
Harga minyak mengalami kenaikan signifikan, melebihi USD 100 per barel pada hari Senin (13/4), seiring dengan persiapan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) untuk melakukan blokade di Selat Hormuz. Hal ini terjadi setelah negosiasi antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Menurut laporan dari Reuters, kontrak berjangka minyak Brent naik sebesar USD 7,11 atau 7,47 persen menjadi USD 102,31 per barel pada pukul 22.04 GMT. Sebelumnya, harga minyak sempat turun 0,75 persen pada Jumat (10/4). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mencapai level USD 104,43 per barel, meningkat sebesar USD 7,86 atau 8,14 persen. Ini terjadi setelah sebelumnya mengalami penurunan sebesar 1,33 persen dalam sesi sebelumnya.
Saul Kavonic, kepala riset energi dari MST Marquee, menyatakan bahwa pasar kini kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, tetapi dengan tekanan tambahan. Pasalnya, AS berencana untuk memblokir aliran minyak sekitar 2 juta barel per hari melalui Selat Hormuz, yang terkait dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu (12/4) mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan segera melakukan blokade di Selat Hormuz. Hal ini meningkatkan ketegangan setelah perundingan panjang dengan Iran tidak berhasil mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Trump juga mengungkapkan bahwa harga minyak dan bensin bisa tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November, akibat keputusan menyerang Iran enam pekan lalu.
Komando Pusat AS kemudian menyatakan bahwa pasukannya akan mulai menerapkan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 waktu setempat pada hari Senin (13/4).
Brian Martin dan Daniel Hynes dari ANZ mengatakan bahwa langkah ini tidak hanya membatasi ekspor minyak dari produsen di Teluk Persia, tetapi juga menghambat kemampuan Iran untuk mengekspor minyak. Hal ini memperparah gangguan pasokan di pasar. Sementara itu, Tony Sycamore dari IG menyatakan bahwa langkah ini secara efektif akan menghambat aliran minyak Iran dan memaksa sekutu serta pelanggan Teheran untuk menekan agar jalur pelayaran tersebut kembali dibuka.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memberi peringatan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak tegas.
Meski situasi masih buntu, data pelayaran menunjukkan bahwa tiga kapal tanker super bermuatan penuh minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada hari Sabtu (11/4). Ini adalah kapal pertama yang keluar dari kawasan Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata pekan lalu. Namun, pada hari Senin (13/4), tidak ada kapal lain yang terpantau melintas, kecuali satu kapal berbendera Iran yang masih berlabuh di wilayah tersebut, berdasarkan data dari LSEG.
Sementara itu, Arab Saudi pada hari Minggu (12/4) menyatakan bahwa kapasitas penuh penyaluran minyak melalui pipa East-West telah pulih hingga sekitar 7 juta barel per hari. Ini terjadi beberapa hari setelah mereka melakukan evaluasi kerusakan pada sektor energinya akibat serangan selama perang Iran.



















