Teguran Keras Gubernur Jabar Terhadap Pungli di Destinasi Wisata: “Aksi Bunuh Diri Ekonomi”
Fenomena pungutan liar (pungli) di sejumlah destinasi wisata Jawa Barat, khususnya saat momen libur panjang seperti Lebaran, kembali menjadi sorotan tajam. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara tegas mengecam praktik tersebut, menyebutnya sebagai “aksi bunuh diri” bagi perekonomian daerah. Kritikan ini muncul menyusul keluhan sejumlah wisatawan yang merasa dirugikan oleh praktik pungli di berbagai lokasi, salah satunya di Pantai Sayang Heulang, Garut.
Wisatawan asal Bandung, Rina (32), menceritakan pengalamannya yang kurang menyenangkan saat mengunjungi Pantai Sayang Heulang. Ia mengaku diminta membayar sejumlah uang yang melebihi tarif resmi tanpa diberikan karcis atau bukti pembayaran yang sah. “Di Sayang Heulang saya diminta Rp15 ribu untuk tiket masuk, lalu Rp5 ribu untuk parkir. Tapi saya disuruh bayar total Rp45 ribu. Saya bingung, itu dasar penarikannya apa. Tidak ada karcis juga,” keluh Rina, yang semakin kecewa melihat kondisi pantai yang dinilainya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, bahkan banyak sampah dan minimnya kebersihan.
Imbauan Gubernur: Jaga Kebersihan dan Keamanan, Bukan Sekadar Memungut Uang
Menanggapi keluhan wisatawan, Dedi Mulyadi tidak tinggal diam. Melalui unggahan video terbarunya, Gubernur yang akrab disapa KDM ini menyampaikan sindiran keras kepada masyarakat, terutama para pelaku pungli. Ia mengingatkan bahwa wisatawan yang datang ke destinasi wisata adalah tamu yang membawa rezeki. Oleh karena itu, mempersulit kedatangan mereka adalah tindakan yang merugikan.
“Ingat orang datang itu bisa membawa rezeki. Karena orang datang membawa rezeki jangan mempersulit kedatangannya,” ujar Dedi Mulyadi. Ia menyoroti praktik mempersulit pengunjung, baik di perjalanan maupun saat memasuki area wisata, yang seringkali berujung pada pungli. “Banyak sekali masyarakat di area pantai, sibuk sekali dengan pungutan yang pada akhirnya orang malas datang ke situ,” tambahnya.
Gubernur menegaskan bahwa praktik pungli dapat menciptakan efek domino negatif terhadap kemajuan ekonomi daerah. Berkurangnya jumlah pengunjung akan berdampak langsung pada pedagang di sekitar lokasi wisata, yang berpotensi mengalami penurunan omzet.
Pungli Disebut “Aksi Bunuh Diri” Ekonomi
Dedi Mulyadi secara lugas menyindir sikap masyarakat yang hanya mementingkan keuntungan pribadi tanpa memedulikan aspek lain yang krusial bagi pariwisata. “Untuk itu semua pihak harus memahami, sikap-sikap yang selalu mengambil keuntungan pada setiap keramaian adalah sikap bunuh diri,” sindirnya.
Ia menekankan bahwa fokus pada keuntungan sesaat tanpa disertai upaya penataan, perawatan, dan penjagaan kebersihan serta keamanan area wisata adalah sebuah kesia-siaan. Keindahan sebuah tempat wisata, menurut Dedi, akan menjadi tidak berarti jika tidak dibarengi dengan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung.
Gubernur Jawa Barat ini mengimbau seluruh masyarakat Jawa Barat untuk tidak melestarikan kebiasaan pungli jika ingin daerah mereka maju. “Pariwisata hanya akan terbangun dengan citra yang baik, pariwisata bebas pungli adalah harapan karena orang datang ingin mendapat kenyamanan,” tegasnya. Dedi Mulyadi meyakini bahwa pengalaman pungli tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga menciptakan rasa intimidasi dan ketidaknyamanan bagi wisatawan.
Klarifikasi dan Tindakan Tegas dari Pemerintah Daerah
Menanggapi keluhan wisatawan mengenai pungli di Pantai Sayang Heulang, Pemerintah Kabupaten Garut, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, telah memberikan klarifikasi terkait tarif resmi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga, menjelaskan bahwa tarif resmi telah ditetapkan dan dipasang di pos jaga sebagai panduan bagi pengunjung.
“Tarif resmi sudah kami tetapkan dan tempel di pos, mulai Rp10 ribu untuk dewasa di hari biasa, serta parkir motor Rp5 ribu,” ujar Beni Yoga. Ia menegaskan bahwa jika ditemukan pungutan di luar ketentuan yang berlaku, masyarakat diminta untuk segera melaporkan.
Lebih lanjut, pemerintah daerah mendorong agar oknum pelaku pungli direkam sebagai bukti otentik untuk kemudian ditindak secara tegas. “Silakan viralkan dan saya mohon nanti perlihatkan wajah yang melakukan pungli itu siapa,” ungkap Beni Yoga, menunjukkan keseriusan Pemkab Garut dalam memberantas praktik pungli demi kenyamanan dan keamanan wisatawan.
Dampak Negatif Pungli Terhadap Pariwisata
Praktik pungli di destinasi wisata memiliki dampak negatif yang luas, antara lain:
- Menurunnya Minat Wisatawan: Pengalaman buruk akibat pungli dapat membuat wisatawan enggan kembali berkunjung, bahkan menyebarkan ulasan negatif yang merusak citra destinasi.
- Kerugian Ekonomi Daerah: Berkurangnya jumlah wisatawan berarti penurunan pendapatan bagi pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang, penyedia akomodasi, hingga penyedia jasa lainnya.
- Citra Destinasi yang Buruk: Pungli menciptakan persepsi negatif tentang keamanan dan profesionalisme pengelolaan pariwisata di suatu daerah.
- Ketidaknyamanan dan Intimidasi: Wisatawan dapat merasa tidak aman dan terintimidasi, mengurangi nilai pengalaman liburan mereka.
Langkah-langkah Pencegahan dan Penindakan
Untuk mengatasi masalah pungli, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan wisatawan. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Sosialisasi Tarif Resmi: Memastikan tarif resmi mudah diakses oleh wisatawan, baik melalui papan informasi, brosur, maupun platform digital.
- Pemasangan CCTV: Memasang kamera pengawas di titik-titik rawan pungli untuk memantau aktivitas dan sebagai alat bukti.
- Pembentukan Tim Pengawas: Membentuk tim gabungan dari pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk melakukan patroli rutin dan menindak pelaku pungli.
- Sistem Pelaporan yang Mudah: Menyediakan kanal pelaporan yang mudah diakses oleh wisatawan, seperti nomor telepon khusus, aplikasi, atau pos pengaduan.
- Edukasi Masyarakat: Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya integritas dalam pelayanan pariwisata dan dampak negatif pungli.
- Kampanye Sadar Wisata: Mengajak wisatawan untuk berani melaporkan praktik pungli dan tidak ragu memviralkan oknum yang melakukan.
Dengan upaya bersama, diharapkan destinasi wisata di Jawa Barat dapat kembali menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh pengunjung, serta memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah.




















