🔥 TERKINI

IHSG Tertekan: Sentimen Penekan Hari Ini

Rizki Oleh: Rizki
4 dilihat
Minggu, 15 Maret 2026 - 13:46 WIB • Waktu baca: 3 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

IHSG Tertekan Ketidakpastian Global, Dolar AS Menguat

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi tekanan pada awal pekan ini. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi ketegangan ini telah mendorong para pelaku pasar global untuk memburu aset safe haven atau aset aman.

Perburuan aset aman ini secara langsung turut mendongkrak indeks dolar Amerika Serikat. Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap aset aman pasca pecahnya konflik.

Selain itu, Amerika Serikat dinilai berada dalam posisi yang relatif lebih diuntungkan dari potensi kenaikan harga energi. Hal ini mengingat AS merupakan salah satu eksportir minyak dan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Namun, di sisi lain, kondisi ekonomi domestik AS juga menunjukkan sinyal perlambatan. Data tenaga kerja terbaru yang dirilis memperlihatkan penambahan jumlah nonfarm payrolls jauh di bawah ekspektasi pasar.

“Pasar tenaga kerja AS terlihat melemah dengan data nonfarm payrolls yang justru berkurang jauh di bawah perkiraan. Konflik ini juga berpotensi mendorong inflasi di AS akan naik akibat dampak perang,” ujar Hans.

Dengan kondisi ini, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan moneter yang dijadwalkan pada 18 Maret mendatang. Peluang pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diprediksi akan terjadi lebih awal kini bergeser. Potensi pemangkasan suku bunga diperkirakan baru akan terjadi pada bulan September atau Oktober 2026.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan cenderung mempertahankan suku bunga acuannya sepanjang tahun ini. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ECB justru akan menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi di kawasan Eropa terus bertahan tinggi.

Dampak Konflik Iran Terhadap Ekonomi Global dan Domestik

Hans Kwee menguraikan bahwa kawasan Uni Eropa dan Asia berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak dari konflik Iran. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan kedua kawasan tersebut terhadap impor minyak dan LNG. Terlebih lagi, sebagian besar pasokan tersebut melewati jalur strategis Selat Hormuz.

Jika konflik ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, harga energi global berpotensi melonjak tajam. Hans memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus level di atas US$100 per barel. Dalam skenario yang lebih ekstrem, harga minyak bahkan dapat mencapai US$120 hingga US$150 per barel. Sementara itu, harga LNG juga berpotensi mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai US$25 per MMBtu.

Kondisi ini tentu saja akan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda berpotensi mengalami pelemahan yang lebih lanjut akibat penguatan dolar AS selama periode konflik berlangsung.

Dari sisi pasar saham domestik, Hans menilai IHSG berpeluang untuk bergerak dalam fase konsolidasi, dengan kecenderungan yang mengarah pada pelemahan. Arah pergerakan pasar secara keseluruhan akan sangat bergantung pada munculnya indikasi kapan konflik global tersebut akan mereda atau bahkan berakhir.

Secara teknikal, IHSG pada hari Senin diperkirakan akan memiliki area support atau batas bawah yang kuat pada kisaran 7.481 hingga 7.000. Sementara itu, area resistance atau batas atas pergerakan harga diperkirakan berada di rentang 7.700 hingga 8.098. Para investor dan pelaku pasar diharapkan untuk mencermati perkembangan situasi global dan domestik guna mengambil keputusan investasi yang tepat.

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →