PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menunjukkan komitmen penuh dalam mendukung program pembangunan 3 juta rumah yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dianggap sebagai penggerak utama ekonomi sekaligus alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyampaikan bahwa pembiayaan perumahan tidak hanya berfokus pada kebutuhan dasar akan hunian, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Ia menjelaskan bahwa program rumah subsidi tidak hanya membantu masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak, tetapi juga memicu pertumbuhan berbagai sektor ekonomi.
“Program rumah subsidi ini memberikan manfaat yang lebih dari sekadar pengadaan tempat tinggal,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (19/4/2026). Menurut Nixon, pembangunan perumahan mendorong aktivitas sektor konstruksi, industri bahan bangunan, serta menciptakan peluang kerja. Selain itu, program ini juga turut menggerakkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari pemasok material hingga jasa tukang di daerah.
Ia menambahkan bahwa penggunaan produk lokal dalam proyek perumahan dapat memperkuat rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan impor. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi daerah juga menjadi lebih merata.
“Efek berganda dari program ini sangat signifikan terhadap perekonomian daerah,” tambahnya.
BTN juga menilai bahwa program ini memiliki dampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Akses terhadap hunian layak menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan stabil, serta mendukung kualitas pendidikan, khususnya bagi anak-anak.
Selain itu, pengembangan perumahan juga diupayakan agar tetap sejalan dengan program ketahanan pangan nasional. Pembangunan hunian diarahkan agar tidak mengganggu lahan pertanian produktif seperti lahan baku sawah (LBS) dan lahan sawah dilindungi (LSD).
“Ketahanan pangan dan pembangunan perumahan bisa berjalan beriringan,” kata Nixon.
Berdasarkan kajian internal BTN, penerima KPR subsidi mengalami peningkatan kualitas hidup, mulai dari kepastian tempat tinggal hingga kepemilikan aset jangka panjang. Dari sisi ekonomi, sektor perumahan juga berkontribusi besar terhadap output nasional.
BTN mencatat bahwa pembiayaan KPR mampu mendorong tambahan output ekonomi hingga Rp 3.049 triliun. Bahkan, setiap investasi Rp 1 triliun di sektor ini berpotensi menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja.
Dengan demikian, program 3 juta rumah dinilai menjadi salah satu strategi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.



















