околоссылочный3 google 3 текст3

BBM Naik: Ekonom Khawatir Daya Beli Tergerus

Diposting pada

Potensi Kenaikan Harga BBM dan Dilema Anggaran Negara 2026

Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali mengemuka, menimbulkan kekhawatiran terkait tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama, memaksa pemerintah untuk mengambil keputusan kebijakan yang krusial. Pilihan sulit ini berkisar antara menyesuaikan harga BBM atau merombak alokasi belanja negara demi menjaga defisit anggaran tetap berada dalam batas aman.

Sinyal mengenai kemungkinan penyesuaian kebijakan ini datang dari Kementerian Keuangan, yang saat ini tengah merancang berbagai skenario untuk memitigasi dampak kenaikan harga minyak. Salah satu opsi yang dipertimbangkan secara serius adalah menaikkan harga BBM bersubsidi, di samping langkah-langkah lain seperti realokasi anggaran dan efisiensi belanja.

Dampak Inflasi dan Pelemahan Konsumsi Rumah Tangga

Para ekonom memberikan peringatan keras mengenai potensi dampak luas dari kebijakan kenaikan harga BBM. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa kebijakan tersebut hampir pasti akan mendorong inflasi biaya.

“Dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah pelemahan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Rizal.

Menurut analisisnya, kenaikan harga BBM akan secara langsung meningkatkan biaya transportasi dan logistik. Situasi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat, yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat konsumsi rumah tangga. Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang porsi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yaitu sekitar 53%–54%, setiap tekanan pada sektor ini akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Alternatif Kebijakan: Rasionalisasi Anggaran Program Prioritas

Di tengah risiko yang mengintai, Rizal menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan langkah-langkah alternatif yang dampaknya tidak terlalu meluas terhadap perekonomian. Salah satu opsi yang dinilai lebih realistis adalah melakukan rasionalisasi anggaran pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program MBG ini diproyeksikan akan menyerap anggaran yang cukup besar, mencapai Rp 335 triliun pada tahun 2026. Mengingat implementasinya masih bersifat bertahap, pemerintah masih memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan skala program, kriteria penerima manfaat, maupun kecepatan pelaksanaannya. Penyesuaian ini dapat menjadi cara untuk menghemat anggaran tanpa mengorbankan esensi program itu sendiri.

Penguatan Penerimaan Negara sebagai Solusi Jangka Panjang

Selain melakukan pengaturan ulang belanja negara, penguatan penerimaan negara juga dinilai menjadi kunci penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa harus mengorbankan laju pertumbuhan ekonomi. Rasio pajak Indonesia saat ini masih berada di kisaran 10% terhadap PDB, angka ini terbilang jauh di bawah rata-rata negara berkembang yang umumnya berkisar antara 15% hingga 18%.

Rizal menekankan bahwa peningkatan kepatuhan pajak oleh wajib pajak dan perluasan basis pajak dapat menjadi strategi ampuh untuk memperkuat penerimaan negara.

  • Perluasan Basis Pajak: Mengidentifikasi dan memasukkan subjek pajak baru yang selama ini belum terjangkau.
  • Peningkatan Kepatuhan Pajak: Mendorong wajib pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakan mereka secara sukarela dan akurat melalui edukasi dan kemudahan administrasi.
  • Perbaikan Kualitas Belanja: Memastikan setiap rupiah anggaran negara dibelanjakan secara efektif dan efisien untuk program-program yang memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

“Perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan kualitas belanja menjadi langkah penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” tegas Rizal.

Simulasi Risiko dan Prioritas Kebijakan Kementerian Keuangan

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, turut sependapat bahwa pemerintah memiliki opsi lain selain menaikkan harga BBM. Penajaman fokus anggaran dan realokasi belanja dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah ambang batas 3% terhadap PDB.

Tekanan terhadap postur fiskal pemerintah akan semakin terasa jika harga minyak dunia terus mengalami peningkatan. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, telah mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan simulasi risiko secara mendalam terkait potensi lonjakan harga minyak.

Hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa jika harga minyak dunia rata-rata mencapai US$92 per barel dalam satu tahun, maka defisit APBN berpotensi melebar hingga mencapai 3,6% terhadap PDB. “Biasanya kami melakukan langkah-langkah penyesuaian supaya defisit tetap di bawah 3%,” ujar Purbaya.

Dalam skenario tersebut, pemerintah mengindikasikan bahwa upaya efisiensi belanja negara akan menjadi prioritas utama sebelum mempertimbangkan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Salah satu opsi yang sedang dikaji secara serius adalah penghematan anggaran program MBG serta penundaan pelaksanaan sejumlah belanja negara yang dinilai tidak mendesak.

Meskipun demikian, wacana kenaikan harga BBM tetap menjadi isu yang sangat sensitif. Dampaknya yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas menjadikan kebijakan ini selalu berada di bawah sorotan publik. Jika opsi kenaikan harga BBM akhirnya diambil, maka tekanan terhadap inflasi, peningkatan biaya transportasi, hingga pelemahan daya beli masyarakat akan menjadi konsekuensi yang harus dihadapi oleh perekonomian domestik.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan