Kehidupan Petani di Daerah Dingin yang Berhasil Budidayakan Bawang Merah
Kelompok Tani Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, berhasil menunjukkan bahwa budidaya bawang merah bisa dilakukan bahkan di daerah dengan iklim dingin. Saat ini, tanaman bawang merah yang dikelola oleh kelompok tersebut siap untuk dipanen.
Stanis, salah satu anggota Kelompok Tani Desa Meler, menjelaskan bahwa benih bawang merah yang mereka tanam tidak berbeda dari benih yang digunakan oleh masyarakat lain di wilayah Manggarai. Namun, keberhasilan dalam budidaya ini terletak pada cara pengelolaan dan perawatan yang tepat.
Menurut Stanis, proses perawatan bawang merah membutuhkan waktu sekitar 60 hingga 70 hari. Dari satu biji benih, dapat dihasilkan sekitar 20 hingga 25 biji bawang merah. Hal ini menunjukkan bahwa hasil produksi cukup tinggi dan layak untuk dipertimbangkan sebagai alternatif usaha tani.
Kehadiran Anggota DPRD Manggarai, Aleksius Armanjaya, SS, MH bersama Dinas Pertanian dan PPL Kecamatan Ruteng memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan oleh Kelompok Tani Desa Meler. Ia menyatakan bahwa kelompok tani ini telah membuktikan bahwa bawang merah bisa dibudidayakan di daerah dingin, meskipun selama ini banyak orang menganggap bahwa hal ini tidak mungkin dilakukan.
“Saya percaya bahwa setiap tanah punya potensi. Bukan jenis tanah yang menentukan hasil panen, tapi cara kita memperlakukannya,” ujar Aleksius Armanjaya, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Manggarai, saat berbicara akhir pekan lalu.
Ia menekankan bahwa budidaya tanaman harus dilakukan dengan pengolahan dan perawatan yang tepat agar menghasilkan produk yang berkualitas. Dalam kasus Kelompok Tani Desa Meler, hasilnya sangat memuaskan, dengan bawang merah yang segar, beraroma kuat, dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Aleksius Armanjaya juga menyarankan kepada Dinas Pertanian Manggarai untuk mencoba membudidayakan bawang merah di wilayah dingin dalam skala yang lebih besar. Tujuannya adalah untuk memberikan contoh dan motivasi kepada masyarakat atau kelompok tani lainnya bahwa budidaya bawang merah bisa dilakukan di daerah dingin.
“Dengan sentuhan pengelolaan yang tepat, lahan ini telah mampu menghasilkan bawang merah yang segar, beraroma kuat, dan bernilai jual tinggi,” ujar Aleksius Armanjaya, senator asal Dapil Ruteng, Lelak, dan Rahong Utara itu.
Ia juga berharap agar Dinas Pertanian bersama PPL bisa membuat pilot project di 10 (sepuluh) desa yang berada di daerah dingin di wilayah Manggarai, untuk membudidayakan tanaman bawang merah. Desa-desa tersebut akan menjadi desa binaan yang diperhatikan secara khusus oleh Dinas Pertanian.
“Dinas Pertanian harus optimalkan kelompok tani ini dan tancap gas kelola bawang merah daerah dingin,” pungkas Aleksius Armanjaya.




