Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang signifikan. Pada Selasa, Juni 2026, pukul 07.55 WIT, gunung berapi yang dikenal sangat aktif ini kembali erupsi, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 1,3 kilometer dari puncak kawahnya. Kejadian ini menambah daftar panjang aktivitas Gunung Dukono yang telah tercatat sejak awal tahun 2026.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Dukono, Bambang Sugiono, memberikan rincian mengenai erupsi terbaru ini. Kepulan abu vulkanik yang teramati berwarna putih hingga kelabu dan bergerak mengarah ke sektor timur. Getaran yang menyertai erupsi ini tercatat memiliki amplitudo maksimum sebesar 34 milimeter. “Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 43.67 detik,” jelas Bambang dalam laporannya kepada Badan Geologi.
Aktivitas Erupsi yang Berkelanjutan
Aktivitas erupsi Gunung Dukono tidak hanya terjadi pada tanggal 2 Juni. Sehari sebelumnya, pada pukul 05.40 WIT, gunung setinggi 1.087 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini juga mengalami erupsi. Pada kejadian tersebut, tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 900 meter di atas puncak kawah.
Secara kumulatif, sejak Januari 2026, Gunung Dukono telah tercatat meletus sebanyak 157 kali. Angka ini menempatkan Gunung Dukono sebagai gunung berapi paling aktif ketiga di Indonesia. Tingginya frekuensi erupsi ini menegaskan statusnya sebagai salah satu gunung api yang paling dinamis di Nusantara.
Status Waspada dan Rekomendasi Keselamatan
Menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Dukono, Badan Geologi telah menetapkan status gunung ini pada Level II atau Waspada. Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, secara tegas meminta agar masyarakat yang berada di sekitar gunung, termasuk para pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer dari kawah. Area yang secara spesifik dilarang untuk aktivitas adalah Kawah Malupang dan Kawah Warirang.
“Kami merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan,” ujar Lana Saria. Imbauan ini sangat penting mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan.
Mengenal Gunung Dukono: Struktur dan Pola Erupsi
Gunung Dukono memiliki karakteristik fisik sebagai statovolcano, yang berarti gunung ini berbentuk kerucut dengan kompleks kawah majemuk. Struktur ini memungkinkan terjadinya berbagai jenis erupsi.
Pola erupsi Gunung Dukono umumnya bertipe Stromboli-Vulkano. Tipe erupsi ini ditandai dengan serangkaian letusan eksplosif yang bervariasi dari skala kecil hingga menengah. Letusan-letusan ini berlangsung secara terus-menerus dan seringkali disertai dengan muntahan abu vulkanik yang menjadi ciri khasnya.
Konteks Geologi: Busur Vulkanik Halmahera
Secara geologis, Gunung Dukono merupakan bagian integral dari busur vulkanik Halmahera. Aktivitas erupsi gunung ini telah berlangsung secara berkelanjutan sejak tahun 1933. Fenomena vulkanik yang aktif di wilayah ini dipicu oleh pergerakan geologis yang kompleks, khususnya pergerakan Lempeng Laut Maluku.
Keberadaan Gunung Dukono dan gunung berapi lainnya di wilayah Halmahera merupakan bukti nyata dari pertemuan tiga lempeng tektonik utama di kawasan tersebut. Lempeng-lempeng tersebut adalah Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Interaksi dinamis antara ketiga lempeng raksasa ini menciptakan zona subduksi dan aktivitas vulkanik yang intens, membentuk rangkaian gunung berapi seperti Gunung Tobaru, Gunung Ibu, Gunung Todoku-ranu, dan Gunung Gamkonora, selain Gunung Dukono sendiri.

















