ChatGPT Diboikot 4 Juta Pengguna, OpenAI Rugi Rp 238 Triliun

Diposting pada

Gelombang Boikot ChatGPT Meluas: Jutaan Orang Menolak Kerja Sama dengan Pentagon, Kekhawatiran Muncul Terkait Pengawasan Massal dan Senjata Otonom

Sebuah gelombang protes yang signifikan tengah melanda ChatGPT. Data terbaru menunjukkan lebih dari empat juta orang telah bergabung dalam aksi boikot melalui platform QuitGPT hingga Senin (9/3) pukul 08.11 WIB. Aksi ini muncul di tengah proyeksi keuangan internal OpenAI yang menunjukkan potensi kerugian besar, bahkan sebelum dampak boikot ini diperhitungkan secara penuh.

Akar dari aksi boikot ini dapat ditelusuri kembali ke keputusan OpenAI untuk menjalin kerja sama dengan Departemen Perang Amerika Serikat, atau Pentagon. Keputusan ini diambil setelah Pentagon memutuskan kontraknya dengan Anthropic, sebuah perusahaan AI lain, dan memasukkan Anthropic ke dalam daftar ‘risiko rantai pasok’. Istilah ini biasanya diperuntukkan bagi perusahaan asing yang dinilai berpotensi membahayakan keamanan nasional, seperti yang pernah terjadi pada Huawei.

Latar Belakang Kontroversi: Penolakan Anthropic dan Dukungan Terhadap Donald Trump

Situasi menjadi semakin rumit ketika Anthropic, perusahaan di balik model AI bernama Claude, secara terbuka menyatakan keberatan atas potensi penggunaan teknologi mereka untuk tujuan pengawasan massal penduduk dan pengembangan senjata otonom. Penolakan ini datang dari berbagai pihak, termasuk kritik dari Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, dan Pentagon.

Aksi boikot ini tidak hanya menarik perhatian publik umum, tetapi juga mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh ternama. Aktor Mark Ruffalo, yang dikenal memerankan Hulk dalam Marvel Cinematic Universe, serta penyanyi Katy Perry, dilaporkan turut serta dalam aksi boikot terhadap ChatGPT.

Selain isu kerja sama dengan Pentagon, OpenAI juga menjadi sorotan sejak awal tahun ini terkait kontribusi finansial salah satu petingginya. Greg Brockman, seorang eksekutif di OpenAI, dilaporkan menyumbangkan dana sebesar US$ 25 juta kepada Make America Great Again Inc (Maga Inc.). Maga Inc. adalah sebuah Super PAC atau Political Action Committee di Amerika Serikat yang didirikan pada September 2022. Tujuannya adalah untuk mendukung kampanye Donald Trump dan kandidat Partai Republik lainnya yang beraliansi dengannya. Sumbangan ini menjadikan Brockman sebagai salah satu penyumbang terbesar Donald Trump dalam siklus pemilihan umum terakhir.

Menanggapi kontroversi ini, Brockman memberikan pernyataan bahwa sumbangan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi OpenAI dalam memberikan manfaat bagi umat manusia, sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian pada akhir pekan lalu (7/3).

Escalasi Ketegangan dan Proyeksi Finansial OpenAI

Situasi yang ada semakin memburuk pada pekan lalu, ketika pemerintahan Trump mengeluarkan tuntutan agar perusahaan-perusahaan AI memberikan akses tanpa batas kepada Pentagon terhadap teknologi yang mereka kembangkan. Akses ini mencakup potensi penggunaan untuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom. Sementara Anthropic dengan tegas menolak permintaan tersebut, OpenAI justru menyetujui untuk menjalin kerja sama.

Proyeksi Kerugian Fantastis OpenAI: Potensi Defisit Rp 238 Triliun

Di tengah gejolak kontroversi ini, dokumen internal OpenAI yang diperoleh oleh The Information pada akhir 2025, mengungkapkan proyeksi keuangan yang mengejutkan. Perusahaan tersebut diperkirakan akan mengalami kerugian sebesar US$ 14 miliar pada tahun 2026. Kerugian ini diprediksi akan terus membengkak hingga mencapai US$ 44 miliar pada tahun 2028.

Perkiraan kerugian sebesar US$ 14 miliar pada tahun 2026 ini menandakan peningkatan defisit yang signifikan, bahkan tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Namun, dokumen yang sama juga menyajikan pandangan yang lebih optimis untuk jangka panjang. OpenAI memproyeksikan akan mampu meraih keuntungan sebesar US$ 14 miliar pada tahun 2029.

Laporan tersebut juga mengungkap rencana ambisius OpenAI untuk menghabiskan dana sebesar US$ 200 miliar hingga akhir dekade ini. Sebagian besar dari anggaran ini, sekitar 60% hingga 80%, dialokasikan untuk keperluan pelatihan dan operasional model-model AI mereka.

Implikasi Jangka Panjang dan Perdebatan Etis

Aksi boikot yang meluas ini menyoroti kekhawatiran mendalam masyarakat global terkait arah pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Keterlibatan perusahaan AI dengan institusi militer, terutama dalam konteks pengembangan senjata otonom dan alat pengawasan massal, memicu perdebatan etis yang serius.

Keputusan OpenAI untuk bekerja sama dengan Pentagon, meskipun dibarengi dengan proyeksi kerugian finansial yang besar, menimbulkan pertanyaan tentang prioritas perusahaan. Apakah keuntungan finansial dan pengaruh strategis lebih diutamakan daripada potensi dampak negatif terhadap hak asasi manusia dan keamanan global?

Dukungan dari tokoh-tokoh publik ternama semakin memperkuat narasi boikot, memberikan platform yang lebih luas bagi suara-suara yang menentang arah pengembangan AI saat ini. Ke depan, akan menarik untuk melihat bagaimana OpenAI akan merespons tekanan ini dan apakah mereka akan mempertimbangkan kembali strategi kerja sama dan pengembangan teknologi mereka, demi menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa AI dikembangkan secara bertanggung jawab demi kemaslahatan umat manusia.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan