Bangladesh menyampaikan kecaman keras atas serangan drone yang mengenai fasilitas kelistrikan di Kota Madinah, Arab Saudi, pekan lalu. Melalui Kementerian Luar Negeri pada Ahad, Dhaka menilai aksi itu sebagai serangan yang tidak bisa dibenarkan karena menyentuh infrastruktur sipil penting yang melayani Masjid Nabawi, salah satu tempat paling suci dalam Islam.
Pemerintah Bangladesh juga menegaskan dukungan penuh kepada Arab Saudi untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negaranya. Dalam pernyataannya, Dhaka menolak segala bentuk tindakan agresif yang berpotensi mengganggu perdamaian dan stabilitas kawasan. Sikap itu sekaligus memperlihatkan posisi Bangladesh yang berdiri bersama Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Serangan yang dipersoalkan terjadi pada Selasa lalu dan disebut menargetkan sebuah gardu distribusi listrik di Madinah. Koalisi pimpinan Arab Saudi yang terlibat dalam perang Yaman kemudian menuduh kelompok Houthi berada di balik serangan drone tersebut. Dalam keterangan koalisi, fasilitas itu memasok listrik ke Masjid Nabawi.
Koalisi juga menyebut satu transformator sempat rusak akibat serangan itu. Meski demikian, mereka menegaskan gangguan tersebut tidak melumpuhkan jaringan listrik secara keseluruhan. Dengan kata lain, dampaknya terbatas pada salah satu komponen fasilitas, bukan pada pasokan listrik Madinah secara menyeluruh.
Houthi sendiri membantah telah melakukan serangan tersebut. Kelompok yang berbasis di Yaman itu menolak tuduhan yang diarahkan kepadanya, sementara Arab Saudi dan sekutunya tetap memandang Houthi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu. Perbedaan klaim ini menambah panjang daftar saling tuding dalam konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Reaksi Bangladesh menjadi penting karena negara Asia Selatan itu secara terbuka menyoroti aspek kesucian lokasi yang terdampak. Bagi Dhaka, persoalan ini bukan sekadar serangan terhadap fasilitas umum, melainkan juga menyangkut sensitivitas keagamaan dan perlindungan tempat ibadah yang dihormati umat Islam di seluruh dunia.
Sumber: www.jpnn.com




