Antisipasi Kemarau Ekstrem di Kalimantan Selatan
Ancaman kemarau ekstrem mulai mengkhawatirkan warga Kalimantan Selatan pada tahun ini. Pemerintah provinsi, pemerintah daerah, serta instansi terkait di Kalsel sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk menghadapi potensi kemarau panjang yang diprediksi terjadi sejak April 2026 akibat fenomena El Nino.
Di Kabupaten Tanahlaut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah memulai persiapan teknis di tingkat lapangan. Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang menyusun rencana pembentukan relawan kebencanaan di seluruh kecamatan. Selain itu, BPBD Tala juga merancang pembentukan Tim Reaksi Cepat (TRC) di sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Sebelumnya, TRC hanya tersedia di dalam BPBD. Namun, ke depan, tim serupa akan diperluas ke dinas-dinas terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup, Dinas PUPRP, serta Dinas Kesehatan.
Di Kabupaten Tabalong, pihak kepolisian gencar melakukan sosialisasi dan memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Tindakan tersebut tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, tetapi juga dapat menyebabkan kabut asap, gangguan kesehatan, hingga kerugian ekonomi. Masyarakat diminta untuk lebih peduli dan melaporkan titik api atau aktivitas pembakaran liar jika menemukannya.
Sementara itu, di Kabupaten Tapin, Bupati Yamani menekankan pentingnya efisiensi dan penyesuaian anggaran, khususnya dalam belanja terkait kebencanaan. Mengingat potensi kemarau panjang, pemerintah daerah diminta untuk lebih cermat dalam menyusun prioritas anggaran.
Persiapan untuk menghadapi musim kemarau tahun ini harus dilakukan lebih ekstra. Prediksi BMKG menyebutkan bahwa kemarau mulai berlangsung sejak April dan berpotensi bertahan lebih lama dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini disebabkan oleh pergeseran pola pembentukan awan hujan yang menjauh dari wilayah Indonesia.
Musim kemarau tahun ini memiliki karakteristik yang lebih kering dibanding kondisi rata-rata. Dampaknya bukan hanya terkait karhutla, tetapi juga berkaitan dengan ketersediaan pasokan air bersih. Oleh karena itu, beberapa langkah sederhana disarankan kepada masyarakat. Di antaranya adalah menyiapkan cadangan air bersih dengan tandon, serta memperdalam sumur bagi warga yang bergantung pada sumber air tanah.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mulai menghemat penggunaan air sejak sekarang, terutama di wilayah yang rawan kekeringan saat musim kemarau. Langkah-langkah ini sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari kemarau yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama.
Kita semua tentu berharap langkah antisipasi yang telah disiapkan benar-benar bisa berjalan dan berfungsi dengan maksimal dalam menghadapi kemarau tahun ini. Dengan persiapan yang matang dan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat, diharapkan dampak kemarau ekstrem dapat diminimalkan.



















