Bukan Gaji, Dandhy Laksono Bocorkan Alasan Tak Terima Uang di Pembuatan Film Pesta Babi

Diposting pada

Keterlibatan Tanpa Bayaran dalam Pembuatan Film Pesta Babi

Sutradara film kontroversial Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026), Dandhy Dwi Laksono, mengungkapkan bahwa ia tidak menerima bayaran sepeser pun selama proses pembuatan film tersebut. Ia menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam proyek ini merupakan bentuk sumbangan keahlian sebagai seorang sutradara. Meskipun demikian, Dandhy menegaskan bahwa jika profesionalismenya dinilai dengan uang, nominal yang harus dibayarkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Dalam wawancara, Dandhy juga menjelaskan bahwa total anggaran untuk memproduksi film Pesta Babi tidak dapat dikalkulasikan secara pasti. Hal ini terjadi karena seluruh kru profesional yang terlibat memilih untuk menyumbangkan waktu, alat, hingga keterampilan mereka. Ia menambahkan bahwa bagi sutradara atau fotografer yang hanya mau bergerak jika ada uang, konsep pembuatan film ini pasti terdengar tidak masuk akal.

Film Pesta Babi sendiri menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional terhadap kehidupan masyarakat adat di Papua. Meski banyak acara nonton bareng film ini sempat dibubarkan oleh aparat, saat ini masyarakat sudah bisa menontonnya secara resmi melalui berbagai kanal YouTube seperti Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, Indonesia Baru, Jubi TV, dan Bentala Rakyat.

Sebelum dirilis secara digital, film dokumenter tersebut hanya bisa diakses oleh publik melalui acara-acara nonton bareng. Sumber pendanaan film ini sempat dipertanyakan oleh Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dalam rapat di Kompleks Parlemen beberapa waktu lalu. Maruli mempertanyakan asal-usul dana yang digunakan kru film untuk terbang dan memproduksi video di Papua.

Menanggapi sindiran tersebut, Dandhy menegaskan bahwa publik bisa melihat langsung pihak-pihak yang membiayai film secara transparan melalui logo yang tertera di poster resmi maupun di bagian akhir film. Ia juga membantah keras tudingan sejumlah pihak yang menyebut film Pesta Babi sebagai karya yang provokatif. Dandhy merasa heran dengan tuduhan tersebut karena judul film diambil dari nama upacara adat yang sebenarnya di Papua.

Dandhy menyarankan pihak-pihak yang ragu untuk menonton langsung karya tersebut secara utuh agar bisa membuktikannya sendiri, sekaligus menegaskan bahwa menganggap film ini provokatif sama saja dengan meremehkan kecerdasan para penonton.

Risiko Kerja Jurnalistik dan Perlindungan yang Diterapkan

Mengenai risiko kerja jurnalistiknya yang tinggi, Dandhy mengungkapkan bahwa ada dua hal utama yang selalu melindunginya selama ini. Perlindungan pertama berasal dari kredibilitas serta keakuratan informasi yang disajikan, sedangkan yang kedua adalah independensi dari intervensi pihak luar.

Dandhy mengakui bahwa timnya menerapkan standar verifikasi yang sangat ketat karena karya yang akurat pun tetap berisiko dihantam kekuasaan. Ia menegaskan bahwa pada akhirnya, mereka selalu percaya bahwa publiklah yang akan menjadi benteng pelindung utama.

Penutup

Film Pesta Babi telah menjadi perhatian besar di kalangan masyarakat, terutama karena isu-isu yang diangkatnya tentang pengaruh proyek strategis nasional terhadap masyarakat adat di Papua. Dengan cara produksi yang unik dan tanpa bayaran, film ini menunjukkan komitmen kuat dari para pelibatnya untuk menyampaikan pesan penting kepada publik.

Gambar Gravatar
Erwin merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan