Oleh: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri
CO.ID, JAKARTA – Nuzulul Quran bukan sekadar peringatan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Ia momentum lahirnya peradaban berbasis ilmu. Wahyu pertama, Iqra, bacalah menjadi pesan fundamental bahwa perubahan selalu dimulai dari membaca.
Pertanyaannya, apakah semangat itu masih hidup di kampus hari ini? Sebagai pustakawan di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat tantangan literasi di era digital jauh lebih kompleks.
Membaca tidak lagi terbatas pada lembaran buku. Mahasiswa kini berhadapan dengan banjir informasi: artikel daring, jurnal elektronik, data statistik, tren industri, hingga konten media sosial.
Namun membaca di era digital bukan soal kuantitas informasi, melainkan kualitas pemahaman. Mahasiswa harus mampu membaca data, menafsirkan angka, memilah informasi yang valid, serta mengubah pengetahuan menjadi solusi kreatif.
Literasi bukan hanya kemampuan teknis, juga kecakapan berpikir kritis. Di dunia bisnis digital yang dinamis dan kompetitif, kemampuan inilah yang menjadi pembeda. Perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem tersebut.
Kami tidak lagi sekadar menyediakan rak buku. Perpustakaan hadir melalui koleksi cetak dan digital, akses e-journal bereputasi, repository karya ilmiah, hingga layanan literasi informasi yang membimbing mahasiswa memahami cara menelusur, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber pengetahuan secara tepat.
Perpustakaan adalah ruang bertumbuhnya gagasan. Momentum Nuzulul Quran seharusnya menjadi refleksi bersama bagi seluruh sivitas akademika. Apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban akademik? Apakah riset dan inovasi benar-benar tumbuh dari tradisi literasi yang kuat?
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM menempatkan literasi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama dalam membentuk lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tanpa budaya membaca yang kuat, transformasi digital hanya akan menjadi slogan.
Semangat Iqra hari ini berarti membaca lebih luas dan lebih dalam: membaca perubahan, membaca peluang, dan membaca tantangan masa depan. Sebab, pada akhirnya, kampus besar tak hanya punya teknologi canggih, juga tradisi intelektual yang hidup.
Tantangan Literasi di Era Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, tantangan literasi semakin kompleks. Mahasiswa kini dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang tidak hanya berasal dari buku atau jurnal, tetapi juga dari media sosial, situs web, dan platform digital lainnya. Hal ini memunculkan tantangan baru dalam mengelola dan memahami informasi yang begitu banyak dan beragam.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi tantangan ini antara lain:
Kemampuan memilah informasi yang valid dan tidak valid
Keterampilan dalam mengevaluasi sumber informasi secara kritis
* Pemahaman akan pentingnya literasi digital dalam pengambilan keputusan
Peran Perpustakaan dalam Membangun Budaya Literasi
Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi menjadi pusat pembelajaran yang mendukung perkembangan intelektual. Di UNM, perpustakaan berupaya memberikan akses yang mudah dan terpercaya terhadap berbagai sumber informasi. Beberapa layanan yang tersedia antara lain:
Akses ke e-journal yang bereputasi
Repository karya ilmiah mahasiswa
* Layanan literasi informasi untuk membantu mahasiswa dalam mencari dan memahami sumber pengetahuan
Selain itu, perpustakaan juga menjadi tempat untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas. Dengan adanya program literasi yang terstruktur, mahasiswa dapat belajar bagaimana memproses informasi dan menghasilkan solusi yang inovatif.
Refleksi Bersama dalam Momentum Nuzulul Quran
Momentum Nuzulul Quran menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam wahyu pertama, yaitu Iqra. Semangat membaca tidak hanya berlaku dalam konteks akademik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan tinggi, apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai bagian dari budaya yang kuat? Apakah riset dan inovasi benar-benar tumbuh dari tradisi literasi yang solid? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi dasar untuk evaluasi diri dan perbaikan ke depan.
Membaca sebagai Fondasi Transformasi Digital
Transformasi digital di kampus tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh budaya membaca yang kuat. Dalam dunia bisnis digital yang dinamis, kemampuan untuk membaca, memahami, dan mengambil manfaat dari informasi sangat penting.
Semangat Iqra hari ini mengajarkan bahwa membaca adalah awal dari segala perubahan. Dengan membaca, kita bisa melihat peluang, memahami tantangan, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Dengan demikian, kampus besar tidak hanya dikenal karena teknologi yang canggih, tetapi juga karena tradisi intelektual yang hidup dan berkembang. Membaca adalah kunci untuk mencapai hal tersebut.


















