Indonesia tengah diburu minat investasi pusat data bernilai besar, dan Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengingatkan pemerintah agar tidak mengulang kesalahan lama. Ia menilai peluang pengembangan data center dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang nilainya diperkirakan mencapai Rp360 triliun harus dijaga dengan kepastian aturan, karena jika tidak, modal bisa saja berpindah ke negara lain. Peringatan itu muncul di tengah sorotan terhadap penghentian sementara proyek pusat data AI BDx di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Didik mengaitkan situasi sekarang dengan pengalaman Indonesia pada industri semikonduktor beberapa dekade lalu. Menurut dia, saat ini Indonesia sedang berada dalam posisi yang diincar investor global, tetapi momentum tersebut bisa terbuang bila kebijakan pusat dan daerah tidak sejalan. Ia menyebut peluang ini sebagai kesempatan emas, namun sekaligus mengingatkan agar Indonesia tidak kembali masuk ke pola yang sama seperti masa lalu ketika peluang industri strategis justru lepas.
Proyek BDx di Jatiluhur menjadi pemicu utama perdebatan. Pembangunan fasilitas itu dihentikan sementara karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL serta Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum terbit. Nilai proyek tersebut disebut sekitar Rp3,5 triliun dengan rencana kapasitas daya hingga 640 megawatt. Pemerintah daerah juga meminta kajian tambahan terkait dampak penggunaan air Waduk Jatiluhur dan potensi kebisingan dari proyek tersebut.
Dedi Mulyadi menegaskan penghentian itu bukan penolakan terhadap investasi. Proyek disebut bisa berjalan lagi setelah seluruh persyaratan dipenuhi. Namun bagi Didik, kasus tersebut menunjukkan betapa pentingnya kepastian kebijakan. Ia menilai investor akan ragu jika proses perizinan berubah-ubah atau terjadi keputusan sepihak yang membuat iklim usaha tidak stabil.
Dalam pandangan Didik, besarnya minat investasi pusat data di Indonesia seharusnya menjadi modal untuk memperkuat posisi ekonomi digital nasional di Asia Tenggara. Pemerintah sebelumnya menyebut ada rencana penambahan kapasitas data center sekitar 1,3 gigawatt, dengan nilai investasi diperkirakan USD15 miliar hingga USD20 miliar atau setara Rp270 triliun sampai Rp360 triliun. Sejumlah lokasi yang masuk radar pengembangan antara lain Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali.
Batam disebut memiliki nilai strategis tersendiri karena dekat dengan Singapura dan terhubung dengan jaringan ekonomi regional. Didik menilai wilayah itu berpeluang besar menjadi hub data center, apalagi sejumlah investasi infrastruktur digital dan AI juga mengarah ke sana. Meski begitu, ia menekankan bahwa peluang itu baru akan berarti jika pemerintah mampu menjaga kepastian lahan, energi, air, serta koordinasi antarlembaga agar investor merasa aman menanamkan modal dalam jangka panjang.
Didik menutup peringatannya dengan pesan agar Indonesia tidak kehilangan kesempatan kedua. Menurut dia, pengalaman masa lalu sudah cukup menjadi pelajaran bahwa peluang besar dapat menguap bila kebijakan tidak dijaga konsisten. Dalam konteks data center dan AI, ia menilai Indonesia sedang memegang momentum yang tidak datang setiap saat.
Sumber: tangsel.jawapos.com




