Dampak Penurunan Permintaan Telur Puyuh di Pasuruan
Permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurun memberikan dampak serius terhadap peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan. Setelah Bulan Ramadan berakhir, permintaan telur puyuh turun drastis hingga membuat banyak peternak mengalami kerugian besar setiap harinya.
Salah satu peternak yang terdampak adalah Mahrus, warga Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi. Ia mengaku bahwa sebagian hasil produksinya harus dibuang karena tidak laku dan mulai membusuk. “Biasanya masih ada dapur MBG yang ambil. Sekarang produksi banyak, sampai menumpuk dan rusak tidak ada yang ambil,” ujarnya.
Mahrus menjelaskan bahwa selama Ramadan, telur puyuh cukup banyak digunakan untuk kebutuhan menu dapur MBG. Namun setelah Lebaran, permintaan hampir berhenti total sehingga pasar menjadi lesu. Produksi telur puyuh tetap berjalan setiap hari, namun biaya operasional terus membengkak, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.
Saat ini, Mahrus mengelola sekitar 30 ribu ekor burung puyuh di kandangnya. Dari usaha tersebut, produksi telur yang dihasilkan mencapai sekitar dua ton per hari, termasuk hasil dari peternak lokal yang ikut ditampung olehnya. Untuk memenuhi kebutuhan ternak, sedikitnya satu ton pakan harus disiapkan setiap hari dengan biaya mencapai sekitar Rp 7,25 juta.
Namun harga jual telur puyuh justru terus mengalami penurunan. Ia menyebut harga pokok produksi berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram. Namun harga jual di pasaran saat ini hanya berkisar Rp 16 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram. “Kalau dihitung ya pasti rugi. Selisihnya bisa sampai Rp 4 ribu per kilo,” katanya.
Dengan jumlah produksi sekitar dua ton per hari, kerugian yang ditanggung diperkirakan mencapai Rp 16 juta per hari. Nilai tersebut belum termasuk biaya tenaga kerja dan operasional lainnya. Untuk mempertahankan usahanya tetap berjalan, Mahrus mengaku terpaksa menjual aset pribadi untuk membeli pakan ternak.
“Kendaraan sudah saya jual. Yang penting ternak tetap hidup dulu,” ucapnya. Mahrus juga menjelaskan bahwa dirinya tidak hanya mengandalkan produksi kandang pribadi. Selama ini ia turut menampung hasil telur dari peternak kecil di wilayah sekitar yang sebagian modal usahanya berasal dari pinjaman bank.
Karena itu, ketika pasar melemah, dampaknya ikut dirasakan peternak lain yang menggantungkan penjualan kepadanya. Meski berada dalam situasi sulit, Mahrus mengaku tidak ingin memonopoli pasokan telur puyuh untuk program MBG. Ia hanya berharap dapur-dapur MBG kembali menyerap hasil peternak lokal agar roda usaha masyarakat tetap berjalan.
“Tidak harus lewat saya. Yang penting peternak lokal tetap bisa hidup,” tegasnya. Ia berharap pemerintah maupun pengelola program MBG dapat kembali memasukkan telur puyuh dalam menu makanan setidaknya satu atau dua kali dalam sepekan agar hasil produksi peternak tetap terserap pasar.
Tantangan Peternak Telur Puyuh di Pasuruan
Peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan menghadapi tantangan besar akibat penurunan permintaan dari program MBG. Hal ini menyebabkan produk mereka menumpuk dan bahkan membusuk. Kerugian yang dialami oleh para peternak sangat besar, dengan estimasi kerugian mencapai hingga Rp16 juta per hari.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan kondisi ini antara lain:
- Penurunan permintaan: Setelah Bulan Ramadan, permintaan dari dapur MBG menurun drastis.
- Biaya operasional tinggi: Biaya pakan ternak dan pengelolaan kandang meningkat, sementara harga jual telur puyuh menurun.
- Ketergantungan pada pasar: Banyak peternak bergantung pada pasar yang tidak stabil, terutama program MBG.
Harapan Peternak
Peternak seperti Mahrus berharap agar program MBG kembali memasukkan telur puyuh dalam menu makanan. Dengan demikian, permintaan akan kembali meningkat dan pasar bisa bergerak kembali. Mereka juga berharap pemerintah atau pengelola program MBG dapat memberikan dukungan lebih kepada peternak lokal.

















