, seperti pelukan atau genggaman tangan.
Setiap anggota keluarga, baik anak maupun orang tua, bisa memiliki preferensi bahasa kasih yang berbeda. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap anggota keluarga untuk saling mengenali dan menyesuaikan diri dengan bahasa kasih satu sama lain.
Misalnya, jika salah satu orang tua memiliki bahasa kasih utama “waktu berkualitas”, maka hadiah mahal mungkin tidak sepenting meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama. Cukup dengan duduk bersama, mengobrol, atau melakukan hobi bersama dapat memberikan kepuasan emosional yang lebih besar. Sebaliknya, jika orang tua lebih menghargai “pemberian hadiah”, maka memberikan hadiah yang menunjukkan bahwa orang tua diperhatikan dan diingat akan sangat berarti.
Prinsip yang sama juga berlaku ketika orang tua ingin menunjukkan kasih sayang mereka kepada anak-anak. Memahami bahasa kasih anak akan membantu orang tua memberikan ekspresi kasih sayang yang paling bermakna bagi mereka, sehingga memperkuat ikatan emosional dan menciptakan hubungan yang harmonis. Dengan saling memahami dan menghargai perbedaan dalam mengekspresikan kasih sayang, hubungan anak dan orang tua dapat tumbuh semakin kuat dan sehat.




