Perdana Menteri Inggris Andy Burnham pada Rabu, 30 September 2026, menyebut ada dugaan keterlibatan Iran dalam insiden di Pangkalan Udara Fairford, Inggris. Kasus ini berkaitan dengan lima orang yang diduga menanam bom di dekat fasilitas militer tersebut. Di saat penyelidikan masih berlangsung, pemerintah Inggris juga menghadapi hubungan yang kian tegang dengan Teheran dalam beberapa bulan terakhir.
Burnham mengatakan para terduga pelaku memang sempat dibebaskan, tetapi status itu disertai syarat yang sangat ketat. Ia menegaskan pembebasan tersebut bukan berarti mereka bebas tanpa pengawasan. Menurutnya, publik perlu memahami bahwa keputusan itu diambil dalam kerangka pembatasan yang tidak longgar. Meski belum ada kesimpulan final, ia menyampaikan keyakinan bahwa ada pihak asing yang mungkin berada di balik aksi tersebut, termasuk kemungkinan Iran.
Insiden di Fairford masih ditangani kepolisian Inggris. Dalam tahap awal pemeriksaan, aparat tidak menemukan bahan peledak di area pangkalan RAF itu. Karena itulah, keputusan untuk membebaskan para terduga pelaku diambil berdasarkan hasil evaluasi awal. Kepala Polisi Anti-Teroris Inggris, Laurence Taylor, menjelaskan bahwa pertimbangan tersebut lahir dari kehati-hatian dan pengalaman penanganan kasus serupa, bukan dari asumsi semata.
“Saya paham kenapa perkembangan ini mengejutkan banyak pihak, tapi saya mengingatkan bahwa keputusan ini dari hasil investigasi dan didasarkan pada pengalaman, serta kehati-hatian,” ujarnya, seperti dikutip dari TVP World. Pernyataan itu menegaskan bahwa proses hukum dan keamanan masih berjalan, sementara otoritas belum mengumumkan temuan yang mengarah pada kesimpulan akhir.
Di sisi lain, ketegangan antara London dan Teheran sudah meningkat sejak sebelumnya. Pada Juli, Inggris menarik seluruh staf diplomatiknya dari Iran setelah situasi keamanan di kawasan Timur Tengah memburuk. Langkah itu menunjukkan hubungan kedua negara sedang berada pada titik sensitif, terutama di tengah rangkaian konflik dan kekhawatiran keamanan regional yang belum mereda.
Sejumlah pejabat Inggris belakangan juga menolak segala bentuk tekanan dari Iran. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband pekan lalu menegaskan negaranya tidak akan menerima intimidasi atau ancaman, termasuk dari kelompok yang berafiliasi dengan Iran di wilayah Inggris. Ia juga mendesak Teheran memilih jalur deeskalasi dan kembali ke proses diplomasi untuk mengakhiri perang, sembari menekankan pentingnya pemulihan kebebasan navigasi serta pembukaan Selat Hormuz.
Sumber: www.idntimes.com




