Arkeolog Senior Bantah Teori “Out of Nusantara” Fadli Zon
JAKARTA – Teori “Out of Nusantara” yang dikemukakan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon menuai sanggahan keras dari kalangan arkeolog. Profesor Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog senior dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa manusia purba berasal dari Nusantara dan menyebar ke seluruh dunia. Sebaliknya, ia kembali menegaskan konsensus ilmiah global mengenai teori “Out of Africa”.
“Manusia Nusantara ini datang dari luar semua. Tidak ada yang tumbuh di Nusantara karena evolusi datang dari Afrika sana,” tegas Profesor Harry Truman Simanjuntak dalam keterangannya pada Rabu (29/10/2025).
Fadli Zon sebelumnya mengajukan sebuah teori alternatif yang menantang teori migrasi manusia purba yang selama ini diterima luas. Teorinya menyatakan bahwa persebaran manusia purba justru berawal dari wilayah Nusantara ke seluruh penjuru dunia.
Ketiadaan Bukti Ilmiah untuk “Out of Nusantara”
Profesor Harry Truman Simanjuntak secara gamblang menyatakan bahwa teori “Out of Nusantara” tidak didukung oleh bukti-bukti yang memadai. Ia membandingkannya dengan teori “Out of Africa” yang telah teruji dan didukung oleh berbagai disiplin ilmu.
“Teori Out of Africa didukung oleh bukti-bukti berbagai disiplin dan tidak ada yang meragukan itu. Bukti evolusi, arkeologi, dan tampilan fisiologi semuanya mendukung teori Out of Africa,” jelas Harry.
Ia secara spesifik membantah penggunaan fosil Homo erectus dari Indonesia sebagai bukti utama pendukung teori “Out of Nusantara”. Harry menjelaskan bahwa penemuan fosil Homo erectus tertua di Indonesia, yang berasal dari Sangiran dan Bumiayu, diperkirakan berusia antara 1,5 juta hingga 1,6 juta tahun.
Angka ini justru lebih muda dibandingkan fosil Homo erectus tertua yang ditemukan di Afrika, yang berusia sekitar 1,8 juta tahun. Hal ini secara kronologis melemahkan argumen bahwa Homo erectus di Nusantara adalah spesies yang lebih tua dan menjadi sumber migrasi.
Kekosongan Hunian dan Kedatangan Homo Sapiens
Lebih lanjut, Profesor Harry Truman mengemukakan adanya jeda waktu yang signifikan antara masa kehidupan Homo erectus dan munculnya Homo sapiens (manusia modern) di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia. Ia menyatakan bahwa sempat terjadi periode kekosongan hunian di wilayah ini sebelum kedatangan manusia modern.
“Sempat ada kekosongan hunian antara periode Homo erectus punah dan kedatangan Homo sapiens,” ujar Harry.
Ini berarti Homo erectus yang ditemukan di Trinil, Ngandong, Sangiran, atau Bumiayu bukanlah nenek moyang langsung dari Homo sapiens yang mendiami Nusantara saat ini. “Homo erectus itu tidak menurunkan Homo sapiens seperti kita,” tegasnya.
Menurut Harry, kepunahan Homo erectus meninggalkan kekosongan, yang diperparah oleh perubahan lingkungan di Pulau Jawa dari padang rumput menjadi hutan hujan, serta kemungkinan bencana alam yang terjadi sekitar 80.000 tahun lalu.
Manusia modern, Homo sapiens, baru mulai menghuni kawasan Nusantara sekitar 60.000 hingga 70.000 tahun lalu. Bukti keberadaan mereka dapat dilihat dari penemuan fosil di Gua Lida Ajer, Sumatera Barat.
Fosil dari Gua Lida Ajer ini juga sempat dijadikan argumen oleh Fadli Zon untuk mendukung teorinya. Namun, Harry Truman kembali menegaskan bahwa manusia yang menghuni Gua Lida Ajer pun merupakan pendatang, bukan asli dari Sumatera Barat.
