Bahlil Tegaskan Golkar Partai Terbuka, Bukan Milik Trah Tertentu

Diposting pada

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan partainya tidak berada di bawah kendali keluarga tertentu dan terbuka bagi siapa saja yang ingin memimpin. Pernyataan itu ia sampaikan saat Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Wilayah Bali, Sabtu (3/10), ketika menjelaskan posisi Golkar sebagai partai yang menurutnya memberi kesempatan setara kepada seluruh kader.

Bahlil mengatakan, dalam tubuh Golkar tidak ada kewajiban untuk meminta restu kepada garis keturunan mana pun jika ada kader yang ingin maju menjadi ketua umum. Ia menekankan bahwa seluruh anggota partai memiliki kedudukan yang sama, sehingga peluang untuk memimpin tidak ditentukan oleh nama besar keluarga atau kelompok tertentu.

Menurut Bahlil, Golkar memiliki sejarah kelahiran yang berbeda dibanding banyak partai lain di Indonesia. Ia menyebut gagasan awal yang melahirkan partai itu bermula dari situasi politik dan ekonomi yang tidak stabil setelah Pemilu 1955. Saat itu, Indonesia menghadapi inflasi tinggi, kesempatan kerja yang sempit, dan berbagai persoalan lain yang memerlukan penanganan serius.

Selain faktor stabilitas, Bahlil juga menyinggung adanya kekhawatiran terhadap upaya sebagian kelompok yang ingin menggeser ideologi Pancasila ke arah komunisme. Dari situ, kata dia, para tokoh berkumpul dan membentuk Sekretariat Bersama Golongan Karya atau Sekber Golkar, yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Golkar.

Atas dasar sejarah itu, Bahlil menolak anggapan bahwa Golkar lahir dari satu keluarga atau kelompok sosial tertentu. Ia menyebut partai berlambang beringin tersebut justru dibangun oleh gagasan yang bersifat nasional dan terbuka, bukan untuk dimiliki oleh trah tertentu. Karena itu, ia menilai siapa pun yang memiliki kapasitas dan dukungan kader berhak ikut bersaing di dalam partai.

Bahlil juga menyampaikan bahwa dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, setiap kader Golkar memiliki hak yang sama. Ia menggambarkan Golkar sebagai salah satu partai yang paling terbuka di Indonesia, dan menyebut karakter itulah yang membedakannya dari partai-partai lain.

Dalam kesempatan yang sama, Bahlil menyinggung kontribusi kader Golkar terhadap lahirnya partai-partai baru di Indonesia. Ia menyebut Partai Demokrat, Partai Hanura, Partai Nasdem, dan Partai Gerindra sebagai contoh partai yang menurutnya memiliki jejak kader Golkar di dalam perjalanan awalnya. Bahlil menilai hal itu bukan alasan untuk marah, melainkan bukti bahwa Golkar memiliki basis kader yang luas. Ia bahkan menyebut partai-partai tersebut sebagai bagian dari “satu rumah” yang berbeda kamar.

Sumber: kumparan.com

Tinggalkan Balasan