Armenia dan AS Sepakati Kerja Sama Mineral dan Koridor Transit di Tengah Ketegangan dengan Rusia
Hubungan diplomatik antara Armenia dan Amerika Serikat (AS) semakin menguat dengan ditandatanganinya perjanjian kerja sama strategis yang mencakup sektor mineral dan pembukaan koridor transit. Kesepakatan ini dicapai oleh Menteri Luar Negeri Armenia, Ararat Mirzoyan, dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, hanya dua minggu sebelum pemilihan umum parlementer di Armenia. Langkah ini semakin menandakan pergeseran geopolitik di kawasan tersebut, mengingat hubungan Armenia dengan Rusia yang kian merenggang dalam beberapa tahun terakhir.
Konflik berkepanjangan dengan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh telah menjadi salah satu pemicu utama memburuknya hubungan antara Rusia dan Armenia. Akibatnya, Armenia secara bertahap mulai mempererat hubungan dengan Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat, mencari mitra baru untuk stabilitas ekonomi dan keamanan.
Rute Transit Baru: Peluang Pembangunan untuk Armenia
Perjanjian baru ini mencakup persetujuan Armenia untuk membuka koridor transit sebagai bagian dari rencana yang dikenal sebagai “Trump Route for International Peace and Prosperity” (TRIPP). Perjanjian ini memberikan hak kepada AS untuk mengelola jalur kereta api, jalan raya, dan jalur suplai energi di wilayah Armenia selama periode minimum 49 tahun.
Secara spesifik, perusahaan yang ditunjuk oleh AS akan memiliki 74 persen saham dalam TRIPP Development Company (TDC). Selain itu, perusahaan ini juga akan diberikan hak pengelolaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan berbagai hak operasional lainnya.
Menyikapi kesepakatan ini, Marco Rubio menyatakan, “Perjanjian ini menandai langkah besar untuk mewujudkan rute bersejarah menjadi kenyataan. Dengan ini diharapkan akan meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan di Armenia.” Pernyataan ini menggarisbawahi potensi ekonomi dan strategis yang dilihat AS dari kerja sama ini.
Rusia Pertanyakan Posisi Armenia dalam Uni Ekonomi Eurasia
Di sisi lain, langkah Armenia yang semakin mendekat ke Barat memicu kekhawatiran dan pertanyaan dari Rusia. Moskow secara terbuka mempertanyakan masa depan keanggotaan Armenia dalam Uni Ekonomi Eurasia (UEE), sebuah blok ekonomi yang dipimpin oleh Rusia. Penasihat Kebijakan Luar Negeri Rusia, Yury Ushakov, menyatakan bahwa keanggotaan Armenia dalam UEE sangat krusial bagi perekonomian negara Kaukasus Selatan tersebut.
“Pemimpin Rusia akan mendiskusikan dengan Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan soal konsekuensi keluarnya Armenia dalam UEE dan prospek hubungan dengan Yerevan di masa yang akan datang,” ujar Ushakov, mengindikasikan adanya potensi peninjauan ulang hubungan bilateral jika Armenia terus menjauh dari pengaruh Rusia.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, dijadwalkan melakukan kunjungan tiga hari ke Kazakhstan untuk membahas berbagai isu, termasuk kemungkinan keluarnya Armenia dari UEE dan dampaknya terhadap aliansi ekonomi tersebut.
Impor Bunga Armenia Dibatasi oleh Rusia
Ketegangan antara kedua negara juga tercermin dalam tindakan ekonomi yang diambil oleh Rusia. Pekan lalu, Pengawas Pertanian Rusia, Rosselkhoznadzor, memberlakukan pembatasan impor bunga dari Armenia. Keputusan ini diambil menyusul meningkatnya tensi bilateral dalam beberapa bulan terakhir.
Pembatasan tersebut mewajibkan adanya syarat karantina bagi bunga impor dari sejumlah pertanian di Armenia. Kebijakan ini akan tetap berlaku hingga dilakukannya inspeksi sanitasi menyeluruh terhadap ladang-ladang bunga di Armenia.
Langkah-langkah ini menunjukkan adanya dinamika kompleks dalam hubungan Rusia-Armenia, di mana kepentingan ekonomi dan geopolitik saling terkait erat. Keputusan Armenia untuk menjalin kerja sama yang lebih erat dengan AS dan UE, di samping masalah internal terkait konflik Nagorno-Karabakh, tampaknya telah mendorong Rusia untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam menjaga pengaruhnya di kawasan tersebut.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai stabilitas regional dan bagaimana Armenia akan menavigasi posisinya di antara kekuatan-kekuatan besar yang bersaing.