“Lida Ajer juga berasal dari Afrika. Dia bukan berasal dari Sumatera,” ujar Harry, yang juga merupakan pendiri Center for Prehistoric and Austronesian Study (CPAS).
Ia berpendapat bahwa Homo sapiens yang menghuni Nusantara, termasuk yang pernah bermukim di Asia Tenggara daratan dan kepulauan, semuanya berasal dari Afrika.
Konsistensi Bukti Ilmiah dan Kronologi Evolusi
Perbedaan mendasar antara kedua teori terletak pada konsistensi bukti fosil. Di Afrika, penemuan fosil menunjukkan kelengkapan kronologis yang lebih baik, mulai dari Homo habilis, Homo erectus, hingga Homo sapiens. Sebaliknya, di Indonesia, terdapat ketidaksinambungan dalam temuan fosil yang gagal menunjukkan perkembangan linear dari Homo erectus menjadi Homo sapiens.
“Yang bermigrasi keluar dari Afrika adalah Homo erectus dan Homo sapiens,” pungkas Harry, menegaskan kembali arus migrasi manusia purba yang diakui secara ilmiah.
Politik dan Sains: Batasan yang Harus Dijaga
Profesor Harry Truman Simanjuntak menyayangkan pencampuran urusan politik dengan sains, terutama dalam konteks penyampaian teori “Out of Nusantara” oleh Fadli Zon. Ia menilai bahwa pernyataan tersebut tidak didukung oleh dasar ilmiah yang kuat, meskipun disampaikan dalam forum internasional seperti konferensi Persatuan Ilmuwan Prasejarah dan Protosejarah (UISPP) Inter-Regional Conference 2025 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
“Jadi malu sekali kita kalau urusan politik dibawa-bawa mencemari kebenaran ilmiah,” kata Harry.
Ia juga menekankan pentingnya membangun rasa bangga nasionalisme atas dasar ilmiah yang kokoh, bukan sekadar klaim yang tidak berdasar. “Membangun kebanggaan nasionalisme juga harus ada dasarnya,” ujarnya.
Klaim Fadli Zon: Gagasan “Out of Nusantara”
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memang mengajukan sebuah gagasan yang menantang teori “Out of Africa”. Ia berteori bahwa persebaran manusia ke seluruh dunia tidak dimulai dari Afrika, melainkan berawal dari Nusantara.
“Manusia purba Nusantara bisa berekspresi melalui jalur laut, tak hanya berjalan menyusuri benua seperti yang selama ini didiskusikan dalam teori Out of Africa. Gagasan Out of Nusantara menjadi semakin kuat dengan adanya bukti-bukti ini, bahwa persebaran manusia purba tidak hanya bersifat satu arah dari Afrika, melainkan dapat bermula justru dari wilayah Nusantara, atau Out of Nusantara,” demikian pernyataan Fadli Zon dalam siaran pers yang dibagikannya pada Selasa (28/10/2025).
Fadli Zon menunjuk kehidupan Homo erectus sebagai salah satu bukti dukungannya. Ia juga merujuk pada fosil Homo erectus temuan Eugene Dubois di Bengawan Solo yang baru saja dipulangkan dari Belanda ke Indonesia pada September lalu.
Selain itu, ia juga mengutip jejak awal Homo sapiens yang ditemukan di Gua Lida Ajer, Sumatera Barat, yang diperkirakan berusia lebih dari 60.000 tahun. Menurutnya, ini merupakan salah satu bukti tertua di dunia yang menunjukkan kemampuan manusia modern untuk hidup dan beradaptasi di ekosistem hutan hujan tertutup, bukan hanya sabana terbuka. Namun, klaim-klaim ini telah dibantah oleh para ahli arkeologi yang berpegang pada metodologi ilmiah yang mapan.

