Iran melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah Washington memperluas sanksi yang menekan sektor penerbangan Teheran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menilai Trump kini berada dalam situasi serba sulit karena tidak punya jalan yang mulus: melanjutkan tekanan militer atau kembali membuka pembicaraan dengan Iran. Pernyataan itu muncul di tengah langkah AS yang membatasi aktivitas 27 maskapai Iran melalui operasi bernama Operation Economic Outcast.
Rezaei menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk kegagalan Washington dalam menghadapi Iran secara langsung. Menurut dia, ketika kekuatan militer tidak membuahkan hasil, AS beralih ke cara lain dengan menekan jalur udara Iran. Ia bahkan menggambarkan Trump berada “dalam rawa”, sebuah sindiran yang menegaskan bahwa kebijakan Amerika terhadap Teheran, menurut pandangannya, justru memperlihatkan kebuntuan.
Langkah sanksi itu sendiri diumumkan Departemen Keuangan AS dengan tuduhan bahwa sektor penerbangan Iran dipakai untuk memindahkan senjata, personel, dan kargo yang dikaitkan dengan aktivitas ilegal. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh maskapai Iran, tetapi juga merembet ke kawasan. Sejumlah negara di Timur Tengah ikut memperketat kebijakan penerbangan mereka, dan Uni Emirat Arab disebut sudah menghentikan penerbangan Iran ke serta dari bandaranya setelah sanksi diberlakukan.
Dalam penjelasannya, Rezaei juga menegaskan bahwa Washington menurutnya tidak sanggup menjalankan perang secara efektif, namun di saat yang sama belum mampu mencapai kesepakatan melalui diplomasi. Ia mengingatkan bahwa sejarah kawasan telah berkali-kali menyaksikan masuk dan keluarnya kekuatan asing, tetapi Iran tetap bertahan. Pesan itu sekaligus menjadi peringatan agar pihak luar tidak meremehkan daya tahan Teheran.
Ketegangan ini terjadi saat komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS masih berlangsung lewat mediator. Qatar dan Pakistan disebut menjadi penghubung pesan antara kedua negara yang masih berselisih soal syarat untuk kembali ke meja perundingan. Iran sebelumnya mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk penghentian perang, pencairan aset yang dibekukan, dan berakhirnya blokade angkatan laut AS. Teheran juga mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan terpenuhinya syarat-syarat itu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menyinggung tekanan Washington terhadap sektor penerbangan negaranya. Ia mengatakan Trump membuat ancaman dan mengeluarkan perintah dari tempat yang jauh, lalu sejumlah negara mengikuti kebijakan itu. Pezeshkian menegaskan Iran akan berupaya menggagalkan langkah yang dinilainya bertujuan memecah belah dalam negeri, sekaligus menjaga hubungan dengan negara-negara sahabat dan tetangganya. Rezaei sebelumnya juga memperingatkan negara-negara regional agar tidak ikut membatasi penerbangan Iran, karena Teheran bisa mengambil langkah balasan terhadap pihak yang menutup akses tersebut.
Sumber: style.tribunnews.com




