Kampung Ulu, Mentok, Bangka Barat: Menyelami Keasrian Perkampungan Tua dengan Atap Genteng Tradisional
Suasana asri dan menenangkan menyelimuti Kampung Ulu, sebuah permukiman tua di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada pagi yang cerah, aliran sungai yang tenang, kicauan burung yang merdu, dan hembusan angin sepoi-sepoi berpadu harmonis dengan hangatnya sinar matahari, menciptakan kedamaian khas perkampungan yang kaya akan sejarah.
Kampung Melayu ini, meskipun tampak lengang di pagi hari, menyimpan pesona yang tak ternilai. Sebagian warga terlihat sibuk di dalam rumah mereka, sementara yang lain telah beranjak memulai aktivitas pekerjaan mereka. Keistimewaan utama Kampung Ulu terletak pada arsitektur rumah panggungnya yang unik. Dindingnya terbuat dari papan kayu dan atapnya dilindungi oleh genteng, sebuah gaya tradisional yang telah dipertahankan dengan setia selama ratusan tahun.
Arsitektur Tradisional yang Menyejukkan
Penggunaan atap genteng pada rumah-rumah di Kampung Ulu bukan sekadar tren, melainkan sebuah solusi cerdas untuk menciptakan interior yang sejuk. Ditambah dengan banyaknya jendela yang terpasang di dinding rumah, sirkulasi udara menjadi sangat baik, menjadikan hunian tetap nyaman bahkan di tengah cuaca tropis. Sejak dahulu, keberadaan industri percetakan genteng di wilayah tersebut menjadi faktor pendorong utama masyarakat untuk memilih material ini sebagai penutup atap rumah mereka.
Ahmad Repilianto, yang akrab disapa Okto, Ketua RW 07 Kampung Ulu, membenarkan hal ini. Saat ditemui di halaman rumahnya, ia menjelaskan bahwa sebagian besar rumah-rumah tua di kampung ini telah berdiri lebih dari satu abad dan masih menggunakan genteng pipih yang ringan. “Sejak awal dibangun, rumah-rumah di sini pakai genteng karena lebih adem,” ujarnya. Namun, ia juga menambahkan bahwa seiring waktu, sebagian genteng lama mulai rusak dan perlu diganti.
Dahulu, hampir seluruh rumah di Kampung Ulu beratap genteng. Namun, seiring perkembangan zaman dan perubahan kondisi ekonomi, sebagian warga kini beralih menggunakan material lain seperti asbes atau seng. Alasan utama peralihan ini adalah harga genteng yang relatif tinggi dan kerapuhan genteng-genteng tua yang mulai termakan usia. Meskipun demikian, semangat untuk mempertahankan tradisi masih terlihat jelas. Masih banyak rumah yang tetap setia menggunakan atap genteng, termasuk rumah almarhum Parhan Ali, mantan Bupati Bangka Barat. Okto memperkirakan sekitar 40 persen warga di Kampung Ulu masih mempertahankan penggunaan genteng sebagai atap rumah mereka.
Genteng yang digunakan di Kampung Ulu ini diproduksi secara lokal. Dulunya, genteng-genteng ini dicetak di pabrik yang berlokasi di Desa Air Belo, namun pabrik tersebut kini sudah tidak beroperasi lagi. Okto menyambut baik wacana program “gentengisasi” yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai program ini dapat menjadi solusi efektif untuk mempertahankan ciri khas arsitektur tradisional Kampung Ulu, sekaligus mewujudkan hunian yang lebih sejuk dan nyaman bagi masyarakat. “Dari segi kenyamanan, genteng tetap pilihan terbaik,” tegasnya.
Jejak Genteng Sejak Abad ke-18
Perjalanan penggunaan genteng di Mentok dan wilayah sekitarnya ternyata memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan sejak abad ke-18. M. Ferhad Irvan, seorang pengamat sejarah Bangka sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat, menjelaskan bahwa pada awalnya, genteng identik dengan bangunan permanen yang kokoh, umumnya berdinding bata. Produksi genteng ini diperkirakan telah berkembang sejak masa Kesultanan Palembang.
