JEMBER – Kemiskinan ekstrem menjadi isu krusial yang terus menjadi perhatian utama di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Bupati Jember, Muhammad Fawait, secara terbuka mengakui bahwa Jember masih menghadapi tantangan besar dalam menekan angka kemiskinan ekstrem, bahkan menempatkannya sebagai kabupaten dengan angka tertinggi di Jawa Timur.
Berdasarkan data terkini, jumlah penduduk miskin di Jember mencapai 222.254 jiwa atau setara dengan 54.284 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya, yaitu 113.579 jiwa, masuk dalam kategori desil 1, yang berarti mereka tergolong sangat miskin atau miskin ekstrem.
Gus Fawait, sapaan akrab Bupati Jember, memilih untuk tidak menutupi fakta ini. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya transparansi agar penanganan masalah kemiskinan dapat dilakukan secara komprehensif dan tepat sasaran.
“Kami ingin mengentaskan kemiskinan rakyat Jember. Secara absolut, kita nomor dua se-Jawa Timur dalam hal kemiskinan, dan yang tertinggi dalam kemiskinan ekstrem,” ungkap Gus Fawait saat berinteraksi dengan warga dalam program Guse Menyapa di Kecamatan Bangsalsari.
Transparansi Sebagai Langkah Awal
Menurut Gus Fawait, keterbukaan data merupakan fondasi penting untuk memobilisasi seluruh elemen pemerintah daerah, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, agar fokus pada upaya pengentasan kemiskinan. Ia meyakini bahwa dengan mengetahui kondisi riil di lapangan, strategi dan program yang dirancang akan lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kemiskinan Ekstrem dan Permasalahan Kompleks
Gus Fawait menyadari bahwa kemiskinan ekstrem di Jember tidak berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang saling terkait dan memperburuk kondisi tersebut. Data kesehatan menunjukkan bahwa indikator-indikator dasar seperti angka stunting yang tinggi, angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta kasus Tuberkulosis (TBC) masih memerlukan perhatian serius. Ironisnya, permasalahan ini mayoritas terjadi pada kelompok masyarakat miskin ekstrem.
Dengan demikian, upaya pengentasan kemiskinan ekstrem diharapkan dapat memberikan dampak positif pada sektor kesehatan. Penurunan angka kemiskinan diharapkan dapat menekan angka stunting, kematian ibu dan anak, serta prevalensi TBC.
“Saya sudah menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk fokus menurunkan angka kemiskinan,” tegasnya. Gus Fawait menekankan bahwa upaya ini adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi dari seluruh pihak.
Pendekatan Langsung: Menyentuh Akar Rumput
Untuk memastikan bahwa program penanggulangan kemiskinan berjalan efektif dan tepat sasaran, Gus Fawait memilih pendekatan langsung dengan terjun ke lapangan. Melalui program Guse Menyapa dan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desaku), ia secara rutin mengunjungi desa-desa, berinteraksi dengan warga, dan mendengarkan keluhan serta kebutuhan mereka tanpa batasan formalitas.
“Kami turun ke bawah, bertemu masyarakat, bersosialisasi, dan menyerap aspirasi mereka, bahkan di akhir pekan,” jelas Gus Fawait.
Melalui interaksi langsung, pemerintah dapat lebih mudah memetakan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk bantuan kesehatan, intervensi pangan, serta akses pendidikan.
Fokus pada Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
Salah satu fokus utama pemerintah daerah adalah perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga miskin ekstrem. Gus Fawait menjelaskan bahwa kondisi rumah yang lembap dan tidak sehat dapat memicu berbagai penyakit, meningkatkan biaya pengobatan, dan memperburuk kondisi ekonomi keluarga.
“Rumah yang tidak layak huni bagi keluarga miskin ekstrem dapat menyebabkan berbagai masalah, terutama kesehatan,” ujarnya.
Program perbaikan RTLH menjadi bagian integral dari strategi besar penurunan kemiskinan ekstrem, yang berjalan seiring dengan intervensi kesehatan ibu dan anak serta bantuan pangan.
Program Kesehatan Gratis: Universal Health Coverage (UHC)
Pemerintah Kabupaten Jember juga memberikan perhatian serius pada sektor kesehatan dengan meluncurkan program Universal Health Coverage (UHC) yang memberikan layanan kesehatan gratis bagi seluruh warga Jember. Anggaran yang dialokasikan untuk program UHC ini mencapai Rp 366 miliar pada tahun 2025. Bahkan, anggaran tersebut ditingkatkan menjadi Rp 430 miliar pada tahun 2026, yang telah disahkan dalam Perda APBD Jember 2026 pada tanggal 28 November 2025.
Program berobat gratis ini berlaku bagi seluruh warga Jember, di manapun mereka berada, termasuk di luar daerah. “Kami memastikan setiap warga Jember bisa berobat gratis,” tegas Gus Fawait.
Beasiswa untuk Generasi Masa Depan
Selain kesehatan, sektor pendidikan juga menjadi prioritas utama. Gus Fawait mengalokasikan anggaran sebesar Rp 66,4 miliar untuk memberikan beasiswa kepada ribuan mahasiswa Jember melalui program Beasiswa Bupati Jember untuk Generasi Masa Depan (Beasiswa Cinta Bergema).
“Dengan beasiswa ini, mereka memiliki harapan untuk mengubah nasib. Orang tuanya mungkin miskin, tapi anak-anaknya tidak harus miskin,” harapnya.
Membangun Kembali Kejayaan Pertanian Jember
Mayoritas warga miskin ekstrem di Jember tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Data menunjukkan bahwa 83.829 jiwa atau 19.886 kepala keluarga miskin ekstrem tinggal di lahan perhutanan, sementara 22.043 jiwa atau 5.325 kepala keluarga miskin ekstrem tinggal di lahan pertanian.
Oleh karena itu, Gus Fawait menilai bahwa peningkatan kesejahteraan petani sangat penting untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Ia berupaya mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat untuk optimalisasi lahan, peningkatan irigasi, serta perbaikan infrastruktur pertanian yang selama bertahun-tahun terabaikan.
“Jember pernah menjadi salah satu lumbung pangan di Jawa Timur, tetapi saat ini kita melorot ke urutan empat karena infrastruktur pertanian yang tidak memadai,” jelasnya.
Melalui peningkatan infrastruktur pertanian, Gus Fawait berharap Jember dapat kembali memasuki era kejayaan pertanian seperti yang pernah dirasakan di masa lampau.
Dengan keterbukaan data sebagai landasan, kerja lapangan yang intensif, serta fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, Pemerintah Kabupaten Jember optimis dapat mewujudkan perubahan yang signifikan dalam kualitas hidup warganya. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang memberdayakan manusia, membuka peluang bagi generasi Jember untuk tumbuh lebih sehat, lebih terdidik, dan lebih berdaya.

















