Infrastruktur listrik Sumatra pulih 99,9 persen pasca-bencana

Diposting pada

Kelistrikan di Tiga Provinsi Terdampak Bencana Sudah Pulih Hampir Sepenuhnya

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) telah memastikan layanan kelistrikan di tiga provinsi yang terdampak bencana hidrometeorologi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kembali pulih hampir sepenuhnya. Hal ini menjadi langkah penting dalam mendukung kehidupan masyarakat sekaligus percepatan pemulihan ekonomi di daerah tersebut.

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan bahwa listrik merupakan infrastruktur yang sangat krusial. Ia menjelaskan bahwa 99,90 persen dari wilayah yang terdampak sudah kembali beroperasi. Meskipun ada beberapa daerah terisolir yang masih kesulitan mengakses jaringan listrik akibat longsoran jalan, warga tetap diberikan genset sebagai solusi sementara. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri ESDM dan PLN atas kerja sama yang baik dalam mempercepat pemulihan.

Kondisi Kelistrikan di Aceh dan Sumatra Barat

Berdasarkan data dari Satgas PRR Pascabencana Sumatra pada 6 April 2026, kondisi kelistrikan di Provinsi Aceh dan Sumatra Barat saat ini telah menyala 100 persen. Ini menunjukkan keberhasilan koordinasi lintas sektor dalam mempercepat pemulihan infrastruktur dasar.

Di sisi lain, di Sumatra Utara, proses pemulihan masih terus dilakukan meskipun ada tantangan di beberapa wilayah. Sebanyak 54 pelanggan di dua desa, yakni Desa Siantar Naipospos dan Desa Pardomuan Nauli, masih belum teraliri jaringan listrik secara penuh karena akses yang terganggu oleh bencana. Namun, kebutuhan listrik masyarakat tetap terpenuhi melalui dukungan genset portable dari PLN.

Upaya rehabilitasi jaringan listrik di wilayah tersebut terus berjalan. Pembangunan jaringan tegangan menengah sepanjang 17,5 kilometer dan pemasangan empat trafo dengan kapasitas masing-masing 50 kVA kini telah mencapai progres 77,82 persen atau sepanjang 13,62 kilometer. Pekerjaan ini kembali dikebut setelah momen Lebaran 2026.

Respons Cepat Terhadap Gangguan Listrik Akibat Bencana Susulan

Di sisi lain, Satgas PRR juga sigap merespons gangguan akibat bencana susulan. Banjir yang terjadi pada 19 Maret 2026 sempat menyebabkan pemadaman di wilayah Tapanuli Utara dengan terdampaknya empat gardu listrik dan 54 pelanggan. Namun, penanganan cepat di lapangan memastikan dampak dapat diminimalkan.

Pemulihan sektor ketenagalistrikan ini menjadi fondasi penting dalam mendorong aktivitas masyarakat kembali normal. Dengan listrik yang kembali menyala, layanan publik, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat terdampak dapat berjalan lebih optimal.

Komitmen Satgas PRR dalam Mempercepat Pemulihan Infrastruktur

Satgas PRR menegaskan akan terus mengawal percepatan pemulihan infrastruktur, termasuk kelistrikan, hingga seluruh wilayah terdampak benar-benar pulih. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta BUMN seperti PLN menjadi kunci utama dalam memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses pemulihan pascabencana.

Beberapa upaya lain yang dilakukan oleh Satgas PRR meliputi normalisasi sungai yang terdampak bencana dan pengiriman bantuan ke wilayah-wilayah yang terisolir. Salah satunya adalah Aceh Tamiang yang selama 5 bulan terisolir, dan kini kembali menerima bantuan dari Satgas PRR.

Gambar Gravatar
Hidayat merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan