Pembicaraan kritis antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah dimulai di Islamabad, Pakistan. Pertemuan ini menandai langkah penting dalam upaya menciptakan solusi perdamaian setelah konflik berdarah yang memengaruhi pasar energi global. Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf tiba di Islamabad pada Jumat (10/4/2026), dengan harapan menghasilkan kesepakatan yang lebih stabil.
Delegasi Iran Tiba di Islamabad
Delegasi Iran yang terdiri dari pejabat senior politik, militer, dan ekonomi tiba di Islamabad untuk menjalani pembicaraan perdamaian dengan AS. Mereka termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi Ali Akbar Ahmadian, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, serta mantan komandan IRGC Mohammad Bagher Zolghadr. Dalam pernyataannya, delegasi Iran menyatakan harapan bahwa semua pihak akan terlibat secara konstruktif dalam diskusi tersebut.
Negosiasi hanya akan dilanjutkan jika Washington menerima “prasyarat” Teheran. Isu-isu seperti keamanan regional dan pembatasan ekonomi menjadi fokus utama negosiasi. Ini menunjukkan sikap tegas Iran meskipun mereka siap berdialog.
Latar Belakang Perang dan Gencatan Senjata
Perang Iran bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel menyerang Teheran, merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta menghantam infrastruktur militer dan nuklir Iran. Total korban jiwa lebih dari 2.000 orang dalam lima pekan. Sebagai balasan, Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan ini memicu lonjakan harga energi dan gangguan perdagangan global.
Pada 8 April, kedua pihak menyepakati gencatan senjata dua minggu melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata akan berakhir pada 22 April. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan, pembicaraan dapat berlangsung hingga 15 hari.
Peran Tak Terduga Pakistan
Pakistan tampil sebagai mediator utama dalam konflik ini. Peran tersebut dinilai tak biasa mengingat citra internasionalnya yang kerap dikaitkan dengan isu keamanan dan ekonomi. Negara ini memiliki keunggulan diplomatik yang luas. Iran merupakan negara pertama yang mengakui Pakistan setelah kemerdekaannya pada 1947. Kedua negara juga berbagi perbatasan sepanjang 900 kilometer serta hubungan historis, budaya, dan keagamaan yang erat.
Selain itu, Pakistan memiliki lebih dari 20 juta Muslim Syiah, populasi terbesar kedua di dunia setelah Iran. Di sisi lain, Islamabad juga memiliki hubungan kuat dengan AS, Arab Saudi, dan China. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar bahkan sempat mengunjungi Beijing pada akhir Maret. China disebut turut mendukung upaya mediasi tersebut.
Tuntutan Iran dan Perspektif AS
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengatakan, gencatan senjata apa pun harus mencakup serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon dan mencakup pembebasan aset Iran yang dibekukan di bawah sanksi. Masih belum jelas apakah tuntutan tersebut dapat menggagalkan pembicaraan hari Sabtu, yang dijadwalkan menjadi pertemuan tingkat tertinggi AS-Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Trump, presiden AS, menuduh Iran melakukan “pekerjaan yang sangat buruk” dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengenakan tol untuk kapal yang melewati Selat Hormuz. Trump menyatakan bahwa “dengan sangat cepat, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran.”
Perkembangan Terkini di Wilayah Timur Tengah
Di sisi lain, Israel memperingatkan penduduk pinggiran selatan Beirut untuk mengevakuasi diri. Ini terkait serangan yang akan segera terjadi lagi, di tengah pembicaraan gencatan senjata AS-Iran. WHO juga mengkritik Israel atas serangan ke Lebanon dan perintah evakuasi. Sementara itu, Netanyahu memerintahkan kabinetnya untuk membuka pembicaraan langsung dengan Lebanon, sebuah langkah yang dianggap mengejutkan.
Pembicaraan kritis antara Iran dan AS di Islamabad menjadi momen penting dalam upaya menciptakan perdamaian di kawasan. Meski masih ada ketidakpastian, para pihak berharap bisa mencapai kesepakatan yang berkelanjutan.
Penulis : wafaul
















