PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI mengumumkan rencana strategis untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan atau buyback. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan jual yang terjadi di tengah volatilitas pasar, sekaligus untuk memberikan sinyal kepada para investor bahwa nilai saham BNI saat ini belum mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan.
Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menjelaskan bahwa nilai transaksi buyback yang direncanakan diperkirakan mencapai Rp1,50 triliun. Angka ini sudah termasuk seluruh biaya transaksi yang terkait, seperti biaya eksekusi, biaya penyimpanan saham, dan commitment fee yang diperkirakan sebesar 0,32% dari total nilai eksekusi buyback.
“Perkiraan nilai transaksi buyback sebesar-besarnya Rp1,50 triliun,” ungkap Okki dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lebih lanjut, Okki menekankan bahwa nilai transaksi buyback yang diusulkan tidak akan melebihi 10% dari total modal yang ditempatkan dalam perseroan. Dana untuk aksi korporasi ini akan bersumber dari free cash flow perseroan, khususnya dari saldo laba yang belum dialokasikan penggunaannya.
Perkiraan nilai transaksi buyback ini, termasuk biaya-biaya terkait yang mencapai sekitar 0,32% dari nilai eksekusi, diasumsikan akan dilaksanakan secara keseluruhan.
Latar Belakang Pasar dan Tekanan pada Saham Perbankan
Sepanjang tahun 2025, sektor perbankan di Indonesia menghadapi periode yang penuh tantangan. Tekanan pada saham-saham perbankan ini utamanya dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang berasal dari risiko geopolitik dan ancaman perang dagang antarnegara. Di tingkat domestik, perbankan nasional juga bergulat dengan tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit (loan demand).
“Kondisi ini menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan yang lebih dalam dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional,” jelas Okki.
Data per 31 Desember 2025 menunjukkan bahwa harga saham BNI hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,5% secara tahunan (year on year/YoY). Meskipun angka ini terbilang lebih baik jika dibandingkan dengan beberapa bank pesaing domestik (local peers), kinerja saham BBNI masih tertinggal jika dibandingkan dengan bank-bank regional yang menjadi pesaingnya (regional peers).
Arus dana asing yang masuk ke pasar saham domestik belum sepenuhnya pulih. Meskipun pasar saham domestik menunjukkan tanda-tanda pemulihan di akhir tahun 2025, seiring dengan kembalinya optimisme investor asing, kehati-hatian masih terlihat.
Manajemen BNI menjelaskan bahwa investor masih bersikap hati-hati dalam mengantisipasi dampak dari ketidakpastian global yang kembali meningkat di awal tahun 2026. Sentimen yang paling memengaruhi adalah tensi geopolitik yang kian memanas dan ancaman tarif perdagangan dari Amerika Serikat.
Ketidakstabilan geopolitik ini bahkan turut mendorong pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, yang sempat menyentuh nilai yang lebih rendah daripada saat krisis moneter tahun 1998, yaitu mencapai Rp16.985 per Dolar AS.
Tujuan dan Mekanisme Buyback
Dalam konteks inilah, aksi buyback dilakukan. Tujuannya adalah untuk meredam tekanan jual yang terjadi di pasar, terutama saat indeks harga saham sedang berfluktuasi. Selain itu, buyback juga diharapkan dapat memberikan sinyal positif kepada investor bahwa manajemen BNI memandang harga saham perusahaan saat ini belum mencerminkan nilai fundamental yang sebenarnya.
Rencana buyback ini akan diajukan untuk dibahas dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 9 Maret 2026.
Perkiraan Jadwal Pelaksanaan Buyback Saham BNI:
- Pengumuman RUPST dan Keterbukaan Informasi atas Rencana Buyback: 29 Januari 2026
- Perkiraan Tanggal RUPST (yang akan menyetujui rencana buyback): 9 Maret 2026
- Perkiraan Periode Buyback: Mulai 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.




















