Barcelona Terjungkal di Metropolitano: Pelajaran Pahit di Semifinal Copa del Rey
Pertandingan leg pertama semifinal Copa del Rey antara Atletico Madrid dan Barcelona di kandang Atletico, Metropolitano, berakhir dengan kekalahan telak bagi tim tamu. Barcelona, yang diasuh oleh Hansi Flick, harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor akhir 4-0. Keempat gol Atletico Madrid seluruhnya tercipta di babak pertama, meninggalkan Barcelona dalam situasi yang sangat sulit.
Malam yang buruk bagi Barcelona dimulai dengan gol bunuh diri Eric García yang secara tidak sengaja membuka keran gol bagi tim tuan rumah. Setelah gol pembuka tersebut, Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julián Álvarez secara bergantian menambah derita tim Catalan. Gol yang dicetak oleh Álvarez menjadi catatan tersendiri, karena mengakhiri masa paceklik 11 pertandingan tanpa gol baginya. Meskipun Barcelona menunjukkan permainan yang lebih terorganisir di babak kedua, kerusakan fundamental telah terjadi di paruh pertama pertandingan.
Flick Mengakui Kekalahan dan Mengambil Pelajaran
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, tidak berusaha mencari alasan atas kekalahan telak timnya. Ia secara terbuka mengakui bahwa timnya bermain jauh di bawah standar yang diharapkan, terutama di babak pertama.
“Kami tidak bermain bagus di babak pertama sebagai sebuah tim,” ujar Flick dalam konferensi pers pasca pertandingan. “Kami terlalu menjaga jarak antar pemain. Kami tidak melakukan pressing seperti yang kami inginkan.”
Secara taktis, jarak antarlini yang terlalu renggang membuat Atletico Madrid memiliki keleluasaan untuk mengatur tempo permainan. Strategi pressing yang biasanya menjadi ciri khas Barcelona di bawah kepelatihan Flick pun tampak menghilang.
“Dalam 45 menit pertama atau lebih, kami mendapat pelajaran. Terkadang hal itu baik di saat yang tepat. Mungkin hari ini adalah saat yang tepat,” tambahnya, menunjukkan pandangan yang realistis terhadap situasi timnya. Flick menyadari bahwa timnya dihukum karena minimnya intensitas dan determinasi sejak menit awal pertandingan.
Meskipun demikian, Flick tetap memberikan dukungan kepada para pemainnya. “Saya tetap bangga dengan tim saya, mungkin tidak hari ini di 45 menit pertama, tetapi sepanjang musim. Ketika Anda melihat berapa banyak cedera yang kami alami sepanjang musim, bagaimana kami beradaptasi… Hari ini adalah kekalahan yang berat tetapi saya bangga dengan tim saya.” Baginya, kekalahan ini bukan hanya sekadar malam yang buruk, melainkan bagian dari proses perkembangan tim muda yang sedang dibangun.
Harapan di Spotify Camp Nou: Misi Nyaris Mustahil
Pertandingan leg kedua akan digelar di kandang Barcelona, Spotify Camp Nou, pada 3 Maret. Secara matematis, Barcelona membutuhkan keajaiban untuk bisa membalikkan keadaan. Mereka harus menang dengan selisih empat gol tanpa balas agar pertandingan bisa berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
“Kami akan bangkit kembali. Kami perlu memulai dari awal [pertandingan]. Ketika Anda melihat para pemain Atlético, mereka memiliki kemauan dan semangat yang lebih besar. Dan itulah yang saya inginkan sejak menit pertama. Kami tidak menunjukkannya di babak pertama,” tegas Flick.
Ia menambahkan, “Kita masih punya leg kedua. Kita akan berjuang untuk itu. Jika kita mampu memenangkan setiap babak dengan skor 2-0, itu adalah tujuan kita. Kita membutuhkan dukungan penggemar di Camp Nou dan kita akan lihat apa yang terjadi.” Optimisme tetap ada di kubu Barcelona, meskipun secara realistis tugas yang dihadapi sangatlah berat.
Kontroversi VAR dan Kartu Merah yang Memanaskan Laga
Situasi pertandingan semakin memanas ketika gol Pau Cubarsí pada menit ke-51 dianulir setelah melalui tinjauan VAR yang memakan waktu lebih dari enam menit. Keputusan ini jelas memicu kekecewaan dan kemarahan dari kubu Barcelona, termasuk Flick.
“Apa yang harus saya katakan?” geram Flick. “Kita mulai dengan kartu kuning. Biasanya pada aksi pertama, dengan pelanggaran terhadap [Alejandro] Balde, itu pasti kartu kuning.” Ia merasa ada inkonsistensi dalam pengambilan keputusan wasit.
“[Soal gol yang dianulir], ayolah, menurutku ini kacau. Mereka harus menunggu tujuh menit, oh ayolah. Apakah mereka bisa menemukan sesuatu dalam tujuh menit ini? Oke.” Flick mempertanyakan lamanya waktu tinjauan VAR dan hasil akhirnya. “Saat saya melihat situasi ini, jelas tidak ada offside. Mungkin mereka melihat sesuatu yang berbeda. Lalu beri tahu kami. Tidak ada komunikasi. Ini sangat buruk di sini.” Kekecewaan Flick tidak hanya menyangkut keputusan teknis, tetapi juga soal konsistensi dan komunikasi antara ofisial pertandingan.
Penderitaan Barcelona semakin lengkap ketika Eric García mendapatkan kartu merah di akhir pertandingan, membuat timnya harus bermain dengan 10 orang di menit-menit akhir.
Saat ini, fokus Barcelona untuk sementara beralih ke kompetisi LaLiga, sebelum kembali memikirkan misi nyaris mustahil di leg kedua Copa del Rey. Satu hal yang pasti: jika Barcelona ingin membalikkan keadaan, mereka harus menunjukkan performa yang sangat berbeda dari apa yang terlihat di babak pertama pertandingan di Metropolitano.



















