Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang–Batang: Korban Tuntut Tanggung Jawab dan Soroti Praktik “Pinjam Bendera”
Sebuah kecelakaan beruntun yang melibatkan beberapa kendaraan di Tol Semarang–Batang pada Minggu (15/3/2026) lalu, menyisakan cerita panjang dan tuntutan dari salah satu korban. I Gede Pasek Suardika, seorang politikus nasional, advokat, dan mantan jurnalis asal Bali, menjadi korban dalam insiden tersebut. Ia kini secara tegas menuntut pertanggungjawaban dari PO Haryanto dan menuding adanya upaya “cuci tangan” dari pihak perusahaan otobus tersebut.
Ketegangan ini bermula ketika pemilik PO Haryanto menyatakan bahwa bus yang terlibat dalam kecelakaan bukanlah milik langsung manajemen pusat, melainkan milik agen yang hanya menggunakan nama dan jaringan PO Haryanto. Pernyataan ini, menurut Pasek, tidak dapat dijadikan alasan untuk lepas tanggung jawab.
Tuntutan Pertanggungjawaban yang Tegas
Bagi Pasek, penggunaan nama, atribut, serta sistem operasional PO Haryanto tetap mengikat tanggung jawab perusahaan di mata publik. Ia menegaskan, “PO Haryanto harus ikut tanggung jawab karena walau mau cuci tangan, terbukti bus tersebut selain pakai nama PO Haryanto juga ada kerja sama di antara pengelola.” Pasek mengungkapkan kekecewaannya terhadap pernyataan yang beredar di media sosial, “Saya menyesalkan upaya cuci tangan seperti yang diungkapkan di medsos oleh pemiliknya.”
Lebih dari sekadar menuntut ganti rugi, Pasek juga mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub), untuk segera menertibkan praktik “pinjam bendera” yang dinilainya sangat berbahaya. Praktik ini, menurutnya, dapat merugikan masyarakat luas. “Praktik pinjam bendera ini membahayakan karena merugikan masyarakat. PO Haryanto harus dimintai tanggung jawab, jangan hanya operatornya,” tegas Pasek.
Ia pun meminta agar sanksi tegas diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam praktik ilegal ini. “Saya minta Kemenhub beri sanksi praktik pinjam bendera secara ilegal, apalagi kemudian dijadikan sarana cuci tangan dan lepas tanggung jawab. Ini urusannya keselamatan dan nyawa orang,” tambahnya.
Profil I Gede Pasek Suardika
I Gede Pasek Suardika bukanlah sosok yang asing di kancah politik dan hukum Indonesia. Ia dikenal sebagai politikus nasional, advokat, dan mantan jurnalis yang berasal dari Bali. Rekam jejaknya mencakup jabatan penting seperti Ketua Komisi III DPR RI dan anggota DPD RI. Sebelum bergabung dengan Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Pasek pernah menjadi bagian dari sejumlah partai politik besar. Ia juga dikenal sebagai figur yang vokal dalam isu-isu hukum dan kebijakan publik, serta aktif menyampaikan pandangannya melalui berbagai platform media sosial.
Kronologi Kecelakaan yang Mengerikan
Kecelakaan beruntun yang nahas ini terjadi pada Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 15.45 WIB di KM 361+600 Jalur A Tol Semarang–Batang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang. Pasek Suardika, bersama putrinya, Putu Devi Narasari, sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Kota Surakarta menggunakan mobil Chery J6 dengan nomor polisi B 1194 BDV.
Menurut keterangan Pasek, mereka baru saja melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit setelah beristirahat di area peristirahatan. Saat itu, kendaraan dikemudikan oleh putrinya, sementara Pasek duduk di kursi penumpang depan. “Dari Jakarta mau ke Solo. Kebetulan di rest area baru berganti pengemudi. Saat itu dikemudikan anak saya dan saya duduk di depan di sebelahnya. Sementara sopir, saya minta istirahat duduk di tengah,” jelasnya.
Memasuki area kejadian, arus lalu lintas dilaporkan mulai melambat. Namun, dari arah belakang, sebuah bus PO Haryanto dengan nomor polisi S 7428 UN melaju dengan kecepatan tinggi dan diduga tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya.
“Jelas busnya ugal-ugalan kalau melihat dari dua dashcam yang ada. Walau mengaku sudah berusaha mengerem, nyatanya di dashcam terlihat kecepatannya tinggi,” ungkap Pasek.
Bus tersebut kemudian menabrak serangkaian kendaraan yang berada di depannya. Diperkirakan, total kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan beruntun ini berjumlah antara lima hingga delapan mobil. Benturan keras dari belakang membuat mobil listrik yang ditumpangi Pasek mengalami kerusakan parah di bagian belakang. Ban kanan kendaraan pecah dan bodi belakang ringsek, sehingga mobil tersebut harus diderek dari lokasi kejadian.
Pasek juga menyoroti perilaku bus pasca tabrakan awal terjadi. “Setelah menabrak mobil saya yang terakhir, sebenarnya bus terhenti karena benturan. Tapi malah setelah itu tetap melaju, sehingga spion kanan mobil juga ditabrak dan terus ngegas. Jarak berhentinya lebih dari 100 meter,” katanya.
Selamat Tanpa Luka Fisik, Namun Mengalami Syok
Meskipun kecelakaan ini tergolong serius dan menyebabkan kerusakan material yang signifikan, Pasek dan keluarganya dilaporkan selamat tanpa mengalami luka fisik. Pasek menyampaikan rasa syukurnya atas keselamatan tersebut melalui media sosial. “Intinya saya, anak, dan sopir dalam keadaan sehat tanpa ada luka sedikit pun. Semua itu atas doa dan perlindungan Tuhan,” tulisnya.
Namun, putrinya dilaporkan sempat mengalami syok akibat kerasnya benturan yang terjadi. Setelah insiden tersebut, Pasek melanjutkan perjalanannya ke Solo dengan bantuan seorang rekan. Sementara itu, putrinya memilih untuk kembali ke Jakarta menggunakan kereta api.


