Genteng pertama kali diperkenalkan di Pulau Bangka pada sekitar tahun 1769–1770. Penggunaannya tercatat pada bangunan-bangunan seperti Gudang Tempilang, Bunut, Biat, Bendul, dan Rambat, atas perintah Tumenggung Dita Manggala. Ciri khas genteng pada masa itu adalah bentuknya yang tipis menyerupai bambu yang ditangkupkan, sehingga dikenal sebagai genteng bambu. Jejak-jejak bangunan beratap genteng ini masih dapat ditemukan di berbagai lokasi, mulai dari Kota Panji Belinyu, Tempilang, hingga Pangkal Rambat. Bangunan-bangunan tua pada umumnya mengombinasikan dinding beton atau bata dengan atap genteng.
Ketika Mentok menjadi pusat pemerintahan kolonial Inggris, bangunan-bangunan awal di daerah tersebut masih didominasi oleh material kayu. Namun, produksi genteng diduga mulai berkembang pesat di kawasan Ranggam dan Belo Laut. Memasuki era kolonial Belanda, penggunaan bata dan genteng semakin meluas. Hal ini terlihat jelas pada bangunan-bangunan seperti Kantor Syahbandar Mentok dan rumah dinas camat Mentok. Bahkan, warga yang memiliki kekayaan lebih berinisiatif untuk mendirikan pabrik bata sendiri.
Ferhad menambahkan, “Di Kampung Ulu, hampir seluruh rumah lama beratap genteng. Namun penggunaan genteng lokal mulai meredup sejak 1990-an karena masyarakat lebih memilih seng atau asbes, harganya lebih murah dan pemasangannya praktis.” Tantangan yang dihadapi oleh industri genteng lokal di masa kini meliputi menipisnya keterampilan para perajin, tingginya biaya produksi, serta ketersediaan kayu bakar yang semakin terbatas untuk proses pembakaran.
Tersisih di Pasar Modern
Sayangnya, di era pasar modern, istilah genteng pepeh atau genteng laki-bini nyaris tak terdengar lagi di toko-toko material bangunan. Rini, seorang penjaga toko material di Air Itam, Pangkalpinang, mengungkapkan bahwa saat ini toko mereka hanya menyediakan genteng jenis orange yang terbuat dari tanah liat lokal, dengan stok yang terbatas. “Genteng memang lebih mahal, sekarang orang lebih banyak pilih spandek,” ujarnya, merujuk pada material atap yang lebih populer saat ini.
Spandek, yang dijual dengan harga sekitar Rp40.000 per meter, menawarkan keunggulan bobot yang lebih ringan, pemasangan yang cepat, dan efisiensi biaya untuk pembangunan rumah modern. Kondisi serupa juga ditemui di sebuah toko bangunan di kawasan Semabung Lama. Yani, penjaga toko tersebut, menyebutkan bahwa permintaan terhadap genteng tanah liat telah menurun drastis. “Yang mencari genteng sudah jarang, paling untuk bangunan lama atau orang tertentu yang memang lebih suka genteng,” jelasnya.
Fenomena ini terlihat jelas di Pangkalpinang, di mana hampir seluruh rumah baru kini menggunakan spandek. Alasan utamanya adalah kecepatan pemasangan dan penghematan biaya yang ditawarkan oleh material ini.
Meskipun tren modern perlahan menggeser popularitas penggunaan genteng, Kampung Ulu di Mentok, Bangka Barat, tetap menjadi benteng terakhir yang mempertahankan tradisi rumah panggung beratap genteng. Diharapkan, program gentengisasi yang diusulkan dapat menjadi katalisator untuk menghidupkan kembali penggunaan genteng lokal. Hal ini tidak hanya akan menjaga kelestarian ciri khas budaya, tetapi juga mewujudkan hunian yang lebih sejuk dan nyaman di tengah geliat modernisasi yang terus berkembang.














